Kamila Andini sebut bahasa daerah bikin dialog film lebih berirama

Sutradara Kamila Andini mengaku selalu menggunakan bahasa lokal dalam setiap filmnya lantaran dapat memberikan irama dan gestur yang unik dari pemainnya.

"Kalau pakai bahasa Indonesia, pasti intonasinya sangat Jakarta atau Indonesia banget," ujar Kamila dalam acara Netflix "On The Scene: The Present and Future Film" di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Film "Nana" pulang kampung, tayang di Bandung

"Ketika pakai bahasa daerah ada irama, gestur dari pemain-pemainnya, ada tempo dan ritme yang berbeda. Ini adalah keunikan dari daerah-daerah di Indonesia," lanjutnya.

Sutradara film "Before, Now & Then (Nana)" itu, mengatakan setiap bahasa daerah memiliki karakter dan keunikannya sendiri.

Beberapa film Kamila yang menggunakan bahasa daerah adalah "Yuni" dengan Jawa-Serang, Sunda Banten dan Bebasan. Kemudian "Before, Now & Then (Nana)" menggunakan bahasa Sunda, serta "Sekala Niskala" pakai bahasa Bali.

Baca juga: Jakarta Film Week 2022 ditutup, ini daftar film yang raih penghargaan

Menurutnya, orang Indonesia dan juga penonton dari negara lain sudah terbiasa menyaksikan film menggunakan subtitle atau teks terjemahan. Penggunaan bahasa daerah atau lokal pun dianggap Kamila bukan sebuah halangan untuk mengenalkan film.

"Saya generasi yang besar dengan subtitle karena di Indonesia kan tidak seperti Eropa yang semuanya di dub. Jadi saya merasa enggak masalah harus nonton film dengan subtitle," kata Kamila.

Sementara itu, Kamila mengaku kehadiran platform streaming cukup membantu dalam mendistribusikan film-filmnya yang bergenre cukup spesifik dan kurang diminati oleh penonton bioskop konvensional.

Platform streaming juga membuat penonton mendapat lebih banyak pilihan genre film sehingga tontonannya lebih bervariasi.

"Kebetulan saya bikin film yang spesifik yang sebetulnya punya kesulitan besar ketika rilis di sinema (bioskop), karena biasanya enggak dapat banyak layar. Sekarang kemungkinan mereka bisa mengakses film-film saya," ujar Kamila.

Baca juga: Isu universal jadi syarat agar film lokal disukai global

Baca juga: "Before Now and Then" raih film terbaik di APSA

Baca juga: Dian Sastrowardoyo & Putri Marino bintangi "Gadis Kretek"