Kampus Merdeka Kementan Siap Transformasikan Kurikulum

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian (Kementan) terus memaksimalkan peran pendidikan vokasi pertanian untuk menghasilkan SDM milenial yang handal. Salah satunya dengan mentransformasikan kurikulum untuk mendukung Merdeka Belajar.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, yakin dengan pendidikan vokasi akan hadir para petani milenial yang berkualitas.

"Dengan pendidikan vokasi, kami berharap hadir petani milenial yang mampu memberikan inovasi dalam pertanian. Karena bagaimanapun, masa depan pertanian ada di generasi milenial," katanya.

Sedangkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa guna mendukung pembangunan pertanian maju, mandiri dan modern, perlu dilakukan penyiapan, pencetakan SDM pertanian unggulan.

"Melalui pendidikan vokasi, Kementan melahirkan SDM yang kompetitif sebagai tenaga kerja pertanian andal dan unggul (job seeker) serta sebagai pengusaha pertanian milenial andal, kreatif, inovatif, profesional, serta mampu menyerap lapangan pekerjaan sektor pertanian sebanyak mungkin (job creator)," ujar Dedi.

Dedi mengatakan bahwa pendidikan merupakan landasan pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan wawasan yang akan membentuk kompetensi pada sumber daya manusia, tak terkecuali sumber daya manusia pertanian yang merupakan faktor kunci pada peningkatan produktivitas pertanian.

Menyepakati kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, BPPSDMP melalui Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) mengambil langkah exit strategy penyelenggaraan pendidikan vokasi yang dilaksanakan di Politeknik Pembangunan Pertanian lingkup Kementan melalui Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Workshop Pengembangan Kurikulum dan Koordinasi Pengembangan Karakter Mahasiswa Politeknik Kementan yang diselenggarakan di Ruang Jinten Surabaya Suites Hotel, 4 - 6 November.

Selain membahas exit strategy penyelenggaraan pendidikan vokasi, dibahas pula penyelenggaraan program percepatan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Dalam forum yang dihadiri okeh wakil direktur I bidang akademik dari Polbangtan dan PEPI seluruh Indonesia dilakukan brainstorming untuk mendapatkan dan menyepakati sebuah mekanisme penyusunan kurikulum yang mengacu pada program Kementan sesuai pada Rumpun Ilmu Hayati Lingkup Pertanian (RIHP)

"Saat ini kita berupaya melakukan transformasi kurikulum penyelenggaraan pendidikan sehingga kita bisa men-support perwujudan penumbuhan 2,5 juta petani milenial, Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan program-program utama Kementerian Pertanian," tegas Koordinator Penyelenggara Pendidikan Pusdiktan Inneke Kusumawati.

Inneke pun mengharapkan dengan adanya transformasi kurikulum diharapkan menghasilkan wirausaha pertanian dan pekerja profesional.

Hal tersebut dapat dicapai dengan mensinergikan akademisi, bisnis, pemerintah, media DPM/DPA pada proses pembelajaran (TEFA, magang, program Kementan). Sehingga dapat menciptakan SDM Pertanian unggul yang berdampak pada peningkatan produktivitas pertanian Indonesia.

Disela-sela kegiatan, Wakil Direktur I Polbangtan Malang, Novita Dewi K, mengungkapkan perlunya pembahasan untuk membuat program study yang spesifik dalam menghadapi isu-isu strategis terkait Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel