Kanada, Negara Maju yang Tertinggal dalam Program Vaksinasi Covid-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Ottawa - Kanada telah mengamankan jumlah terbesar di dunia atas komitmen vaksin Covid-19 potensial per kapita.

Namun, negara kategori maju itu masih berjuang dalam hal secara nyata menerima beberapa dosis tersebut, dan untuk mendistribusikannya hingga ke bentuk ampul jarum yang siap disuntikkan ke lengan warganya.

Negeri maple juga sibuk menyelamatkan muka atas kenyataan bahwa mereka harus menarik pasokan vaksin Covid-19 dari inisiatif inokulasi global yang dikenal sebagai Covax, yang mengumpulkan dana dari negara kaya untuk menyokong vaksinasi bagi negara berpenghasilan rendah.

Kanada adalah satu-satunya anggota kelompok G7 dari negara-negara kaya yang terdaftar sebagai penerima Covax pada tahap ini.

Pada Jumat 12 Februari 2021, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menjanjikan "peningkatan besar" dalam dosis yang datang ke Kanada dari vaksin Pfizer dan Moderna --dua varian vaksin yang saat ini diotorisasi untuk digunakan di negara itu.

Trudeau mengumumkan bahwa Kanada akan mendapatkan beberapa dosis Pfizer lebih awal dari jadwal dan telah membeli empat juta dosis tambahan vaksin Moderna.

Dia mengatakan dia memahami "kecemasan" tentang gangguan baru-baru ini.

Dalam upaya untuk meningkatkan produksi domestik, Kanada mengumumkan pekan lalu bahwa mereka menandatangani kesepakatan pertamanya untuk memungkinkan vaksin virus corona asing, yang dikembangkan oleh Novavax, untuk diproduksi secara lokal.

Namun, vaksin itu masih dalam uji coba fase tiga dan fasilitas produksi Montreal tetap dibangun.

Selain itu, negara ini telah mengesahkan enam dosis yang akan diambil dari setiap botol vaksin Pfizer daripada lima yang semula dimaksudkan.

Trudeau di Bawah Tekanan

Seorang perempuan mengenakan masker saat melintasi jalan raya Rene-Levesque di Montreal, Kanada, Minggu (10/1/2021). Pemerintah Quebec memberlakukan lockdown dan jam malam untuk membantu menghentikan penyebaran COVID-19 yang berlangsung hingga 8 Februari. (Graham Hughes/The Canadian Press via AP)
Seorang perempuan mengenakan masker saat melintasi jalan raya Rene-Levesque di Montreal, Kanada, Minggu (10/1/2021). Pemerintah Quebec memberlakukan lockdown dan jam malam untuk membantu menghentikan penyebaran COVID-19 yang berlangsung hingga 8 Februari. (Graham Hughes/The Canadian Press via AP)

PM Kanada Justin Trudeau berada di bawah tekanan dari para kritikus yang mengatakan dia belum mengirimkan vaksin cukup cepat.

Kritikus menggunakan janji Trudeau --yang mengatakan bahwa warga Kanada akan mulai divaksin pada September 2020-- sebagai bahan kritik.

Namun, inokulasi Kanada baru dimulai pada 14 Desember 2020, dengan negara itu sejauh ini telah memberikan lebih dari 1,18 juta dosis.

Angka itu tak cukup memuaskan bagi negara sekaliber Kanada, di mana mereka saat ini berdiri di peringkat 40 global untuk dosis vaksin yang telah disuntikkan per 100 orang, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg.

Hanya lebih tiga dari 100 orang Kanada telah menerima setidaknya satu dosis, dibandingkan dengan sekitar 14 : 100 di AS dan 21 : 100 di Inggris.

Kanada mencatatkan lebih dari 823.000 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di negara itu, dan lebih dari 21.000 kematian.

Situasi yang dihadapi Kanada saat ini pun tampak jauh lebih buruk, di mana pada Desember 2020, negara itu sempat dikritik karena telah membeli dosis vaksin lima kali lipat lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk populasi mereka.

Dan kenyataanya saat ini, total pemberian vaksin mereka terpaut 100 ribu di bawah Indonesia, menurut Bloomberg Vaccines Tracker yang dilihat pada Sabtu 13 Februari 2021.

Kesepakatan dengan 7 Pemasok Vaksin

Rene-Levesque Boulevard terlihat sepi setelah pemberlakuakn jam malam di Montreal, Kanada pada 9 Januari 2021. Perdana Menteri Quebec, Francois Legault memerintahkan jam malam untuk membendung lonjakan infeksi dan pasien rawat inap terkait dengan virus corona COVID-19. (Eric THOMAS / AFP)
Rene-Levesque Boulevard terlihat sepi setelah pemberlakuakn jam malam di Montreal, Kanada pada 9 Januari 2021. Perdana Menteri Quebec, Francois Legault memerintahkan jam malam untuk membendung lonjakan infeksi dan pasien rawat inap terkait dengan virus corona COVID-19. (Eric THOMAS / AFP)

Kanada saat ini telah menandatangani kesepakatan dengan tujuh pemasok vaksin - Moderna dan Pfizer, serta perusahaan farmasi yang saat ini otorisasi-nya masih tertunda seperti AstraZeneca dan Johnson dan Johnson - dengan total lebih dari 400 juta dosis.

Tapi tampaknya itu tidak diposisikan untuk prioritas pengiriman vaksinasi dua dosis.

Hal itu sebagian disebabkan karena Kanada memutuskan untuk berinvestasi dalam vaksin dari pabrik-pabrik Eropa, takut bahwa AS, di bawah mantan presiden Donald Trump, akan mengeluarkan larangan ekspor.

Tetapi pabrik-pabrik Eropa sendiri tengah berjuang dengan pasokan vaksin dan baru-baru ini adalah Uni Eropa, bukan AS, yang telah mengancam larangan tersebut.

Selain itu, Kanada pun tidak memiliki kapasitas produksi domestik untuk vaksin.

Ada keterlambatan pengiriman, dengan pesanan yang dikurangi atau dibatalkan, dalam beberapa minggu terakhir untuk inokulasi Moderna dan Pfizer.

Menurut majalah Maclean, pasokan Kanada saat ini tertinggal sekitar satu juta dosis dari target.

Pada minggu ini, 2,43% dari populasi telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

Hampir 12% orang berusiadi atas 80 dan lebih dari 55% tenaga kesehatan prioritas telah menerima setidaknya satu suntikan, menurut data pemerintah.

Kanada mengharapkan enam juta dosis diberikan pada Maret 2020.

Simak video pilihan berikut: