Kaleidoskop 2020: Kejutan Joan Mir di MotoGP dan Supremasi Hamilton

Pratama Yudha
·Bacaan 10 menit

VIVA – Tak bisa dipungkiri, 2020 merupakan tahun yang kelabu bagi masyarakat dunia saat ini. Seluruh sektor terkena dampak negatif akibat dari pandemi virus corona COVID-19 yang melanda seluruh dunia.

Salah satu yang turut merasakan imbasnya adalah sektor olahraga, beberapa di antaranya adalah MotoGP dan Formula One (F1). Meski pada akhirnya tetap berjalan, tapi kedua kejuaraan dunia tersebut harus melakukan sejumlah penyesuaian.

Dimulai dari MotoGP. Kejuaraan dunia balap motor paling bergengsi ini sejatinya dimulai pada Maret 2020 silam. Namun, tanggal dimulainya MotoGP bertepatan dengan merebaknya COVID-19 di berbagai belahan dunia sehingga negara-negara yang terdampak melakukan lockdown.

Sontak saja, kondisi ini membuat seluruh rangkaian musim berantakan. Dorna dan FIM langsung menjadwalkan ulang seluruh seri di musim ini.

Berharap pandemi cepat mereda, yang terjadi justru sebaliknya. Jumlah negara penderita makin banyak sehingga akses menuju ke negara tuan rumah semakin terbatas.

Sejumlah penyesuaian pun terpaksa dilakukan. Ada yang serinya dibatalkan dan ada pula yang tanggalnya digeser.

Dorna akhirnya sepakat memulai balapan pada Juli 2020 dengan MotoGP Spanyol di Sirkuit Jerez menjadi seri pembuka. Satu sirkuit dirancang melakukan dua seri dengan balapan terpusat di kawasan Eropa untuk menjaga kesehatan para pembalapnya.

Dari 21 seri yang direncanakan di awal, terpaksa dipangkas menjadi 14 seri dan cuma dihelat di enam negara, yakni Spanyol, Republik Ceko, Austria, Italia, Prancis, dan Portugal. Sementara, seluruh balapan di luar Eropa terpaksa dibatalkan.

Runtuhnya Dominasi Marc Marquez

Turbulensi MotoGP musim 2020 tak berhenti begitu saja ketika musim berjalan. Justru, drama baru dimulai sejak seri pertama.

Bagaimana tidak, sang juara bertahan, Marc Marquez, mengalami kecelakaan hebat yang membuat tangan kanannya patah. Dia pun gagal mengakhiri balapan dan seri pembuka ini dimenangkan Fabio Quartararo.

Manajer Repsol Honda, Alberto Puig kemudian memberi keterangan. Menurut dia, yang bermasalah setelah Marquez mengalami kecelakaan adalah bagian lengan.

"Marc mendapatkan benturan keras pada lengan atas tangannya. Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan dengan X-Ray," ujar Puig, dikutip dari Twitter resmi Repsol Honda.

Akibat kecelakaan ini, tulang humerus Marquez patah sebagian. Ada retakan pula di tangan kanannya.

Hasil pemeriksaan juga menunjukkan, ada indikasi Marquez mengalami kelumpuhan sementara di sebagian sarafnya, dan membuatnya harus naik meja operasi. Kemungkinan, dilansir Crash, dia akan dioperasi pada Selasa 21 Juli 2020.

"Senin 20 Juli 2020, Marquez dirujuk ke Rumah Sakit Universitas Dexeus, Barcelona, untuk menjalani operasi. Belum diketahui, berapa lama dia harus melakoni masa pemulihan," begitu pernyataan resmi tim Honda.

Insiden ini merupakan pukulan telak bagi Repsol Honda yang memang mengandalkan Marquez untuk menjuarai MotoGP. Di sisi lain, muncul harapan baru di mana Quartararo digadang memutus dominasi Marquez.

Keyakinan itu pun makin menguat ketika pembalap asal Prancis kembali keluar sebagai juara di seri kedua. Membuatnya berada di puncak klasemen sementara.

