Kaleidoskop 2020: Liga 1 Terbentur Pilkada dan Inkonsistensi PSSI

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 8 menit

VIVAPSSI menanggapi semakin tingginya penyebaran pandemi COVID-19 melalui keputusan rapat Komite Eksekutif di Stadion Batakan, Balikpapan, pada Sabtu 14 Maret 2020. Ketika itu mereka sekaligus menghadiri pembukaan Liga 2. Tapi, keputusannya sekadar menangguhkan jalannya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 selama dua pekan ke depan.

Baru di 27 Maret 2020, PSSI mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum, Mochamad Iriawan. Di dalamnya disebutkan kondisi sedang force majeure dan mengikuti arahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, maklumat Kepolisian Negara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

SK yang dikeluarkan PSSI memberi tenggat penangguhan kompetisi sampai Juli 2020. Jika nantinya Pemerintah melalui BNPB memperpanjang masa darurat, akan dilanjutkan dengan keputusan baru. Bahkan ada opsi untuk menghentikan kompetisi dari PSSI jika kelak pandemi COVID-19 masih terus mengancam.

"Jika status keadaan darurat tidak diperpanjang oleh pemerintah, kompetisi akan kembali diputar pada 1 Juli 2020. Namun, jika keadaan darurat yang sudah ditetapkan pemerintah hingga 29 Mei diperpanjang, maka kompetisi 2020 akan dihentikan," demikian pernyataan resmi PSSI.

Keputusan PSSI tersebut mendapat dukungan dari banyak pihak, mulai pemain, pelatih, hingga klub. Karena mereka sepakat mendahulukan keselamatan manusia di atas kepentingan lainnya. Bahaya COVID-19 yang sudah memperlihatkan keganasannya hampir di seluruh dunia tak bisa dianggap remeh.

“Semua kompetisi berhenti, mungkin nanti Olimpiade juga. Jadi virus itu memang cukup berbahaya. Saya ingin kompetisi tetap berjalan namun kesehatan pemain paling penting. Ini akan baik untuk kita semua," kata Sergio Faris yang ketika itu masih menjadi pelatih Persija Jakarta.

Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts setuju 100 persen dengan keputusan PSSI yang mengikuti arahan dari pemerintah Indonesia. Bagi dia, tidak ada nyawa yang sebanding dengan pertandingan sepakbola jika tetap dilanjutkan di tengah pandemi COVID-19.

"Kami harus mendukung keputusan itu karena seperti saya katakan sebelumnya, tidak ada nyawa yang sebanding dengan laga sepakbola. Jadi jika kami bisa menyelamatkan nyawa dengan menghentikan laga, tentunya kami mengikuti perintahnya," tutur juru taktik asal Belanda tersebut.

Waktu terus berjalan sesudahnya. Sampai pada Juli 2020, kompetisi masih belum bisa dilanjutkan. Situasi pandemi COVID-19 di Indonesia masih tetap jadi ancaman. PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi menganggap situasi belum aman.

Direktur PT LIB ketika itu, Cucu Sumantri merujuk ke beberapa negara Asia lainnya. Di mana kompetisi sepakbola dan olahraga lainnya dihentikan total. Dia meminta semua pihak untuk menimbang segala risiko yang ada, terutama faktor kesehatan dan keselamatan anggota tim.

“Untuk kompetisi sepakbola Indonesia, mari kita mempertimbangkan segala putusan dan kesepakatan bersama dengan menilik dan memilah segala risikonya. Karena efek dari pandemi virus Corona, mari kita bahas secara detail soal jadwal, risiko, sampai hal-hal teknis yang terkait bergulirnya kompetisi agar tetap menarik, fair, berkualitas dan kompetitif,” katanya.

Sejak penangguhan ini, PSSI juga mengeluarkan keputusan yang tujuannya melindungi klub. Ketika tidak ada kompetisi, klub dibiarkan untuk membayarkan gaji anggota timnya sebesar 25 persen dari nilai gaji yang disepakati di awal. Tidak sedikit pula pemain dan pelatih yang setuju dengan hal ini, terutama mereka yang berstatus asing. Arema FC ditinggal Mario Gomez dan Jonathan Baumann karena keputusan ini.

