"Kami Tidak Lupa dan Menyesal, Kami akan Terus Berjuang Meski Tak Ada Pertolongan"

Merdeka.com - Merdeka.com - Pada Senin jam delapan malam, suara pukulan wajan dan panci yang familiar kembali menggema di jalan-jalan Yangon, Myanmar. Suara tersebut merupakan simbol perlawanan rakyat yang menuntut kembalinya demokrasi setelah kekuasaan direnggut militer melalui kudeta tahun lalu.

Warga kembali mendendangkan suara perlawanan itu setelah empat aktivis pro demokrasi dihukum mait militer baru-baru ini. Mereka yang dieksekusi di antaranya aktivis demokrasi Kyaw Min Yu atau dikenal dengan nama Ko Jimmy, mantan anggota parlemen dan artis hip hop Phyo Zeya Thaw. Dua orang lainnya yaitu Hla Myo Aung dan Aung Thura Zaw.

Eksekusi ini menuai kecaman internasional serta kengerian di dalam negeri.

Wakil Direktur Eksekutif Organisasi HAM Chin, Salai Za Uk Ling mengatakan rakyat Myanmar sangat menyadari kekejaman junta sejak kudeta. Kendati demikian, eksekusi tersebut tetap mengejutkan.

"Dalam penampakan kebrutalan publik seperti itu, saya tidak tahu pembenaran apa yang akan mereka berikan," ujarnya, dikutip dari The Guardian, Kamis (28/7).

Organisasi yang dipimpin Salai Za ini mendokumentasikan kekejaman termasuk pembakaran rumah penduduk dan pembantaian warga sipil oleh militer Myanmar. Salai Za menambahkan, eksekusi ini menggambarkan junta tidak peduli dengan reputasi mereka di mata dunia.

Aktivis HAM lainnya, Thet Swe Win (36) mengaku takut bakal ada serangkaian eksekusi lainnya. Puluhan tahanan lainnya juga dijatuhi hukuman mati.

"Ini mirip dengan peluru pertama yang mereka tembakkan ke Mya Thwate Thwate Khaing," ujar Direktur Eksekutif Synergy ini.

"Lalu mereka membunuh lebih banyak demonstran selama tindakan represif (aparat)."

Anggota Generation Wave, Ei Ei Moe (33) berharap rakyat tetap bersatu. Generation Wave adalah gerakan yang turut dibentuk Phyo Zeya Thaw.

"Saya bahkan tidak bisa menangis ketika mendengar tentang eksekusi itu, jantung saya mau copot. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya masih berpikir dia masih bersama kami," ujarnya.

Phyo Zeya Thaw merupakan salah satu generasi pertama rapper di Myanmar yang musiknya berisi kritik terhadap rezim militer sebelumnya. Dia kemudian terpilih menjadi anggota parlemen.

Para pengamat mengatakan eksekusi ini bertujuan untuk menghancurkan oposisi yang tetap melakukan perlawanan kendati terus ditumpas militer.

Namun para aktivis mengatakan mereka tak gentar.

"Generasi ini tidak akan takut. Jika mereka membunuh seorang Zeya Thaw, akan ada Zeya Thaw lainnya yang tidak terhitung jumlahnya," kata Ei Ei Moe.

"Kami tidak takut," kata aktivis Myanmar lainnya, Ella Chris.

Dia mengatakan sosok Kyaw Min Yu merupakan idola bagi generasi pro demokrasi yang lebih muda. Kyaw Min Yu terkenal sejak menjadi pemimpin mahasiswa dalam pemberontakan 1988 menentang rezim militer saat itu.

'Kami tidak lupa'

lupa
lupa.png

Kelompok etnis bersenjata yang yang membentuk Pasukan Perlawanan Rakyat (PDF) di berbagai daerah juga mengutuk eksekusi tersebut. Tentara Arakan yang merupakan perwakilan Tentara Kemerdekaan Kachin menyebut eksekusi itu tindakan "bodoh" yang merusak prospek negosiasi.

Pasukan Pertahanan Warga Karenni di Myanmar timur berjanji membalas "kejahatan perang" militer. Kelompok perlawanan yang berbasis di Yangon yang dibentuk pemerintah persatuan nasional atau pemerintah oposisi juga bersumpah untuk membalas kematian empat aktivis tersebut.

Pada Senin, pejuang gerilya di Yangon dan Mandalay menyerang target junta, sementara para pengunjuk rasa di Yangon membentangkan poster bertuliskan "kami tidak pernah takut" sebelum membubarkan diri untuk menghindari penangkapan.

Aktivis anti kudeta, Thinzar Shunlei Yi mengatakan mereka akan tetap melanjutkan perjuangan walaupun nyawa menjadi taruhannya.

"Tidak hanya nyawa kami sendiri, tapi juga mempertaruhkan nyawa keluarga kami, teman-teman kami," ujarnya.

Sut Seng Htoi, aktivis asal Kachin, Myanmar utara mempertanyakan respons internasional.

"Saya herap mengapa mereka tidak mengambil tindakan apapun," ujarnya.

"Itu membuah saya semakin tidak percaya terhadap komunitas internasional dan PBB," ujarnya.

Thet Swe Win mengatakan komunitas internasional "harus mengambil langkah nyata" bukan sebatas mengeluarkan pernyataan.

"Kami tidak lupa dan kami tidak menyesal. Kami akan terus berjuang, meski tidak ada pertolongan untuk kami." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel