Kajian Sebut Selama Pandemi Masyarakat Cuci Tangan Lebih dari 10 Kali

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVAPandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret 2020 di tanah air mengubah kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah konsumsi air bersih untuk menjaga personal hygine seseorang.

Mencuci tangan diketahui menjadi salah satu untuk menekan jumlah pertambahan COVID-19. Akses air bersih sendiri menjadi penting untuk diterapkannya anjuran mencuci tangan dan mengurangi risiko penyebaran.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan, diketahui terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi air bersih selama pandemi COVID-19.

Indonesia Water Institute (IWI) telah melakukan kajian awal terhadap 1.296 responden yang tersebar di seluruh tanah air pada 15 Oktober 2020 hingga 12 November 2020 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas mencuci tangan dan mandi selama pandemi COVID-19.

Pendiri dan Pimpinan IWI, Firdaus Ali, memaparkan bahwa sebanyak 67 persen responden melakukan peningkatan aktivitas mencuci tangan menjadi 10 kali sehari atau 5 kali lipat dari kondisi normal.

"Dilihat aktivitas cuci tangan selama pandemi sebelum pandemi cuci tangan kurang 5 kali sehari, begitu pandemi mencuci tangan lebih dari 5 sampai 10 kali atau 67 persen, ada mencuci lebih dari 10 kali, 82 persen," kata dia, Kamis 11 Februari 2021.

Selain itu diketahui juga terjadi peningkatan terhadap kegiatan membersihkan diri yakni mandi selama pandemi. 65 persen responden melakukan peningkatan aktivitas mandi menjadi lebih dari 3 kali sehari atau tiga kali lipat dari kondisi normal.

"Aktivitas mandi dulu 2 kali sehari, pandemi 3 kali ada yang 5-6 kali ini bisa terjadi karena ketakutan yang terbangun, dari pemberitaan media," ujar dia lebih lanjut.

Dari data itu juga diketahui terjadi peningkatan tingkat konsumsi air di rumah tangga. Misalnya saja untuk mandi penggunaan air sebelum pandemi dari riset IWI pada 2013 menunjukkan 50-70 liter per hari, namun pada masa pandemi COVID-19 meningkat menjadi 150 hingga 210 liter per hari.

Untuk cuci tangan sendiri, jika sebelum pandemi penggunaan rata-rata harian sebesar 4 sampai 5 liter per hari, di masa pandemi penggunaan rata-rata harian mencapai 20-25 liter per hari.

Selain itu juga, Firdaus menjelaskan bahwa selama pandemi menunjukan 65 persen pengguna air tanah dalam kondisi pandemi beralih menggunakan air minum dalam kemasan (AMDK) dan air perpipaan sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

"Transisi air tanah ke AMDK. karena akses lebih gampang dulu AMDK gaya hidup sekarang kebutuhan. Sumber air minum menggunakan air minum kemasan 88 persen responden sisanya campuran botol, meningkat signifikan," ujar Firdaus.