Kampung Digital, Harapan Baru Cegah Anak Putus Sekolah

Lutfi Dwi Puji Astuti, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 3 menit

VIVAPandemi sebagai krisis kesehatan dapat berdampak menelantarkan banyak orang, termasuk anak-anak. Anak dan remaja adalah korban yang tidak terlihat, mengingat adanya dampak panjang terhadap kesehatan, kesejahteraan, perkembangan, dan masa depan anak. Dampak tidak langsung ini salah satunya dirasakan saat dunia menghentikan sementara proses pembelajaran secara tatap muka.

Menurut data UNESCO tahun 2020, ada 260 juta anak di dunia tidak bisa mengakses pendidikan karena keterbatasan dan 24 juta di antaranya terancam putus sekolah. Sedangkan, menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebanyak 60 juta siswa tidak dapat belajar di sekolah. Tentunya cara ini sudah dirasa tepat untuk menghindari adanya penyebaran virus di area sekolah. Namun, sayangnya tidak semua anak di negeri kita ini mempunyai sumber daya untuk mengakses pendidikan secara daring.

Masih banyak anak yang memiliki keterbatasan, terutama anak-anak yang berisiko atau telah kehilangan pengasuhan orang tua. Ini juga memunculkan kekhawatiran adanya peningkatan angka putus sekolah yang sudah mencapai 4,34 juta jiwa berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019.

Dalam kondisi sulit ini, anak dan remaja yang telah atau berisiko kehilangan pengasuhan orang tua merasakan dampak yang signifikan, seperti minimnya akses kesehatan dan ketiadaan fasilitas pembelajaran jarak jauh. Anak dan remaja yang tidak mendapatkan pengasuhan orang tua cenderung terdampak lebih parah ketika terjadi bencana, termasuk pandemi COVID-19. Oleh karena itu, mereka membutuhkan perhatian lebih saat ini.

Salah satu solusi untuk keterbatasan anak-anak yang tidak memiliki sumber daya untuk menempuh pendidikan daring adalah pengadaan infrastruktur yang mumpuni. SOS Children’s Villages Indonesia sendiri sudah menyiapkan program Digital Village & Library (Kampung dan perpustakaan Digital) untuk dapat mendukung anak-anak dalam proses pembelajaran jarak jauh, pengembangan diri, hingga persiapan remaja menuju kemandirian.

Konsep Digital Village yaitu menyediakan perangkat komputer dan jaringan internet di setiap rumah keluarga atau dalam sebuah komunitas dengan tujuan sebagai media untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan diri anak dan keluarga. Di SOS Children’s Village Flores, misalnya, pemasangan Digital Village dilakukan sejak Desember 2019. Di tengah kondisi pandemi dan anak-anak tidak bisa sekolah, program Digital Village ini kembali dikencangkan.

"Saya baru memulai kuliah di jurusan Sistem Informasi. Karena pandemi, kuliah dilakukan jarak jauh secara online. Saya bersyukur ada dukungan komputer dan jaringan internet di rumah sehingga tidak kesulitan mengikuti perkuliahan dengan baik hingga saat ini. Saya juga mendapat kesempatan untuk mengikuti computer programming course secara online yang diselenggarakan oleh Mentors Without Borders yang berlokasi di Bacau, Rumania,” cerita Lisa, remaja SOS Children’s Village Semarang.

Di daerah lain, ada anak-anak Komunitas Kampung Jawa di Banda Aceh yang turut merasakan manfaat Digital Village. Kampung Jawa merupakan salah satu komunitas dampingan Family Strengthening Program SOS yang terletak di pinggiran kota Banda Aceh yang penduduknya kebanyakan bekerja sebagai pemulung dan nelayan. Sehari-hari, anak-anak disibukkan dengan membantu orang tua memulung dan mencari ikan di laut.

Keterbatasan ekonomi mengharuskan anak-anak ikut membantu orang tua mereka mencari nafkah. Bahkan, banyak anak dari Kampung Jawa yang melupakan pendidikan formal, terutama di masa pandemi ini, karena tidak memiliki ketersediaan perangkat untuk belajar online dan jaringan internet.

Menyikapi hal tersebut, SOS Children’s Village Banda Aceh membantu menyediakan solusi untuk anak yang ingin belajar dan mengembangkan bakat yang dimiliki. Pembina SOS Banda Aceh mengadakan les komputer setiap dua kali dalam seminggu. Anak-anak di Kampung Jawa dijemput menggunakan mobil operasional dan menuju SOS Banda Aceh dengan dampingan seorang ketua pemulung, Ibu Juariyah.

Anak-anak yang mengikuti les komputer berkisar 10-15 anak setiap minggunya. Mereka diajarkan untuk mengenal perangkat komputer, mengoperasikan komputer dasar. Pembelajaran dilakukan bertahap sampai mereka bisa melanjutkan ke tahap yang lebih mendalam.

SOS Children’s Villages Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang fokus pada pengasuhan alternatif dan penguatan keluarga rentan, memiliki tiga komitmen dasar yang diwujudkan bagi terpenuhinya pemenuhan hak anak-anak, yaitu Pengasuhan, Kesehatan, dan Pendidikan. Selama 48 tahun SOS Children’s Villages memastikan anak-anak yang diasuh dan didampingi mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan, tak terkecuali di tengah kondisi pandemi ini.

Totalnya ada 940 anak yang telah kehilangan pengasuhan diasuh di 8 lokasi SOS Children’s Villages di Indonesia. Selain itu, SOS juga memiliki program penguatan keluarga bagi keluarga rentan di 10 lokasi Indonesia. Dari ribuan keluarga yang didampingi, SOS juga memastikan 6326 anak yang berisiko kehilangan pengasuhan mendapatkan pemenuhan atas hak-hak mereka.