Namun, mulai seri ketiga, performa Quartararo mendadak menurun drastis. Di sinilah pembalap lain mulai bermunculan untuk menunjukkan kemampuannya.

Pembalap macam Franco Morbidelli, Miguel Oliveira, Andrea Dovizioso, Maverick Vinales, Danilo Petrucci, Alex Rins, Joan Mir, dan pembalap debutan Brad Binder bergantian merebut podium juara. Tercatat, musim ini terdapat sembilan pembalap berbeda yang menjadi juara, menyamai musim 2016.

Berbicara MotoGP, kita tak boleh melupakan Valentino Rossi. Meski usianya paling senior di antara yang lain, tapi magnet The Doctor tetap paling kuat.

Namun, tak bisa dipungkiri jika kemampuannya sudah tak sehebat dulu. Sepanjang musim 2020, dia cuma sekali merasakan podium dan finis di peringkat 15.

Kembali ke Marquez, kecelakaan parah yang dialaminya memaksanya absen dalam waktu yang lama. Dia sempat menjalani dua kali operasi dan diperkirakan bisa pulih sebelum musim berakhir. Tapi, pada kenyataannya, Marquez harus menepi hingga musim ini berakhir dan malah naik meja operasi untuk kali ketiga yang membuatnya berpotensi absen hingga awal musim depan.

Di tengah keterpurukan Marc Marquez, sejumlah pembalap pun mencuat untuk menggantikan posisinya sebagai juara dunia. Awalnya, Quartararo bersaing dengan Morbidelli dan Dovizioso. Namun, mulai paruh musim kedua, performa dua pembalap Suzuki, Alex Rins dan Joan Mir, perlahan menanjak.

Mir mulai stabil meraih podium setelah di paruh musim pertama sempat dua kali gagal finis. Begitu pula dengan Rins yang melejit dengan mengangkangi Andrea Dovizioso di tabel klasemen.

Puncaknya, Mir mengklaim takhta klasemen sementara usai finis ketiga di MotoGP Aragon. Dia menggeser Quartararo ke posisi kedua.

Setelahnya, terlihat makin mudah buat Mir ketika penampilan Quartararo terus menurun dan di saat yang sama, dia selalu meraih podium. Kesuksesan terbesarnya saat menjuarai MotoGP Eropa di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia.

Bagaimana tidak, raihan juara itu semakin menjauhkan dirinya dari kejaran para rival. Dia akhirnya mengklaim juara dunia usai menyelesaikan balapan di posisi ketujuh pada MotoGP Valencia.

Mir mengaku perasaanya ini campur adik antara emosi dan bahagia. Dia tak percaya bisa menjadi juara karena pengalaman buruk gagal finis di dua balapan.

"Tak bisa dipercaya, saya tak bisa berkata-kata. Penuh emosi. Ini yang saya perjuangkan seumur hidup. Pada saat ini saya tak bisa menangis atau pun tertawa, semuanya adalah campuran emosi," kata Mir, dikutip Fox Sport.

"Saya sangat-sangat bahagia. Ketika anda mengikuti satu mimpi seumur hidup dan meraihnya, saya masih tak percaya. Bagi saya ini adalah... saya tidak percaya," sambungnya.

Di akhir musim, Mir mengumpulkan 171 poin. Disusul oleh Morbidelli dengan 158 poin dan Alex Rins yang mengoleksi 139 poin.

Kesuksesan Mir sekaligus mengakhiri dominasi Marquez yang sudah bertahan selama empat musim beruntun, mulai 2016-2019. Kesuksesan pembalap 23 tahun sekaligus menunda impian Marquez merebut gelar juara dunia kesembilannya.

Keberhasilan musim ini membuat Mir semakin percaya diri menatap musim depan. Dia yakin, tunggangannya akan semakin kompetitif dengan berbagai inovasi di musim depan.

Dari situ, Mir pun berani sesumbar dan menantang Marquez dalam perebutan gelar juara di musim selanjutnya.

