Kaleidoskop 2020: Dari Negara Maju di Dunia hingga Indonesia Akhirnya Masuk Jurang Resesi

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 tak hanya menyerang sisi kesehatan, tetapi juga sektor ekonomi dunia. Tak ayal, akibat pandemi yang terjadi hampir sepanjang tahun ini, banyak negara yang masuk ke jurang resesi ekonomi. Salah satunya Indonesia.

Setelah banyak diramalkan sejumlah pihak, Indonesia akhirnya benar-benar masuk ke jurang resesi pada kuartal III-2020, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen (year on year/yoy).

Indonesia mengalami resesi usai 2 kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Pada kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah terlebih dulu minus 5,32 persen.

Beberapa artikel terkait resesi ekonomi Indonesia menjadi artikel yang banyak dibaca sepanjang empat bulan terakhir di 2020. Berikut ini empat artikel atau berita paling menarik di kanal bisnis Liputan6.com pada periode September hingga Desember 2020:

1. Teranyar, Daftar Lengkap Negara yang Masuk Jurang Resesi di 2020

Jurang resesi di masa pandemi covid-19 semakin nyata dan tak bisa terelakkan baik untuk negara maju hingga negara berkembang. Di mana daftar negara yang masuk jurang resesi sejak kuartal II dan kuartal III semakin bertambah.

Resesi sendiri merupakan pertumbuhan ekonomi negatif selama 2 kuartal berturut-turut. Sebaliknya jika suatu negara masih bisa bangkit dari ancaman resesi maka negara tersebut pertumbuhan ekonominya mampu dijaga dengan baik.

Namun jika terus-menerus pertumbuhan ekonominya berlangsung lama maka negara tersebut akan masuk dalam fase depresi.

Lalu negara mana saja yang sudah masuk resesi? Berikut daftarnya dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber.

Baca artikel selengkapnya di sini

2. Siap-Siap Resesi, Sri Mulyani Prediksi Ekonomi Indonesia Kuartal III Minus 2,9 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). APBN 2019, penerimaan negara tumbuh 6,2 persen dan belanja negara tumbuh 10,3 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). APBN 2019, penerimaan negara tumbuh 6,2 persen dan belanja negara tumbuh 10,3 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 mencapai minus 2,9 hingga minus 1,0 persen. Ini artinya Indonesia siap-siap menuju jurang resesi.

Sementara secara keseluruhan di 2020, Kemenkeu memprediksi pertumbuhan ekonomi akan mencapai minus 1,7 sampai minus 0,6 persen.

“Kementerian Keuangan melakukan revisi forecast pada bulan September ini, yang sebelumnya kita memperkirakan untuk tahun ini adalah minus 1,1 hingga positif 0,2 persen. Forkes terbaru kita pada bulan September tahun 2020 adalah pada kisaran minus 1,7 hingga minus 0,6,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Sementara perkiraan berbagai institusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia belum banyak mengalami revisi. Dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 diprediksi minus.

“Kalau kita lihat berbagai institusi yang melakukan forkes terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia belum ada update, namun kira-kira mereka rata-rata sekarang memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun 2020 semuanya pada zona negatif kecuali bank dunia yang masih pada posisi nol,” kata Menkeu.

Baca artikel selengkapnya di sini

3. Indonesia Resesi, Ekonomi Kuartal III-2020 Minus 3,49 Persen

THUMBNAIL RESESI
THUMBNAIL RESESI

Indonesia masuk resesi. Ini terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy).

Dengan data ini, Indonesia tercatat mengalami resesi usai 2 kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Di mana pada kuartal II-2020 sudah tercatat minus 5,32 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi selama Januari-September tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,03 persen dibandingkan semester I tahun lalu.

"Kalau kita bandingkan dengan posisi triwulan ke III tahun 2019 ekonomi Indonesia pada triwulan II pada yoy masih kontraksi sebesar 3,49 persen. Tetapi kalau kita bandingkan dengan triwulan ke II 2020 ekonomi kita positif 5,05 persen. Sementara secara kumulatif kontraksi 2,03 persen," kata dia.

Dia mengatakan, meskipun ekonomi terkontraksi sebesar 3,49 persen di kuartal III-2020, tetapi kontraksinya tidak sedalam kuartal ke II-2020 yang sebesar minus 5,32 persen. Artinya terjadi perbaikan.

Baca artikel selengkapnya di sini

4. Mengenal Istilah Resesi, Depresi, dan Krisis Ekonomi

Ilustrasi Grafik Pandemi Covid-19 Credit: pexels.com/MarkusSpiske
Ilustrasi Grafik Pandemi Covid-19 Credit: pexels.com/MarkusSpiske

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi nasional kuartal ketiga tahun ini kembali mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen. Pada kuartal sebelumnya juga terjadi kontraksi sebesar 5,32 persen. Dengan demikian, Indonesia masuk ke jurang resesi.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan secara teknikal, kondisi Indonesia saat ini telah memasuki masa resesi ekonomi. Sebab, pertumbuhan ekonomi nasionalnya mengalami kontraksi selama 2 kuartal berturut-turut.

"Resesi itu kan definisinya pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi," kata Josua.

Josua menjelaskan resesi ekonomi merupakan bagian dari siklus ekonomi. Resesi teknikal ini merupakan suatu kondisi yang memberikan sinyal suatu wilayah memasuki gerbang resesi.

Bila ada suatu negara yang mengalami resesi teknikal, belum tentu negara itu mengalami resesi. Sebab bisa saja kontraksi pertumbuhan ekonomi tersebut hanya merupakan siklus bisnis jangka pendek.

Namun, jika indikator-indikator ekonomi seperti PDB, inflasi dan pengangguran, belum juga pulih setelah 2 periode tersebut, maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut sudah masuk dalam kondisi resesi.

Baca artikel selengkapnya di sini