Kampus Bisa Tatap Muka, Menko Airlangga Optimis Ekonomi RI Normal Lagi

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, kembali dibukanya aktivitas tatap muka untuk perguruan tinggi atau akademi dan kegiatan seni budaya 25 persen kapasitasnya akan membuat aktivitas ekonomi akan kembali normal.

Keduanya akan diberlakukan seiring dengan kebijakan perpanjangan dan perluasan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro pada 23 Maret sampai dengan 5 April 2021 di 15 daerah.

"Kita harap aktivitas ekonomi yang secara normal dan kegiatan sosial budaya yang terbatas dan juga akan segera dimulai pendidikan tatap muka secara terbatas dalam bentuk prototipe, percobaan yang dilakukan dua minggu ke depan," kata dia secara virtual, Jumat, 19 Maret 2021.

Dengan dua langkah ini, Airlangga menganggap, masyarakat akan kembali produktif. Sebab, kedua kebijakan ini telah diperkuat dengan proses vaksinasi yang yelah dijalankan sejak awal tahun ini, ditambah penerapan protokol kesehatan.

"Ini tentu diharapkan bisa secara produktif dan aktif terus dimonitor dengan protokol kesehatan dan tentu dengan vaksinasi kepada para pengajar ataupun dosen. Sesudah demand pulih kita melihat indeks keyakinan konsumen di beberapa daerah kecuali di Jakarta, Yogyakarta dan Bali yang masih rendah," papar dia.

Airlangga meyakini, program ini akan bisa menciptakan keadaan normal. Vaksinasi diyakininya bisa menjadi faktor psikologis untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat melakukan permintaan terhadap barang ataupun jasa.

"Melalui vaksinasi ini bisa memulihkan kepercayaan masyarakat sehingga tentu kita berharap demand akan pulih dan dengan demand pulih, supply terjaga. Kita tidak ingin ada lonjakan demand namun supply-nya tidak siap terutama terkait sektor manufaktur mereka harus menghidupkan kembali supply chain-nya," tegas Airlangga.

Kembali dimulainya aktivitas tatap muka di sektor pendidikan dan seni budaya ini menurutnya tidak akan membuat aktivitas di sektor digital kembali ditinggalkan masyarakat. Ini karena efektivitasnya telah dirasakan masyarakat.

"Pekerja seni melalui film dan lain-lainnya, selama ini ada kesempatan yang namanya digital streaming ini opportunity bisnisnya meningkat. Terkait kegiatan lain atau pertunjukkan publik tentu ini menunggu keyakinan konsumen dan seiring vaksinasi," ungkapnya.