Kaleidoskop 2020: Kemarahan Jokowi dan Ancaman Reshuffle Kabinet

Syahrul Ansyari
·Bacaan 4 menit

VIVA - Tahun 2020 diwarnai dengan sebuah momen ketika Presiden Jokowi marah kepada para menterinya dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara. Jokowi lantas mengancam akan melakukan reshuffle kabinet.

Peristiwa itu terjadi pada sidang kabinet paripurna yang bersifat tertutup pada 18 Juni 2020. Lalu, video yang memperlihatkan Jokowi marah dipublikasikan 10 hari kemudian yakni pada Minggu, 28 Juni 2020.

Awal mulanya, Jokowi meminta para menterinya bekerja lebih keras lagi untuk masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Ia menyebut situasi saat sekarang sudah semestinya diatasi dengan langkah-langkah yang luar biasa atau extraordinary. Jokowi lantas mengultimatum akan reshuffle kabinet bila hal itu dibutuhkan.

"Sekali lagi, langkah-langkah extraordinary ini betul-betul harus kita lakukan. Dan saya membuka yang namanya entah langkah politik, entah langkah-langkah kepemerintahan. Akan saya buka. Langkah apa pun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita. Untuk negara. Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya," kata Jokowi dalam video rapat Kabinet tanggal 18 Juni 2020, di Istana Negara sebagaimana diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden, Minggu, 28 Juni 2020.

Baca juga: Jokowi Marah, Fahri Hamzah Khawatir Terlalu Banyak Menteri Titipan

Dalam rapat itu, Jokowi tampak meninggi nada bicaranya. Ia meminta jajaran kabinetnya mempunyai satu kesamaan pikiran bahwa saat ini dalam situasi krisis. Karena itu, ia menegaskan agar para kabinetnya bekerja keras.

Publik di tanah air termasuk para tokoh dan elite politik pun sempat dibuat ramai dengan kemarahan sang presiden tersebut. Banyak di antara mereka meyakini benar-benar akan terjadi reshuffle kabinet.

Namun, komentar bernada sindiran disampaikan oleh mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah. Lewat akun Twitternya, Fahri berseloroh dengan menyebut siapa yang menyiapkan bahan Jokowi untuk marah.

"Pertanyaan selasa: Siapa yang menyiapkan bahan untuk marah.. siapa yang dimarahi... apakah yang marah dan yang dimarahi ada dalam satu gelombang? Karena Setelah dimarahi kok gak kayak dimarahi...," tulis Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat Indonesia ini di akun Twitternya, dikutip VIVA Selasa, 30 Juni 2020.

Senada, Politikus Partai Gerindra Fadli Zon juga mempertanyakan soal kemarahan Jokowi tersebut. Fadli bertanya-tanya apakah kemarahan Jokowi tersebut serius atau cuma gimmick semata.

"Marah bohongan apa serius?" ujar Fadli dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) bertema "Presiden Marah: Menteri Mana Direshuffle?", di tvOne, Selasa, 30 Juni 2020 malam.

Belum lagi video kemarahan Jokowi terhadap menterinya itu baru di-posting beberapa hari kemudian. Fadli malah berguyon dan menyebutkan kemarahan Jokowi ini dengan istilah 'angry distancing'.

Menurut Fadli, jika kemarahan yang ditunjukkan Jokowi itu serius, hal tersebut tidak perlu dipublikasi.

Selain Fahri dan Fadli, para warganet juga ikut menanggapi kemarahan Jokowi. Mereka seolah tak begitu simpatik dengan apa yang dipertontonkan mantan Walikota Solo itu.

Tagar #PresidenDableg sempat dalam jajaran trending topic sepanjang Senin, 29 Juni 2020. Sehari setelahnya, gantian muncul tagar #MarahUnfaedah di Twitter.

Tak hanya itu saja, warganet +62 juga membuat meme kocak untuk merespons aksi marah-marah dari Jokowi.

Sampai di pengujung Desember 2020, ancaman Jokowi tentang reshuffle kabinet tidak menjadi kenyataan. Yang terjadi adalah dua menterinya yaitu Edhy Prabowo (Menteri Kelautan dan Perikanan) dan Juliari Batubara (Menteri Sosial) menjadi tersangka di KPK, yang membuat posisi mereka diisi untuk sementara waktu oleh menteri lainnya.

Kemarahan Jokowi Sepanjang 2020

Sepanjang 2020, kemarahan Jokowi kepada menterinya di atas bukanlah yang pertama. Dari catatan VIVA, Jokowi sempat marah saat membuka rapat kerja Kementerian Perdagangan, di Istana Negara, Jakarta, Rabu 4 Maret 2020.

Jokowi mengakui marah terhadap jajaran menteri hingga dirjen, sebab kondisi adanya wabah corona justru tidak ada respons yang bisa dijadikan jalan keluar. Masih menganggap wabah corona saat ini biasa-biasa saja.

Pada bulan Juli 2020, Jokowi juga tercatat marah karena dana corona macet. Dia pun memerintahkan agar pencairan anggaran kesehatan di masa pandemi COVID-19 dapat dipercepat.

Jika perlu memotong prosedur di Kementerian Kesehatan. Jokowi meminta prosedur tak perlu bertele-tele, sehingga pembayaran klaim rumah sakit dan insentif tenaga medis dapat segera dicairkan.

Atas kemarahan Jokowi tersebut, Staf Khusus Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo, memberikan respons. Dia mengatakan selama ini pemerintah tidak menahan anggaran.

Selain untuk memastikan kecepatan dan ketepatan pencairan anggaran, pemenuhan semua prosedur administrasi juga menjadi sebuah tantangan, untuk menjaga keseimbangan antara prosedur yang sederhana tapi tetap akuntabel.

Lalu, dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 5 Oktober 2020, Jokowi menyindir kinerja anak buahnya yang terus mengimpor komoditas garam ke Tanah Air. Padahal, untuk urusan impor harusnya bisa ditekan jika produksi nasionalnya diperbaiki.

"Masih rendahnya produksi garam nasional kita, sehingga kemudian cari yang paling gampang yaitu impor garam. Dari dulu gitu terus dan tidak pernah ada penyelesaian," kata Jokowi.

Dan saat rapat koordinasi pengadaan barang dan jasa Rabu, 18 November 2020, kinerja anak buahnya dan pemerintah daerah. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyebut saat ini hampir memasuki akhir tahun dan masih saja ada pekerjaan yang baru mau dikerjakan.

Padahal jauh-jauh hari dia mengatakan sudah meminta agar pengadaan barang dan jasa atau belanja pemerintah segera diserap.

"Tadi Ketua LKPP Pak Roni menyampaikan ini bulan November sudah tanggal berapa ini 18 November, masih ada yang masih untuk proses konstruksi, ini konstruksi masih dalam proses 40 triliun. Terus ngerjainnya kapan? Pengerjaannya kapan, tinggal sebulan," kata Jokowi.