Kangen Timnas Garuda yang Dulu

Syahdan Nurdin, benword196-888
·Bacaan 5 menit

VIVA – Tim Nasional Indonesia sudah dipastikan gagal melaju ke putaran berikutnya pada Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia. Tim Garuda hanya bisa menduduki posisi juru kunci klasemen Grup G, di mana mereka selalu kalah dalam 5 pertandingan yang telah dilakoninya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Indonesia berada satu grup dengan negara-negara Asean yang sudah biasa mereka hadapi dan terlihat tidak sebanding untuk persaingan lolos ke babak berikutnya.

Indonesia merupakan negara besar dengan animo masyarakat yang luar biasa terhadap sepak bola. Para penggemar hampir selalu memenuhi isi stadion di kala tim Garuda bertanding, baik itu persahabatan maupun kompetisi resmi.

Sangat disayangkan apabila euforia masyarakat tersebut tidak diimbangi dengan prestasi, setidaknya di tingkat Asia Tenggara. Pada ajang bergengsi dua tahunan AFF Suzuki Cup, Garuda tak sekalipun merasakan gelar juara setelah 5 kali berhasil sampai ke partai final.

Padahal sebelumnya Indonesia merupakan salah satu wakil Asean yang hampir selalu lolos ke kompetisi AFC Asian Cup bersama Thailand. Meskipun kedua tim tersebut dinilai hanya sebagai penggembira dan menjadi bulan-bulanan tim besar Asia lainnya, namun kehadiran mereka setidaknya mewarnai kompetisi terakbar Benua Asia tersebut.

Indonesia pertama kali lolos pada Piala Asia 1996 yang digelar di Uni Emirat Arab. Garuda tergabung dalam Grup A bersama tuan rumah UAE, Kuwait, dan Korea Selatan.

Merah Putih mengawali kompetisi dengan menghadapi Kuwait yang berakhir imbang 2-2, gol salto Widodo Cahyo Putro saat itu dinobatkan sebagai salah satu gol terbaik Piala Asia.

Selanjutnya Indonesia menghadapi raksasa Asia Korea Selatan. Baru 15 menit berjalan, Korea sudah unggul 3 gol melalui Kim Do Hoon & Hwang Sun Hong yang bertahan hingga turun minum. Korea kembali mencetak gol melalui Ko Jeong Woo 10 menit pasca kick off babak kedua. Indonesia hanya mampu memperkecil ketertinggalan dengan 2 gol melalui Ronny Wabia dan Widodo Cahyo Putro. Tim Garuda harus puas menjadi penghuni dasar klasemen setelah kalah dari tuan rumah UAE 2 gol tanpa balas.

Pada perhelatan berikutnya (2000) di Lebanon, Indonesia tergabung dalam Grup B bersama China, Korea Selatan, dan Kuwait. Merah Putih kembali mengawali kompetisi dengan melawan Kuwait, kali ini berakhir imbang tanpa gol. Kemudian Indonesia menghadapi China pada pertandingan kedua, lagi-lagi Garuda kecolongan pada menit-menit awal dengan kemasukkan 3 gol dalam 10 menit, dan pertandingan itu berakhir dengan kedudukan 4-0. Akhirnya Indonesia kembali menempati dasar klasemen setelah tunduk dari Korea Selatan melalui hattrick Lee Dong Gook.

Empat tahun kemudian di China, Indonesia kembali satu grup dengan tuan rumah di Grup A, bersama Bahrain & Qatar. Garuda akhirnya berhasil meraih kemenangan pertama dalam kompetisi ini setelah mengalahkan Qatar dengan skor 2-1, gol Indonesia dicetak oleh Budi Sudarsono dan Ponaryo Astaman. Pada pertandingan berikunya, Indonesia menghadapi tim tuan rumah.

