Kain Tenun Sambas, Dibuat dari Benang Emas Sejak 300 Tahun Lalu

Adinda Permatasari, Ngadri (Kalimantan Barat)
·Bacaan 1 menit

VIVA – Kain Tenun Sambas adalah kerajinan tangan khas warga Sambas, Kalimantan Barat, yang biasa disebut Kain Lungi atau Kain Emas. Kain Emas merupakan kerajinan tangan masyarakat Sambas yang ada sejak tahun 1675. Kenapa disebut Kain Emas, karena dalam membuatnya memang menggunakan benang emas.

Wakil Bupati Kabupaten Sambas, Hairiah menuturkan, kain tenun Lingu merupakan khas warga Sambas yang sudah ada sekitar 300 tahun yang lalu. Kain tenun banyak memiliki motif, yang jumlahnya hingga mencapai ratusan motif. Namun, dari sejumlah motif yang ada motif corak emas yang banyak disukai oleh para pembeli.

"Harga kain tenun ini juga bervariasi, ada yang Rp1,5 juta, Rp1,8 juta, Rp2,5 juta, hingga Rp3,5 juta untuk satu helai," ujar Hairiah kepada VIVA, Jumat, 9 April 2021.

Ia mengatakan, sejak tahun 1675 kain tenun tersebut dahulu digunakan sebagai pelengkap untuk melaksanakan ritual adat, yang salah satunya dalam ritual adat pernikahan. Kemudian, konon kain tenun ini dibuat oleh para wanita di zaman Kesultanan Sulaiman.

"Sampai saat ini tradisi kain tenun di Kabupaten Sambas masih terus di lanjutkan oleh para wanita dan pria di sebuah desa seberang melalui proses pembuatan dengan sebutan menenun. Proses menenun dilakukan pada benang lungsing melintang,"ujarnya.

Lanjut Hairiah, proses membuat kain tenun bisa memakan waktu hingga 2,5 bulan untuk satu helainya. Kain tenun memiliki banyak motif, antara lain motif tepuk dada,awan larat, pucuk rebung, tahi lalat, bunga melur, bunga cengkeh, biji Periak dan masih banyak lagi yang lainya.

"Saya mengimbau kepada warga Sambas untuk terus menjaga dan melestarikan kain tradisi khas yang sudah ada secara turun temurun ini," tuturnya.