Kaleidoskop 2020: Virus Corona Merebak di Dunia

Syahrul Ansyari, Dinia Adrianjara
·Bacaan 6 menit

VIVA - Pada 31 Desember 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kantor perwakilan China menerima laporan tentang penemuan kasus pneumonia yang tidak biasa di Wuhan, kota berpenduduk 11 juta orang di Provinsi Hubei.

Virus tersebut tidak diketahui dan terbilang asing. Beberapa dari mereka yang terinfeksi bekerja di Huanan Seafood Wholesale Market di kota itu, yang akhirnya ditutup pada 1 Januari 2020. Saat para petugas kesehatan berusaha mengidentifikasi virus itu, jumlah orang yang terinfeksi bertambah hingga lebih dari 40 orang dalam waktu relatif singkat.

Pada 5 Januari, otoritas berwenang China membantah kemungkinan bahwa ini adalah kambuhnya virus sindrom pernafasan akut (SARS), yang juga berasal dari China dan menewaskan lebih dari 770 orang di seluruh dunia pada tahun 2002-2003 lalu.

Baca juga: Polisi Bakal Tes COVID-19 Bagi Warga yang Keluar Masuk Jakarta

Selanjutnya dua hari berselang yakni pada 7 Januari, WHO akhirnya mengumumkan bahwa mereka telah mengidentifikasi virus baru bernama 2019-nCoV dan diidentifikasi berasal dari jenis virus corona, seperti pada SARS dan flu biasa.

Virus corona diketahui berpindah dari hewan ke manusia, sehingga diperkirakan bahwa orang pertama yang terinfeksi virus tersebut tertular dari kontak dengan hewan. Hal ini dicurigai dengan kasus pertama yang diidentifikasi di pasar Wuhan di mana hewan-hewan liar dijual termasuk marmut, burung, kelinci, kelelawar dan ular yang diperdagangkan secara ilegal.

Upaya untuk mencari sumber virus pun dilakukan. Sebuah tim ahli virologi dari Wuhan Institute for Virology merilis sebuah makalah rinci yang menunjukkan bahwa susunan genetik virus corona baru ini 96 persen identik dengan virus corona yang ditemukan pada kelelawar.

Pada 11 Januari, China mengumumkan kasus kematian pertama akibat virus tersebut yakni seorang pria berusia 61 tahun yang membeli barang dari pasar makanan laut Wuhan. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, dia meninggal karena gagal jantung.

Sejak saat itu, virus corona terus menyebar di seluruh China bahkan mulai teridentifikasi di beberapa negara lain. Pada 13 Januari, WHO melaporkan kasus virus corona pertama di luar negeri yakni di Thailand, yang diduga berasal dari seorang wanita yang datang dari Wuhan. Beberapa hari berikutnya Amerika Serikat, Nepal, Prancis, Australia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Vietnam dan Taiwan mengonfirmasi penyebaran virus tersebut.

Di China sendiri, puncak wabah terjadi pada pertengahan Februari, utamanya setelah perayaan Tahun Baru China di mana banyak masyarakat melakukan perjalanan di dalam maupun ke luar negeri. China sempat mencatat penambahan 5.000 kasus dalam satu hari, dan melakukan penguncian massal di kota-kota besar.

Meski populer disebut sebagai virus corona, namun pada 11 Februari WHO mengumumkan nama resmi wabah ini yakni COVID-19 (Corona Virus Disease-2019), di mana virus yang menyebabkan penyakit itu disebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 atau disingkat Sars-CoV-2.

Pada 11 Maret, WHO menyatakan virus corona sebagai pandemi ketika jumlah kematian di China melonjak tajam. Dalam beberapa hari, kasus baru juga dikonfirmasi di lebih banyak negara termasuk India, Filipina, Rusia, Spanyol, Swedia, Inggris, Kanada, Jerman, Jepang dan Uni Emirat Arab.

COVID-19 memiliki banyak gejala yang sama dengan flu biasa, meskipun ada gejala tertentu yang umum terjadi pada flu atau pilek biasa, namun tidak terlihat pada COVID-19 misalnya pilek. Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, batuk kering dan jika parah maka akan merasakan sesak nafas.

WHO menyebut sekitar 80 persen orang yang terjangkit virus ini hanya mengalami gejala ringan, sementara 20 persen sisanya dalam kondisi serius dan kritis. Mayoritas pasien dalam kondisi cukup parah adalah pasien lanjut usia atau memiliki penyakit bawaan, meskipun tidak sedikit orang berusia muda yang juga dalam perawatan intensif dan meninggal akibat virus ini.

Dilansir dari laman worldometers, hingga kini virus corona telah menginfeksi lebih dari 75 juta orang di dunia, sementara lebih dari 1,6 juta orang telah meninggal dunia akibat virus ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari 53 juta orang di antaranya telah dinyatakan sembuh.