Gagal menang di pertandingan pembuka, China seolah menjadikan Merah Putih sebagai mangsa pelampiasan, dimana mereka berhasil melumat Garuda 5 gol tanpa balas. Sebenarnya Indonesia hanya membutuhkan hasil imbang di pertandingan terakhir untuk bisa lolos ke babak 8 besar, namun sayang Merah Putih harus mengakui keunggulan Bahrain 3-1.

Pada Tahun 2007, untuk pertama kalinya Piala Asia digelar di 4 negara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam). Bertindak sebagai tuan rumah, Indonesia menghadapi dinding tebal dalam Grup D yang dihuni oleh Bahrain, dan juga peserta Piala Dunia 2006 yaitu Korea Selatan dan Arab Saudi.

Indonesia menghadapi Bahrain pada pertandingan pertama, tampil dihadapan pendukungnya sendiri, Garuda sudah unggul pada menit ke-14 melalui aksi Budi Sudarsono yang berhasil melewati penjaga gawang. 13 menit kemudian, Bahrain menyamakan kedudukan setelah Sayed Mahmood Jalal berhasil memanfaatkan kelengahan pemain belakang Indonesia. Merah Putih kembali unggul pada menit ke-64, kali ini melalui sepakan keras Bambang Pamungkas yang berhasil menyambar bola rebound tendangan Firman Utina yang membentur tiang gawang, skor 2-1 bertahan hingga laga usai.

Selanjutnya Indonesia bertemu dengan Arab Saudi, tim tamu menunjukkan kelasnya dengan pengusaan bola mencapai 62% pada 10 menit awal, dan hasilnya mereka berhasil unggul melalui tandukan Yasser Al Qahtani pada menit ke-12.

Indonesia mencoba keluar dari tekanan dengan memutus aliran bola Arab Saudi. Semangat para pemain Garuda membuahkan hasil 5 menit setelah kemasukkan gol, Syamsul Bachri berhasil menemukan celah untuk mengirim umpan terobos matang, Elie Aiboy yang menerima bola sukses melewati penjaga gawang dan menyamakan kedudukan.

Ketika pertandingan terasa akan berakhir imbang, petaka datang pada menit ke-90 saat Arab Saudi mendapatkan tendangan bebas akibat pelanggaran Ismed Sofyan yang baru masuk menggantikan Budi Sudarsono. Dari set piece tersebut, tim tamu berhasil menjebol gawang Yandri Pitoy melalui sundulan kepala Saad Al Harti yang juga baru masuk bersama Ismed Sofyan.

Pada pertandingan terakhir, Indonesia sedikit mendapatkan angin segar setelah Korea Selatan dikalahkan oleh Bahrain, sehingga Garuda akan lolos ke babak 8 besar jika bisa menahan imbang Korea Selatan.

Namun sepertinya memang belum saatnya bagi Merah Putih untuk lolos ke babak berikutnya setelah takluk melalui gol tunggal Kim Jung Woo. Akhirnya Indonesia kembali gagal dengan hanya terpaut 1 poin dari Korea Selatan yang menempati posisi kedua. Dari keempat tuan rumah di kompetisi kali ini, hanya Vietnam yang berhasil lolos ke babak 8 besar.

Sudah lebih dari 10 tahun Indonesia tidak tampil dalam kompetisi paling bergengsi Benua Asia tersebut. Pecinta sepak bola tanah air tentu saja rindu penampilan Merah Putih pada ajang tersebut. Namun melihat hasil Kualifikasi Piala Dunia sejauh ini, rasanya hal tersebut masih menjadi angan-angan yang amat jauh.

Secercah harapan muncul dengan kedatangan Shin Tae Yong, yang sejauh ini dinilai mulai berhasil memperbaiki kelemahan utama Garuda yaitu fisik. Harapan juga terdapat pada para pemain muda yang berkarier di luar negeri, mulai dari Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman, Syahrian Abimanyu, dan yang terbaru Bagus Kahfi yang telah bergabung dengan FC Utrecht.