"Sejujurnya, (Marquez) tidak membuat saya takut. Kami di sini untuk menang. Memang, orang yang paling sering melakukannya saat ini adalah Marquez dan kami harus menjadi bagian dari pertarungan itu," kata pembalap 23 tahun dikutip Tuttomotoriweb.

"Tahun ini berjalan dengan baik, tetapi tahun berikutnya akan memberi kami tantangan yang luar biasa. Faktanya, dalam beberapa bulan terakhir, bahkan jika saya belum memenangkan gelar, saya sudah memikirkan musim depan melawan Marc," jelasnya.

Selain Mir, Brad Binder juga bahagia lantaran sukses merebut gelar Rookie of the Year mengungguli adik Marc Marquez, Alex Marquez.

Penurunan Performa Valentino Rossi

Membahas MotoGP tak akan lengkap rasanya tak membahas Rossi. Memulai musim dengan percaya diri, nyatanya Rossi kembali tak bisa berbicara banyak musim ini.

Di seri pertama, pembalap asal Italia itu sudah gagal finis lantaran motornya mengalami masalah. Sempat menunjukkan tanda-tanda positif usai finis ketiga di seri kedua, tapi selanjutnya Rossi tetap tak mampu lagi meraih podium.

Kesialan Rossi juga makin lengkap setelah gagal finis di tiga seri beruntun mulai seri Emilia Romagna hingga Prancis. Gagal mendapat poin membuat posisi Rossi terlempar jauh ke posisi 15 klasemen.

Puncak dari semuanya ketika The Doctor jadi satu-satunya pembalap di kelas tertinggi yang terpapar COVID-19. Ada indikasi dia terjangkit virus tersebut lantaran sejumlah personel Yamaha sudah lebih dulu mengidap COVID-19.

Imbasnya, Rossi terpaksa absen di dua seri, yakni Aragon dan Teruel. Kehilangan angka membuat pembalap 41 tahun makin sulit memperbaiki posisinya di klasemen.

Terlebih, comebacknya pada MotoGP Eropa juga berakhir pahit. Lagi-lagi, Rossi gagal finis karena motornya mengalami kendala di tengah balapan.

Di dua seri tersisa, Rossi cuma mampu mengakhiri balapan di peringkat 12. Dia cuma mengumpulkan 66 poin sepanjang musim ini.

Sungguh menjadi raihan terburuk Rossi sepanjang keikutsertaannya di MotoGP. Mulai musim depan, dia tak lagi membela tim pabrikan Yamaha lantaran hijrah ke tim satelit.

"Ini adalah momen yang sangat penting, karena ini adalah akhir dari perjalanan panjang kami bersama. Sejarah kami, antara saya dan tim Yamaha Motor Racing dibagi dalam dua bagian, ini seperti film yang bagus," kata Rossi dilansir Speedcafe.com.

Rossi membela Yamaha dalam dua periode pada 2004 hingga 2010 dan 2013 hingga 2020. Dia merebut empat gelar juara dunia bersama Yamaha pada 2004, 2005, 2008 dan 2009. Total, Rossi meraih 56 kemenangan dan 142 podium dalam 142 balapan bersama Yamaha.

"Bagian pertama dimulai pada 2004 hingga 2010. Saya rasa ini bagian terbaik dalam karier saya. Kami menulis sejarah untuk Yamaha. Kami merebut juara bersama Yamaha setelah dua puluh sekian tahun. Saya bakal selalu mengingat pencapaian ini, itu adalah momen penting dalam karier saya," ungkap Rossi.

"Saya juga sangat bangga dengan bagian kedua. Mereka memberi saya kesempatan untuk kembali ke tim pabrikan setelah dua tahun yang buruk dengan pabrikan lain, saat saya sudah semakin tua untuk standar MotoGP," tegasnya.

Lewis Hamilton Sang Pencetak Rekor

Tak jauh berbeda dengan MotoGP, F1 pun mengalami kendala yang sama. FIA harus memutar otak untuk tetap melaksanakan kejuaraan dunia jet darat paling digemari di dunia pada musim ini di tengah pandemi corona COVID-19.