Aturan Baru yang Mengejutkan

Pada akhir Mei 2020, ketika banyak yang mulai ragu terkait kemungkinan dilanjutkannya kompetisi, akhirnya PSSI menggelar pertemuan dengan klub Liga 1 dan Liga 2. Mereka meminta pendapat dari semua pihak untuk merancang jalan terbaik yang akan ditempuh. Jangan sampai malah ada pro dan kontra setelah keputusan diambil.

Dalam pertemuan tersebut, rupanya suara klub Liga 1 terbelah. Ada yang secara tegas menolak inisiasi melanjutkan kompetisi musim 2020. Bagi mereka, penyebaran pandemi COVID-19 masih tinggi, dan terlalu berisiko memaksakan pertandingan dilangsungkan. Sedangkan yang lain ingin ada kelanjutan agar industri tetap terjaga.

Akhirnya PSSI mengeluarkan keputusan untuk terus melanjutkan Liga 1 dan Liga 2 pada Oktober 2020. Iriawan sejak awal sudah mengindikasikan keinginannya itu. Bahkan sampai PSSI mengeluarkan aturan baru dalam kompetisi. Liga 1 tanpa degradasi, dan ada dua slot untuk klub Liga 2 promosi ke musim berikutnya.

Alasannya saat ini Liga 1 baru diisi 18 klub. Dengan tambahan dua klub, akan menjadi 20 di musim berikutnya. Jumlah tersebut amat ideal bagi sebuah kompetisi kasta tertinggi. Namun, sebagian orang melihat keputusan itu terlalu mengada-ada. Dengan tidak adanya degradasi, peluang untuk adanya pengaturan skor terbuka lebar.

PSSI punya jawaban lagi terkait tudingan itu. Mereka menganggap kompetisi masih perlu ada, karena di 2021, Indonesia akan jadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Kesempatan ini harusnya dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan para pemain muda di level profesional. Iriawan meminta kepada PT LIB untuk mengkaji keharusan menurunkan pemain U-20 di setiap pertandingan.

"Kompetisi harus jalan ini juga untuk kepentingan timnas Indonesia nanti khususnya U-20, saat mereka nanti tidak pemusatan latihan, para pemain bisa berkompetisi di klub mereka masing-masing. Kalaupun pemusatan latihan berlangsung, pada umumnya pemain dipanggil nanti hanya 23 sampai 30 orang, sekarang masih ada 44 sekian ya, sedangkan pemain yang tidak dipanggil nanti mereka tetap terasa kompetisi di klub masing-masing," ujar Iriawan.

Tapi keinginan Iriawan itu cuma jadi ucapan manis saja. Pada akhirnya PT LIB cuma menetapkan aturan pemain U-20 wajib masuk daftar susunan pemain (DSP), bukan wajib untuk dimainkan. Padahal urgensi PSSI menetapkan kompetisi harus lanjut demi kepentingan Timnas Indonesia di Piala Dunia U-20 2021.

"Sekarang ada di DSP minimal 2 pemain, tetapi tidak wajib dimainkan. Ada beberapa klub yang bilang kekurangan pemain U-20. Ada klub yang pemainnya sekarang juga dipakai Timnas Indonesia U-19," tutur Akhmad Hadian Lukita, Direktur PT LIB yang menggantikan Cucu Sumantri.

Terbentur Pilkada dan Terkatung-katung Sampai Sekarang

Setelah semua setuju Liga 1 kembali dilanjutkan pada Oktober 2020, mayoritas klub Liga 1 dan Liga 2 langsung mengumpulkan kembali pemainnya. Mereka menggelar latihan di bawah protokol kesehatan yang ketat. Tes kesehatan rutin dilakukan oleh klub kepada para pemainnya. Mereka tidak ingin malah nanti ada kasus COVID-19 yang muncul.

Sembari berjalan, PSSI juga terus berkonsultasi dengan Satuan Tugas Penangangan (Satgas) COVID-19 dalam upaya menyusun protokol kesehatan ketika kompetisi dilanjutkan. Yang utama mereka tekankan adalah tidak adanya penonton yang hadir langsung di stadion ketika pertandingan berlangsung. Rasa optimistis pun muncul dari semua pihak.

Sekira dua bulan lebih klub melangsungkan latihan, hanya cuma selang beberapa hari sebelum pertandingan dimulai PSSI mengeluarkan keputusan baru. Lanjutan kompetisi pada Oktober 2020 dibatalkan kembali. Alasannya mereka tidak mendapatkan izin keramaian dari Kepolisian selama masa pandemi COVID-19 yang masih meneror Tanah Air.

