Kanselir Austria Ajak Eropa Lawan Islam Politik

Ezra Sihite
·Bacaan 2 menit

REPUBLIKA.CO.ID, WINA— Kanselir Austria Sebastian Kurz mengharapkan Eropa meninggalkan apa yang dia sebut sebagai toleransi yang disalahpahami setelah serangan teroris di Wina. Kurz juga menyerukan upaya seluruh Uni Eropa untuk memerangi Islam politik.

"Saya mengharapkan diakhirinya pemahaman yang salah tentang toleransi, di semua negara Eropa," kata Kurz kepada surat kabar Jerman Die Welt, dilansir dari laman RT, Rabu (4/11).

Ia mengatakan, ideologi Islam politik membahayakan kebebasan dan model kehidupan Eropa. Kanselir Austria menegaskan bahwa masalah tersebut cukup serius untuk memerlukan tanggapan di seluruh Eropa.

Ia menambahkan bahwa telah mengangkat topik ini dalam panggilan telepon dengan banyak pemimpin Eropa dan juga berencana untuk melawan Islam politik sebagai masalah dalam agenda di KTT Uni Eropa mendatang.

Berbicara kepada media Austria, Kurz juga menyebut keputusan untuk membebaskan penyerang Wina dengan pembebasan bersyarat jelas salah. Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Karl Nehammer mengakui bahwa kelompok radikal Islam yang menewaskan empat orang dan melukai 23 lainnya di Wina pada hari Senin memanipulasi program deradikalisasi yang diawasi Kementerian Kehakiman.

Pelaku sebelumnya dijatuhi hukuman 22 bulan penjara pada April 2019 karena bersumpah setia kepada ISIS dan berusaha bergabung dengan teroris di Suriah. Namun, dia dibebaskan hanya sekitar delapan bulan kemudian karena dia tidak lagi dianggap sebagai ancaman. "Seandainya dia tidak dibebaskan dari penjara, serangan teroris seperti ini tidak mungkin terjadi," kata Kurz.

Namun, kanselir juga menyatakan bahwa hanya ada satu pelakunya yang bersalah dari serangan teroris Islam yang barbar dan pengecut ini dan itu adalah penyerangnya sendiri.

Setelah penembakan hari Senin, Kurz tampaknya berusaha meredakan potensi ketegangan dengan mengatakan itu bukan konflik antara Kristen dan Muslim, atau antara Austria dan migran, tetapi antara peradaban dan kebiadaban.

Namun, hanya beberapa hari sebelum serangan itu, Kurz sudah bersumpah untuk melawan Islam politik. Meskipun di tingkat nasional, sebagai tanggapan atas insiden lain yang membuat kerumunan pemuda Turki mengamuk di gereja Wina sambil meneriakkan Allahu Akbar.

Namun, tidak jelas apakah pernyataannya mungkin memicu serangan hari Senin yang sejak itu diklaim oleh teroris ISIS yang mengatakan itu seharusnya balas dendam atas dukungan Austria untuk kampanye AS di Suriah.

Perkembangan itu terjadi ketika Prancis melancarkan tindakan keras terhadap ekstremisme menyusul pembunuhan seorang guru sekolah, Samuel Paty yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelas. Sebuah tindakan yang memicu kecaman dan protes yang meluas di dunia Muslim. Pembunuhan itu juga diikuti serangan lain di kota Nice di Prancis yang menewaskan tiga orang.

Sumber: https://www.rt.com/news/505444-austria-kurz-political-islam-attack/