Berbagai penyesuaian pun dilakukan. Mulai dari pemangkasan jumlah seri hingga berjalan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Tercatat, F1 musim ini berjalan dalam 17 seri. GP Austria menjadi pembuka pada Juli 2020 dan ditutup oleh GP Abu Dhabi pada 13 Desember 2020.

Di tengah berbagai keterbatasan, namun dominasi Lewis Hamilton masih belum terpatahkan. Dia tetap tampil prima dalam menjaga peluang merebut gelar juara dunia.

Meski gagal meraih podium di seri pertama, tapi Hamilton langsung tancap gas mulai seri kedua hingga keempat. Dia mengklaim podium pertama di tiga seri tersebut.

Setelahnya, sudah bisa ditebak. Tak ada yang bisa menyaingi performa Hamilton di lintasan. Dia akhirnya mengklaim gelar juara dunia usai finis pertama di GP Turki, November 2020.

Total, dia merebut 11 kemenangan di musim ini dengan total nilai di klasemen akhir sebanyak 347 poin.

Pembalap asal Inggris itu unggul jauh dari Valtteri Bottas dan Max Verstappen yang mengakhiri musim di urutan kedua dan ketiga.

Gelar juara yang diraih Hamilton menjadi yang ketujuh sepanjang kariernya dan yang keempat diraihnya secara beruntun. Tentu, ini merupakan catatan spesial baginya.

Bagaimana tidak, torehan tujuh gelar menyamai rekor sebelumnya yang dipegang Michael Schumacher. Keduanya kini resmi bersanding sebagai pemilik gelar juara terbanyak F1.

Tapi, tak hanya itu saja catatan manis yang dibukukan oleh pembalap 35 tahun. Dia kini mengungguli perolehan Schumacher dalam hal jumlah kemenangan.

Sebelumnya, rekor ini dipegang pembalap asal Jerman dengan 91 kemenangan. Kini, Hamilton sah melewati rekornya dengan catatan 95 kemenangan.

Di tengah euforia juara, Hamilton sempat dikejutkan dengan terjangkit virus corona COVID-19. Kondisi itu memaksanya absen sekali di GP Sakhir sebelum kembali mengaspal di GP Abu Dhabi yang jadi seri pamungkas dan merebut podium ketiga.

Kendati demikian, Hamilton mengaku masih merasakan efek buruk ketika membalap di seri pamungkas.

"Saya tidak dalam kondisi 100 persen. Saya masih merasakan yang aneh di paru-paru saya. Tapi saya akan tetap mengemudi, itulah yang dilakukan oleh pembalap. Ini bukan balapan termudah, tetapi saya akan mengatur dan memberikan semua yang saya miliki," kata Hamilton dikutip dari BBC.

"Salah satu gejala adalah itu benar-benar menguras tenaga. Saya telah mencoba untuk tidur sebanyak yang saya bisa. Tetapi memulihkan tidak semudah itu. Selain itu saya cukup kehilangan berat badan dalam beberapa pekan. Jadi saya tidak 100 persen, seperti saya di balapan terakhir. Tetapi itu tidak menghalangi saya untuk balapan," lanjutnya.

Beruntung bagi Hamilton, dia terpapar COVID-19 jelang musim berakhir dan setelah mengunci gelar juara dunia.

Catatan manis lainnya yang diukir oleh Hamilton adalah namanya diabadikan sebagai sebutan untuk jalur pit Sirkuit Silverstone. Presiden British Racing Drivers Club (BRDC), David Coulthard mengumumkan bahwa jalur pit di sirkuit Silverstone, International Pit Straight menjadi Hamilton Straight.

"Ini kali pertama dalam sejarah Silverstone bahwa bagian sirkuit itu dinamai setelah nama individu," kata Coulthard yang juga merupakan pemilik dari Sirkuit Silverstone itu, seperti dikutip dari laman resmi Formula 1.

"Lewis telah menjadi bagian sangat besar dari sejarah ini dan para direktur di Klub dan saya merasa tidak ada cara yang lebih baik untuk menandai hal itu dari menamai ulang lintasan lurus pit yang ikonik sebagai pengakuan atas capaian rekornya," lanjutnya.