Kapal Raksasa Ever Given yang Terjepit di Terusan Suez Berlayar Lagi Usai Bayar Kompensasi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kapal raksasa Ever Given, yang sempat terjepit di Terusan Suez pada Maret 2021 akhirnya kembali bisa berlayar. Itu setelah pemiliknya menandatangani kesepakatan kompensasi.

Terjepitnya kapal kontainer raksasa Ever Given membuat kemacetan panjang selama hampir seminggu di Terusan Suez dan berefek panjang. Bahkan insiden ini memberikan dampak kerugian sangat besar.

Melansir laman BBC, Kamis (8/7/2021), kapal Ever Given diketahui sudah ditahan selama tiga bulan di dekat Kota Ismailia. Adapun persyaratan kesepakatan tidak diungkapkan lebih lanjut, tetapi Mesir dikabarkan menuntut kompensasi sebesar USD 550 juta (Rp 8 triliun).

Kapal sepanjang 400 meter tersebut terjepit di jalur air dan kandas akibat diterpa angin kencang. Akhirnya, ratusan kapal terjebak kemacetan.

Operasi penyelamatan kapal berlangsung selama enam hari dan melibatkan armada kapal tunda dan keruk. