Kantongi Hak Atas 22 Buku Redwall, Netflix Optimistis Saingi Disney di Bidang Animasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Netflix tampaknya serius dalam menghadapi pesaingnya, Disney di bidang animasi. Sebelumnya, pada laporan penghasilan bulan lalu, CEO Netflix Reed Hastings ingin menyaingi Disney dalam kategori animasi keluarga.

“Mungkin pada akhirnya kita dapat melewati mereka. Kita lihat saja nanti," kata Hastings, seperti dikutip dari Quartz, Jumat (12/1/2021).

Perusahaan memperoleh hak atas 22 buku Redwall, serial fantasi anak-anak pemenang penghargaan oleh penulis Inggris Brian Jacques tentang petualangan sekelompok hewan antropomorfik.

Netflix akan memproduksi film animasi berdasarkan buku pertama dari seri tersebut. Selain itu perusahaan akan mengembangkan serial acara, yang termasuk juga animasi, tentang karakter Martin the Warrior, seekor tikus heroik.

Diterbitkan dari 1986 hingga kematian Jacques pada 2011, Redwall terjual lebih dari 30 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, memikat banyak generasi anak-anak di seluruh dunia.

Ini telah lama menjadi daftar harapan untuk diadaptasi menjadi film Hollywood atau serial TV beranggaran besar dan sekarang Netflix akan mewujudkannya.

Peluang Bagi Netflix

Halaman Utama Netflix di Macbook. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Halaman Utama Netflix di Macbook. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Kabar ini muncul saat Netflix dengan cepat membangun unit animasinya yang masih baru untuk menyusul Disney. Sekarang mereka berencana merilis enam film animasi per tahun yang diketahui jauh lebih banyak daripada dua film animasi utama Disney (Pixar dan Walt Disney Animation) setiap tahun.

Netflix mengatakan, data internal mereka menunjukkan anak-anak menonton film animasi yang sama berulang kali.

Untuk perusahaan yang utamanya bergerak dalam bisnis langganan global yang sedang berkembang, animasi membantu keluarga menjadi pelanggan yang lebih setia. Salah satu caranya dengan menawarkan konten yang menarik bagi semua anggota rumah tangga tersebut.

Genre ini juga menunjukkan peluang untuk merusak pertumbuhan streaming Disney di seluruh dunia. Disney telah memproduksi film animasi sejak tahun 1930-an dan secara rutin menduduki puncak Box Office dengan film-film seperti Frozen, dan Toy Story.

Pada tahun 2019 lalu, dua dari tiga film berpenghasilan tertinggi di dunia, Frozen II dan remake Lion King, adalah film animasi Disney. Sementara penantang lain muncul dalam beberapa dekade terakhir, tidak ada studio lain yang membuat pengaruh serius dalam dominasi animasi Disney. Bahkan, Disney pun membeli studio animasi Pixar.

Dukung Animasi Berlisensi

Ilustrasi Netflix. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Ilustrasi Netflix. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Selain membuat lebih banyak animasi asli, Netflix mendukung deretan judul animasi berlisensi. Tahun lalu, ia memperoleh hak internasional atas 21 film dari Studio Ghibli, studio animasi Jepang terkenal yang bertanggung jawab atas Spirited Away dan Princess Mononoke.

Netflix juga mengembangkan sejumlah produksi animasi bersama dengan studio lain, termasuk komedi horor stop-motion Wendell and Wild, yang ditulis dan dibintangi oleh Jordan Peele.

Netflix mengakui bahwa menyusul Disney pada posisinya tidak akan berlangsung dalam waktu dekat.

“Itu akan memakan waktu cukup lama,” kata Hastings kepada Hollywood Reporter.

Sementara itu, Disney telah menutup Blue Sky Studios, studio animasi yang membuat serial film Ice Age dan Rio, dan salah satu sisa terakhir dari akuisisi kerajaan hiburan Fox di tahun 2019.

Menurut Deadline, Disney akan menyerap sisa kekayaan intelektual Blue Sky dan membantu menempatkan beberapa karyawannya di studio lain milik perusahaan.