Kampanye pemilihan Singapura dimulai, saudara laki-laki PM tidak calonkan diri

SINGAPURA (AP) - Kakak Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong yang terasing tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan umum bulan depan, tetapi mengatakan pada Selasa bahwa ia berharap menjadi "katalisator perubahan" saat kampanye dimulai.

Lee Hsien Yang, yang membawa perseteruan keluarganya ke politik dengan bergabung dengan partai oposisi, mengatakan Partai Aksi Rakyat yang memerintah telah "kehilangan arah" sejak ayahnya, Lee Kuan Yew, menjabat perdana menteri. Ia mengatakan bukti empiris menunjukkan bahwa politik dinasti menyebabkan pemerintahan yang buruk dan kepemimpinan Singapura telah mengecewakan rakyat.

"Saya memilih untuk tidak mencari jabatan politik karena saya percaya Singapura tidak membutuhkan Lee lagi," Lee Hsien Yang mengatakan dalam sebuah pernyataan di Facebook. "Saya tidak mencari kekuasaan, prestise, atau imbalan finansial dari jabatan politik. Saya berharap untuk menjadi katalisator untuk perubahan."

“Kami membutuhkan ide-ide baru untuk menghidupkan kembali Singapura. Kita harus berdiskusi dengan sungguh-sungguh dan debat keras yang melibatkan beragam suara Singapura saat kami berusaha menavigasi perairan yang menantang ke depan," tambahnya, mendesak warga Singapura untuk "memberikan suara tanpa rasa takut "untuk masa depan yang lebih baik.

PAP, yang telah memerintah Singapura sejak 1959, telah dipuji karena manajemen ekonominya tetapi juga dikritik karena memberangus media dan suara-suara yang berbeda pendapat. Partai itu memenangkan kemenangan besar pada 2015 dengan 69,9% dari total suara dan meraih 83 dari 89 kursi parlemen. Tahun ini, partai itu memperebutkan
semua 93 kursi parlemen tetapi oposisi terpecah belah.

Perdana Menteri Lee, 68, mengatakan kepada wartawan setelah mengajukan pencalonannya pada Selasa bahwa ia tidak khawatir tentang pengaruh saudaranya atas pemilih. Pemilihan umum diharapkan menjadi yang terakhir bagi Lee, yang telah berkuasa sejak 2004 dan berencana pensiun.

“Adapun Lee Hsien Yang, saya tidak punya komentar. Dia berhak berbicara, seperti orang lain. Saat ini di media sosial kita dapat memiliki lima, enam juta suara di internet. Masyarakat akan menilai mana yang layak didengarkan, mana yang masuk akal," kata perdana menteri.