Kalimat Efektif adalah Jembatan dalam Menyampaikan Gagasan, Pahami Ciri-Cirinya

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Agar komunikasi terhadap orang lain dapat lebih dipahami, tentunya kalimat yang digunakan disusun sebaik mungkin. Caranya dengan menggunakan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang punya kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca sama dengan gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis.

Sebuah kalimat dapat dikatakan efektif, apabila dapat disampaikannya pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud dari pembicara atau penulis. Tentunya, kalimat efektif adalah kalimat yang juga disusun berdasarkan kaidah yang berlaku.

Melansir dari Merdeka.com maksud dari kaidah yang berlaku adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Itulah mengapa, memahami kalimat efektif adalah hal yang penting terutama jika diperuntukkan dalam lingkungan akademis. Sebab, berhubungan dengan banyak teks penelitian dan pembelajaran untuk pelajar maupun mahasiswa. Tentunya, dengan kalimat efektif akan membuat tulisan-tulisan yang dihasilkan mudah dipahami oleh pembaca.

Di bawah ini Liputan6.com melansir dari Merdeka.com dan berbagai sumber mengenai kalimat efektif dan berbagai hal yang ada di dalamnya. Tentunya sebagai tambahan wawasan dan memberi pengetahuan akan cara penyusunan kalimat yang tepat, Selasa (29/12/2020).

Pengertian kalimat efektif menurut ahli

Ilustrasi buku Harry Potter. (dok. Pixabay/Novi Thedora)
Ilustrasi buku Harry Potter. (dok. Pixabay/Novi Thedora)

Berdasar buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan sesuai dengan yang diharapkan oleh si penulis atau si pembicara.

Maksudnya, kalimat yang dipilih penulis atau pembicara harus bisa digunakan untuk mengungkapkan gagasan, maksud, atau informasi kepada orang lain secara lugas sehingga gagasan itu dipahami secara sama oleh pembaca atau pendengar.

Maka dengan kata lain, kalimat efektif harus mampu menciptakan kesepahaman antara penulis dan pembaca atau antara pembicara dan pendengar.

Kemudian, menurut Rahayu (2007: 79) berpendapat, bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menimbulkan daya khayal pada pembaca, atau minimal bisa mendekati apa yang dipikirkan oleh sang penulis.

Widjono (2012: 205) memiliki pendapat bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap, serta dapat menyampaikan informasi secara tepat sehingga apa yang disampaikan dapat mudah dipahami oleh pembaca.

Lalu, menurut Suparno dan Yunus (2009: 2.1) berpendapat jika kalimat efektif adalah kalimat yang bisa mewakili kemampuan untuk mengungkapkan gagasan penutur sehingga pendengar atau pembaca mampu memahami gagasan yang terungkap dalam kalimat tersebut, sehingga gagasan yang dimaksud oleh penutur dapat tersampaikan.

Selain itu, menurut Suparlan (2014: 139). kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya dengan baik sehingga pendengar/pembaca akan menangkap gagasan dibalik kalimat tersebut dengan tepat.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Keraf (2004:40) menyatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

Dalam hal ini berarti sebuah kalimat yang dapat mencapai sasarannya dengan menyampaikan gagasan dan informasi yang utuh kepada pembaca sebagai alat komunikasi disebut kalimat efektif.

Ciri-ciri kalimat efektif

Ilustrasi Membaca Buku Credit: pexels.com/Burst
Ilustrasi Membaca Buku Credit: pexels.com/Burst

Masih berdasarkan buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat, bentuk dari kalimat efektif tidak berarti bahwa wujud kalimatnya harus pendek-pendek, namun yang penting adalah kesamaan informasi.

Bisa saja kalimatnya pendek, namun justru membingungkan orang dan bisa jadi kalimatnya panjang, tetapi informasinya mudah dipahami. Itu mengapa, kalimat efektif harus bercirikan kelugasan, ketepatan, serta kejelasan di samping ciri lain, seperti kehematan dan kesejajaran. Berikut penjelasannya:

1. Kelugasan

Kelugasan dalam kalimat efektif adalah mensyaratkan bahwa informasi yang akan disampaikan dalam kalimat itu adalah yang pokok-pokok saja, tidak berbelit-belit, tetapi disampaikan secara sederhana.

2. Ketepatan

Ketepatan dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa informasi yang akan disampaikan dalam kalimat itu harus jitu atau kena benar (sesuai dengan sasaran) sehingga dibutuhkan ketelitian. Kalimat yang tepat tidak akan menimbulkan multitafsir karena kalimat yang multitafsir pasti menimbulkan ketaksaan atau keambiguan (ambiguity), yaitu maknanya lebih dari satu, menjadi kabur, atau bahkan meragukan.

3. Kejelasan

Kejelasan dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa kalimat itu harus jelas strukturnya dan lengkap unsurunsurnya. Kalimat yang jelas strukturnya memudahkan orang memahami makna yang terkandung di dalamnya, tetapi ketidakjelasan struktur bisa jadi menimbulkan kebingungan orang untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya.

4. Kehematan

Kehematan dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa informasi yang akan disampaikan dalam kalimat itu harus cermat, tidak boros, dan perlu kehati-hatian. Untuk itu, perlu dihindari bentuk-bentuk yang bersinonim.

5. Kesejajaran

Kesejajaran dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa bentuk dan struktur yang digunakan dalam kalimat efektif harus paralel, sama, atau sederajat. Dalam hal bentuk, kesejajaran terutama terletak pada penggunaan imbuhan, sedangkan dalam hal struktur, kesejajaran terletak pada klausa-klausa yang menjadi pengisi dalam kalimat majemuk.

Penyebab kalimat jadi tidak efektif

Ilustrasi membaca buku | unsplash.com/@fabspotato
Ilustrasi membaca buku | unsplash.com/@fabspotato

Kalimat jadi tidak efektif karena beberapa faktor. Menurut Putrayasa (2010: 95), faktor penyebab kalimat jadi tidak efektif bisa karena kontaminasi atau kerancuan; pleonasme; ambiguitas atau keambiguan; ketidakjelasan subjek; kemubaziran preposisi; kesalahan logika; ketidaktepatan bentuk kata; ketidaktepatan makna kata; pengaruh bahasa daerah; dan pengaruh bahasa asing. Berikut penjelasannya:

a. Kontaminasi atau Kerancuan

Kontaminasi adalah gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan kerancuan. Kerancuan adalah kalimat yang kacau atau kalimat yang susunannya tidak teratur sehingga informasinya sulit dipahami.

b. Pleonasme

Pleonasme yaitu pemakaian kata-kata yang berlebihan. Penggunaan dua kata yang dengan makna sama tidak perlu, karena menimbulkan makna yang mubazir. Hingga akhirnya terkesan tidak efektif.

c. Ambiguitas atau Keambiguan

Kalimat yang sudah memenuhi ketentuan tata bahasa, namun masih menimbulkan tafsiran ganda, sehingga tidak termasuk kalimat yang efektif.

d. Ketidakjelasan Unsur Inti Kalimat

Kalimat yang baik harus mengandung unsur-unsur yang lengkap. Itulah mengapa, kelengkapan unsur kalimat sekurang-kurangnya harus memenuhi dua hal, yaitu subjek dan predikat.

e. Kemubaziran Preposisi dan Kata

Tidak efektifnya kelimat sering disebabkan pemakaian kata depan (preposisi) yang tidak perlu.

f. Kesalahan Nalar

Nalar menentukan apakah kalimat yang dituturkan adalah kalimat logis atau tidak. Nalar adalah aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis. Pikiran yang logis adalah pikiran yang masuk akal dan bisa diterima.

g. Ketidaktepatan Bentuk Kata

Awalan pe- tidak mendapat bunyi apabila didekatkan pada kata dasar berkonsonan /I/ atau /r/. Bentuk kata seperti itu biasanya dipengaruhi bahasa Jawa.

h. Ketidaktepatan Makna Kata

Jika sebuah kata tidak dipahami maknanya, pemakaiannya mungkin tidak akan tepat. Hal itu menimbulkan keganjilan, kekaburan, dan salah tafsir.

i. Pengaruh Bahasa Daerah

Banyak kata bahasa daerah yang masuk ke bahasa Indonesia untuk memperkaya perbendaharaan kata. Ada beberapa kata bahasa Jawa seperti hebat, becus, lumayan, mendingan, gagasan, gembleng, ganyeng, cemooh, semarak, bobot, macet, seret, awet, sumber, dan melempem.

Kata-kata bahasa daerah yang sudah diserap kedalam bahasa Indonesia tidak jadi masalah jika digunakan dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Tapi, bahasa daerah yang belum masuk ke dalam bahasa Indonesia perlu dihindari agar tidak menimbulkan kemacetan dalam berkomunikasi sehingga informasi yang disampaikan tidak efektif.

j. Pengaruh Bahasa Asing

Pengaruh bahasa asing di satu sisi dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia, namun di sisi lain dapat juga mengganggu kaidah tata bahasa Indonesai sehingga menimbulkan kalimat jadi tidak efektif.