Lima negara dengan kasus COVID-19 terbanyak antara lain Amerika Serikat dengan total lebih dari 17 juta kasus, India lebih dari 10 juta kasus, Brasil lebih dari 7 juta kasus, Rusia 2,8 juta kasus dan Prancis 2,4 juta kasus. Sementara itu Indonesia sendiri saat ini berada di urutan ke-20 sebagai negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia.

Meski ada banyak negara yang terdampak parah akibat virus ini, namun ada juga beberapa negara yang dipuji karena cepat tanggap dalam menghadapi pandemi ini. Salah satunya adalah China, yang notabene memiliki letak geografis cukup dekat dengan China daratan.

Menurut data, per tanggal 19 Desember, Taiwan hanya mencatat total 757 kasus dan tujuh meninggal dunia, sementara 616 orang lainnya dinyatakan sembuh.

Alih-alih menghentikan kegiatan ekonominya untuk memperlambat sebaran virus, Taiwan mengambil jalan lain selain menutup perbatasan dan melarang ekspor masker bedah, taiwan juga menggunakan pelacakan kontak dan SIM seluler untuk mengidentifikasi dan memastikan mereka yang dikarantina mematuhi aturan.

Korea Selatan juga dipuji karena pemerintahannya yang agresif melacak penyebaran virus, sehingga jumlah kasus yang relatif rendah dan jumlah kematian yang rendah. Korsel melakukannya dengan mengembangkan tes COVID-19 dan meningkatkan produksi hingga ribuan per hari. Negara ini juga melakukan pengujian secara ekstensif, isolasi dan pengobatan kasus COVID-19 secara cepat.

Pekan ini, beberapa negara di dunia yang paling parah terkena COVID-19 sudah dapat memperoleh akses vaksin COVID-19. Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan mengesahkan mRNA-1273 kandidat vaksin buatan Moderna, sebagai vaksin yang aman dan efektif.

Jika diizinkan, vaksin Moderna akan mengikuti vaksin dari Pfizer-BioNTech, yang telah mulai diberikan oleh AS dan Inggris kepada masyarakat umum. Negara lain seperti Kanada, Arab Saudi, Meksiko dan Kuwait juga telah mengizinkan penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech. Uni Eropa juga kemungkinan akan segera menyusul jika mendapat persetujuan, paling cepat pada 23 Desember mendatang.

Vaksin COVID-19 ketiga yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech buatan China, juga sudah memasuki uji coba tahap akhir. Indonesia sudah memiliki 1,2 juta dosis CoronaVac, vaksin yang diuji sejak Agustus lalu.

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh raksasa farmasi AS Pfizer dan BioNTech Jerman adalah vaksin COVID-19 pertama yang disetujui oleh FDA AS untuk penggunaan darurat. Vaksin ini menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA). Vaksin mRNA mengajarkan sel kita untuk membuat protein yang memicu respons imun di dalam tubuh. Ini berbeda dengan vaksin biasa yang memasukkan kuman yang lemah atau tidak aktif ke dalam tubuh kita.

Vaksin dengan tingkat keefektivan hingga 95 persen ini harus disimpan pada suhu minus 70 derajat celcius. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi distribusi logistik, terutama untuk negara-negara miskin. Inggris adalah negara pertama di dunia yang memakai vaksin ini pada 8 Desember, disusul AS pada 16 Desember kemarin. Singapura, Kanada, Meksiko dan Arab Saudi juga mengizinkan penggunaan vaksin ini.

Vaksin kedua adalah Moderna. Hasil awal dari vaksin Moderna yang dijelaskan sebulan lalu oleh ahli penyakit menular terkemuka di AS, Anthony Fauci, disebut sangat mengesankan

Cara kerjanya sama seperti vaksin Pfizer-BioNTech, vaksin Moderna juga menggunakan teknologi mRNA. Vaksin dengan tingkat efektivitas 94,5 persen ini dapat disimpan selama 30 hari dengan pendinginan, enam bulan pada suhu minus 20 derajat Celcius.

Hingga 16 Desember kemarin belum ada satu pun negara yang menyuntikkan vaksin ini.

Vaksin ketiga adalah Sinovac. Dikembangkan oleh Sinovac Biotech China, vaksin yang dikenal sebagai CoronaVac ini sedang menjalani uji klinis fase tiga di beberapa negara termasuk Brasil dan Indonesia.

Cara kerjanya, vaksin Sinovac menggunakan teknologi vaksin yang tidak aktif, yang menggunakan bentuk virus hidup yang dilemahkan untuk merangsang tubuh menghasilkan respons kekebalan. Vaksin ini mirip dengan vaksin flu dan cacar air.

Vaksin Sinovac dapat disimpan pada suhu lemari es normal 2-8 derajat Celcius, dan dapat stabil hingga tiga tahun. Vaksin ini menjadi solusi bagi negara-negara di mana akses untuk pendingin cukup sulit. Belum ada negara yang menyuntikkan vaksin ini per 16 Desember 2020.