"PSSI memahami ini. Kami menghormati Mabes Polri. Tentunya dengan pertimbangan keamanan, kesehatan menjadi yang utama. Apalagi Polri telah mengeluarkan maklumat tidak memberikan izin di semua tingkatan. PSSI juga mengapresiasi kepada klub yang sudah bersiap dan berkorban. Apalagi mereka sudah berada di Pulau Jawa. Namun PSSI yakin dan optimis lanjutan Liga 1 dan Liga 2 pada waktunya akan digulirkan kembali," kata Iriawan.

Ungkapan kecewa pun banyak bermunculan dari pelatih hingga pemain. Mereka menganggap latihan yang sudah dilakukan selama ini menjadi sia-sia. Ditambah lagi ada fakta Kepolisian seolah menghambat kompetisi dilanjutkan, sedangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di sejumlah daerah yang juga mendatangkan banyak massa dalam satu lokasi tetap diizinkan.

“Kesehatan emng bener no 1, tapi harus diingat, jangan sepak bola aja yang berhenti, kalo niat mau melawan virus ini, semuanya yg ada keramaian gak ada izin semua. Jangan ini boleh yang ini gak boleh, gmna mau jaga imun kita, klo banyak yang aneh di negara gue ini, hanya Allah SWT lah yg tau, mana yg terbaik," tulis bek Bali United, Gunawan di akun Instagram pribadinya, Selasa 29 September 2020.

Bukan cuma Kepolisian yang terkena sindiran dari pelaku sepakbola. PSSI dan PT LIB dianggap memiliki andil besar dalam penundaan kali ini. Komunikasi mereka dengan Kepolisian dipertanyakan. Apalagi beberapa waktu sebelumnya, mereka menebar kabar sering melakukan sowan ke kantor Kepolisian di daerah.

"Lucu, tahun depan ada Piala Dunia di Indonesia. Tapi, sekarang tak ada kompetisi. Bicara COVID-19, kepala negara sudah membentuk Satgas dan mencanangkan harus hidup berdampingan dengannya. Apa pun itu dari semua sektor, termasuk olahraga.Mungkin yang terjadi kurang adanya komunikasi, antara operator dengan pihak kepolisian. Kalau ada komunikasi yang bagus, Insya Allah jalan. Prihatin, karena sudah menjalani tahap tes swab," tutur General Manager Arema FC, Ruddy WIdodo.

Coba meredam situasi, Iriawan meminta kepada Kepolisian untuk memberikan izin keramaian kepada PSSI dan PT LIB di November 2020. Tapi lagi-lagi permintaan mereka bertepuk sebelah tangan. Klub semakin naik pitam dengan situasi ini. Apalagi mereka sudah banyak mengeluarkan biaya ketika persiapan lanjutan kompetisi di bulan sebelumnya.

Tak lama berselang PSSI memerintahkan kepada PT LIB untuk membuat rencana baru lanjutan kompetisi. Februari 2021 ditetapkan, karena menimbang vaksin COVID-19 sudah mulai diedarkan di Indonesia pada akhir Desember 2020 atau awal Januari 2021. Klub akhirnya menerima, sembari memutuskan untuk meliburkan skuad sampai ada pengumuman lanjutan.

Sayangnya, sampai sekarang akhir Desember 2020, vaksin COVID-19 belum lagi diedarkan. Begitu juga kepastian dari PSSI yang tak kunjung diterima oleh klub. Situasi menggantung ini membuat sebagian klub kebingungan. Bahkan Madura United sampai membubarkan tim karena pesimistis kompetisi bisa dilanjutkan sesuai rencana.

"Pemain kita bubarkan. Kami tidak ingin larut dalam pandemi ini. Ketidakjelasan ini sulit diungkap untuk sekedar berharap. Kini saatnya klub melakukan pembenahan dengan membenahi administrasi dan infrastruktur yang menjadi syarat AFC dan FIFA," ujar Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, Senin 28 Desember 2020.

Madura United jadi tim yang pertama, siapa yang akan menyusulnya? Tidak tertutup kemungkinan bakal banyak, mengingat kondisi finansial klub sudah tak stabil. Sudah delapan bulan lebih mereka membayar gaji tanpa punya pemasukan. Jika PSSI tak memberi respons, keinginan melanjutkan kompetisi musim 2020 akan jadi angan semata.