Kalau Wartawan Jadi Pejabat atau Anggota Parlemen

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kalau wartawan jadi caleg, kemudian duduk di Senayan atau di rumah rakyat di daerah masing-masing, yakinlah kalau tidak bakal mewakili medianya. Sinis dan ada rasa iri hati? Entahlah.

Yang pasti, banyak senior saya mengingatkan. "Kalian teman-teman wartawan yang kebetulan ada bosnya, atau tepatnya pemimpin redaksinya ada yang "nyaleg" kemudian terpilih jadi anggota parlemen, gak perlu bangga-bangga buanget".

Loh kenapa? seperti yang pernah diperlihatkan seorang pjs pemred sebuah stasiun televisi. Kata teman jurnalis saya itu, ketika si mantan pemrednya jadi caleg dan pjs pemred, terkesan sudah congkak.

Saya ingat, di kantor media (cetak) tempat saya dulu bekerja, pemrednya juga jadi caleg kemudian belakangan terpilih jadi anggota dewan mewakili salah satu partai besar.

Begitu juga di grup induknya, dari semula caleg kemudian jadi menteri dan ketua umum partai. Ada juga yang terpilih jadi pejabat negara, bergabung di salah satu komisi independen -- yang bergaji uang rakyat.

Begitu tidak lagi terpilih untuk periode selanjutnya, dia balik kandang lagi, balik lagi jadi wartawan hehehe..

Nah, khusus yang jadi caleg tadi, eh itu gaji kita, "gak ngaruh" apa-apa juga loh dengan posisi dia sebagai anggota dewan maupun mereka yang duduk sebagai menteri dan ketua partai besar.

Gak ada perjuangan mereka, misalnya membela nasib wartawannya. Malah terakhir korannya dijual dan wartawannya diberi pesangon ala kadarnya hehehe...

Terkadang posisi seseorang memang tidak menjamin kalau dia akan ingat habibatnya, tetap saja seperti "kacang lupa kulitnya".

"Dalam daging saya mengalir darah wartawan," begitu isi pidato sang wartawan dalam acara syukuran insan pers digedung RRI Jakarta Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta beberapa saat setelah dilantik jadi Menteri Penerangan pada tahun 1982.

"Tapi sejarah berkata lain," tulis Abdullah Lahay, wartawan senior. Selama jadi Menteri Penerangan, katanya, sejumlah media dibredel oleh sang mantan wartawan.

Publik lalu menjadi bertanya-tanya mengalir ke mana darah "wartawan" sang penguasa?

Abdullah Lahay lalu menjawabnya sendiri. "Mengalir jauh sampai ke laut, kata Gesang dalam lagu 'Bengawan Solo' hahaha...," tulis senior saya ini di kolom komentar Facebook (Nur Terbit)