"Kalau Perlu Kami akan Bertahan di Sini Bertahun-Tahun, Sampai Presiden Turun"

Merdeka.com - Merdeka.com - Rakyat Sri Lanka terbangun pada Rabu (13/7) pagi disambut kabar bahwa presiden mereka, Gotabaya Rajapaksa telah melarikan diri ke Maladewa. Gotabaya kabur bersama istrinya, Ioma Rajapaksa dan dua ajudan menggunakan pesawat militer pada Rabu dini hari.

Seharusnya Gotabaya mengundurkan diri sebagai presiden pada Rabu, sebagaimana yang dia rencanakan sebelumnya. Suasana Rabu pagi di Sri Lanka setelah presiden kabur sebagian merasa lega, tapi sebagian juga geram.

"Benar-benar pengecut," kata Sineth Hindle (27).

"Gotabaya memenuhi kantongnya dengan uang kami, membuat negara bangkrut, lalu kabur. Dia harus bertanggung jawab," lanjutnya, dikutip dari The Guardian, Kamis (14/7).

Di jalan-jalan ibu kota Kolombo, di mana ribuan orang berkumpul menyerukan presiden dan perdana menteri mengundurkan diri, frustrasi meningkat seiring berjalannya hari.

"Kami akan di sini sepanjang malam: selama berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, jika harus, untuk memastikan presiden Rajapaksa turun," kata Nilakshika Chamanthi (32) yang duduk di rumput di luar istana presiden.

Sebagai pramugari maskapai penerbangan Sri Lanka, Nilakshika mengatakan telah melihat selama bertahun-tahun privilese keluarga Rajapaksa; pertama Mahinda, yang menjadi presiden antara 2005 dan 2015, dan kemudian Gotabaya yang terpilih pada 2019.

Nilakshika mengatakan keluarga Rajapaksa memiliki dua pesawat pribadi yang tetap standby.

"Mereka selalu membuang-buang duit negara ini untuk diri mereka sendiri, tanpa peduli orang lain. Saya memilihnya tapi sekarang saya lihat dia bukan siapa-siapa kecuali seorang pencuri yang menjerumuskan negara ini ke dalam jurang tergelap."

Gotabaya yang menjabat presiden sejak November 2019, bersama dinasti keluarganya yang kuat, dituding salah mengelola perekonomian, mengeluarkan kebijakan ultranasionalis yang memecah bangsa berdasarkan etnis, dan korupsi meluas sehingga membuat negara kepulauan yang pernah sejahtera itu bangkrut.

Bahan bakar minyak (BBM) langka. Sopir bajaj mengantre selama berhari-hari untuk mendapatkan bensin. Rak-rak supermarket kosong. Kelaparan mengancam warga. Pada malam Gotabaya melarikan diri ke Maladewa, di mana dia menginap di resor mewah bintang lima, harga roti naik 20 rupee, sehingga tidak bisa dijangkau sebagian besar warga.

Kelangkaan BBM dan makanan yang pertama kali mendorong warga turun ke jalan untuk berunjuk rasa pada April. Tapi perlahan terbentuk gerakan rakyat yang disebut Aragalaya, menuntut perubahan sistem politik dan sosial yang telah sejak lama retak karena etnis.

Demi cinta untuk negara

untuk negara
untuk negara.jpg

Pada Rabu, kemarahan warga semakin memuncak ketika Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremesinghe ditunjuk Gotabaya sebagai penjabat presiden. Wickremesinghe yang sebelumnya lima kali menjabat sebagai PM, dituding menjadi pelindung keluarga Rajapaksa.

Pada Rabu sore, massa di Kolombo menuju kantor PM memprotes penunjukannya sebagai penjabat presiden. Rakyat tidak terima keputusan Gotabaya yang dibuat sebelum melarikan diri tersebut, walaupun Wickremesinghe mengisi kekosongan jabatan itu hanya sementara.

Di depan kantor PM, massa dihadap polisi dan militer, yang mulai menembakkan meriam air dan gas air mata. Massa tak gentar. Mereka tetap bertahan dan dalam hitungan jam, mereka berhasil menerobos ke dalam kantor PM.

"Ranil seorang penipu, itulah mengapa kami datang ke sini dan mengambil alih kantornya," kata Shaskika Sylvester (33).

"Ada banyak gas air mata, meriam air, banyak polisi dan militer, tapi kami berhasil mengatasi semuanya. Kami berdiri di sini untuk mengirim pesan bahwa kami tidak akan berhenti berjuang demi hak-hak kami dan kemerdekaan kami dari para pemimpin korup."

Massa juga berkumpul di luar gedung parlemen Sri Lanka, di mana para pengunjuk rasa dihadapkan dengan rentetan tembakan gas air mata polisi. Tetapi di dalam istana presiden, di mana Gotabaya tinggal sebelum dia melarikan diri, situasinya tenang.

Massa berhasil menerobos istana presiden pada Sabtu lalu. Masyarakat juga masih berdatangan untuk melihat langsung apa yang ada di dalam istana. Tampak empat orang biarawati mengantre dengan sabar untuk melihat kolam renang di dalam istana. Para biarawati ini termasuk kelompok agama yang proaktif terlibat dalam demo anti pemerintah.

"Ini momen besar dalam sejarah Sri Lanka dan rasanya luar biasa mendapat kesempatan mengunjungi tempat bersejarah ini," kata seorang biarawati, Kathleen.

"Ini bukan hanya rumah Gotabaya, tapi banyak pemimpin. Tapi ketika kami lihat kehidupan mewah yang mereka jalankan, tentu kami merasa sedih kalau kita bandingkan dengan fakta masyarakat di negara ini yang sekarang kelaparan dan sekarat mengantre bensin. Saya sangat bangga ini telah direbut kembali oleh rakyat."

Namal Gunawardhana (22) salah satu anggota tim yang bertugas menjaga bangunan tersebut, membatasi jumlah orang yang masuk dan tidur di lantai untuk memastikan tidak ada barang yang dicuri.

"Kalau presiden mundur, kami akan segera mengevakuasi tempat ini dan menyerahkannya kembali: ini milik pemerintah, kami tahu itu," ujarnya.

Namun, lanjut Namal, sebelum Gotabaya mundur, mereka akan tetap tinggal di istana.

Saat malam tiba, tangga di ruang presidensial eksekutif, bekas kantor Gotabaya, dijadikan panggung konser dan pidato.

"Kami berdiri untuk unjuk rasa damai: ini adalah hak kami," teriak seorang pengunjuk rasa menggunakan mikrofon.

"Kami berdiri demi cinta: cinta untuk negara ini, bukan seperti cinta Ranil Wickremesinghe dan kepresidenan. Kami akan meneruskan perjuangan ini, untuk akhirnya membangun sebuah negara yang kami bisa banggakan bersama-sama." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel