Kalsel andalkan Fahriansyah dulang emas gulat PON Papua

·Bacaan 5 menit

Cabang olahraga gulat tetap menjadi andalan kontingen Provinsi Kalimantan Selatan mendulang medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 tahun 2021 di Provinsi Papua.

PON yang akan dibuka Presiden RI Ir H Joko Widodo pada 2 Oktober 2021 tersebut menjadi PON keempat yang diikuti Fahriansyah sebagai salah satu pegulat andalan Kalsel.

Fahriansyah menjadi salah satu dari sembilan pegulat yang diturunkan untuk mempertahankan tradisi medali emas yang didapat kontingen Kalsel disetiap ajang PON.

Pegulat kelahiran Rantau (Kabupaten Tapin, Kalsel) pada 26-11-1987 tersebut akan kembali turun di nomor 86 Kg gaya bebas.

Fahriansyah lolos ke ajang PON untuk kesekian kalinya karena berhasil meraih medali emas pada ajang pra-PON.

Fahriansyah memang memiliki sejarah panjang membela Kalsel di PON, yakni, dari PON ke-17 tahun 2008 di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), turun di nomor 74 Kg, dia sudah meraih medali emas.

Di PON ke-18 tahun 2012 di Provinsi Riau, Fahriansyah kembali jadi andalan pada nomor 74 Kg, kegigihannya dalam bertarung pun tidak bisa dikalahkan lawan, hingga kembali mempertahankan medali emasnya.

Baca juga: Fahriansyah Bangga Pertahankan Medali Emas Gulat SEA Games

Tapi di PON ke-19 tahun 2016 di Provinsi Jawa Barat, Fahriansyah yang naik kelas ke nomor 86 Kg, harus merelakan medali emasnya direbut lawan, dia hanya meraih medali perunggu.

Bukan tanpa alasan Fahriansyah harus kalah, cedera yang menderanya membuatnya harus kalah dengan lawan yang sebenarnya sudah dikalahkannya pada pra-PON. Padahal pada pra-PON tahun 2015 itu dia meraih medali emas.

Pada PON ke-20 tahun 2021 di Papua ini, Fahriansyah bertekad merebut kembali medali emasnya, dia pun sudah sangat siap untuk bertanding meraih prestasi di PON yang mungkin terakhir kalinya bisa diikutinya lagi.

Baca juga: Para pegulat Kalsel peraih medali PON Jabar turun lagi di PON Papua

Usia yang terus bertambah, kini usianya akan menapaki 34 tahun, di mana peraturan cabang olahraga gulat nasional pada PON hanya membatasi maksimal usia 35 tahun bagi atlet yang boleh ikut, Fahriansyah bertekad mendapat kado manis di akhir karirnya di PON ini.

Dia pun merasa mampu untuk meraih prestasi tertinggi di nomor 86 Kg yang diikutinya kali ini, karena lawan yang akan dihadapinya dapat diperhitungkan kemampuannya. Sebab sudah jadi lawannya di pra-PON.

"Mereka sangat hebat-hebat, tapi saya harus percaya diri mampu melawan mereka hingga menang, sebagaimana pada pra-PON, saya bisa meraih medali emas," tuturnya.

Fahriansyah menyatakan terus berlatih mengasah kemampuan, menjaga stamina dan semangat untuk mewujudkan mimpinya terbut di PON Papua.

Meskipun pandemi COVID-19 yang terus mengancam, menjaga protokol kesehatan dan stamina harus terus dilakukannya dengan disiplin dibawah bimbingan para pelatihnya.

Dia percaya, dengan berlatih yang kuat, disiplin dan taat pada bimbingan pelatih, prestasi akan didapat, di mana ini yang dijalaninya hingga sampai berprestasi baik ajang nasional hingga internasional.

Selanjutnya pegulat Timnas

Pegulat Indonesia Fahriansyah (kanan) siap bertarung dengan pegulat asal Thailand Wanna Sihichai saat pertandingan gulat kelas 74 Kg gaya bebas pada SEA Games Ke XXVI di Gedung Serbaguna Jakabaring Sumatera Selatan, Kamis (17/11). Fahriansyah berhasil meraih medali perak sedang medali emas diraih pegulat asal Vietnam Can Tat Du dan perunggu diraih pegulat asal Thailand Wanna Sihichai. (FOTO ANTARA/Basrul Haq)
Pegulat Indonesia Fahriansyah (kanan) siap bertarung dengan pegulat asal Thailand Wanna Sihichai saat pertandingan gulat kelas 74 Kg gaya bebas pada SEA Games Ke XXVI di Gedung Serbaguna Jakabaring Sumatera Selatan, Kamis (17/11). Fahriansyah berhasil meraih medali perak sedang medali emas diraih pegulat asal Vietnam Can Tat Du dan perunggu diraih pegulat asal Thailand Wanna Sihichai. (FOTO ANTARA/Basrul Haq)


Pegulat Timnas

Nama Fahriansyah di cabang olahraga gulat nasional sudah cukup dikenal, sebab, pria yang kini sudah memiliki tiga buah hati dengan seorang PNS bernama Puspa Sari ini menjadi langganan di tim nasional cabang olahraga gulat.

Tentunya aset olahraga Kalsel ini tidak bisa diragukan lagi kemampuannya, seban dia sudah mengikuti beberapa gelaran SEA Games atau pesta olahraga Asia Tenggara untuk membela tanah air ini.

Membanggakannya, Fahriansyah dapat meraih prestasi gemilang di ajang SEA Games tersebut, seperti SEA Games pertamanya pada 2007 di Thailand, dia langsung bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

Timnas kembali memanggilnya pada SEA Games tahun 2009 di Laos. Kepercayaan itu pun dibalasnya lagi dengan meraih medali emas.

Tapi pada ajang SEA Games tahun 2011 di Indonesia sendiri (Jakarta-Palembang), raihan medalinya menurun ke medali perak.

Baru pada SEA Games tahun 2013 di Myanmar, Fahriansyah kembali memperlihatkan kemampuan terbaiknya, medali emasnya pun kembali ke pangkuannya.

Tidak hanya di ajang SEA Games, Fahriansyah juga dipercaya Timnas untuk berlaga di Asean Games, ajang olahraga seluruh negara Asia, yakni, pada 2010 di China, pada 2014 di Korea dan 2018 di Indonesia. Dia belum bisa mempersembahkan medali untuk Indonesia.

Baca juga: Pegulat Fahriansyah tersingkir di delapan besar

Awal jadi atlet gulat

Fahriansyah dilahirkan di Rantau Kabupaten Tapin pada 26 November 1987 dari pasangan Ishak dan Siti Aisyah. Fahriansyah anak ke-7 dari sepuluh bersaudara.

Fahriansyah kecil menempuh pendidikan SD hingga SMP di daerah kelahirannya tersebut, baru melanjutkan pendidikan SMA ke Kota Banjarmasin.

Bakat gulat tidak diwarisinya dari ayahnya, dia mengaku hanya anak biasa yang suka dengan olahraga gulat.

Dengan bimbingan seorang pelatih gulat dari tanah kelahirannya, yakni, bapa Suhaimi, dia mulai menggeluti olahraga tersebut.

"Awal mulai berlatih itu pada tahun 2003, saat itu saya sudah SMA," ujarnya.

Karena bakatnya mulai menonjol, dia pun masuk pusat pelatihan pendidikan pelajar di bawah dinas pendidikan.

Fahriansyah muda mulai serius menjalani olahraga gulat tersebut, hingga akhirnya bakatnya tersebut dilirik para pelatih daerah hingga diikutkan pada ajang-ajang pertandingan lebih tinggi.

Puncaknya pada tahun 2008, dia dipercaya mengikuti PON di Kaltim. Kepercayaan itu dibalasnya dengan raihan medali emas.

Di PON-PON berikutnya pun namanya tidak pernah absen, hingga di PON ke-20 tahun 2021 ini di Provinsi Papua, Fahriansyah tetap dipercaya.

"Saya cinta olahraga gulat, saya akan tetus berbakti kepada daerah dan negara di olahraga," ujarnya.

Baca juga: Pegulat Kaltim Aliansyah optimistis rebut medali emas keempat di PON
Baca juga: Sumbar optimistis raih dua medali emas gulat pada PON Papua

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel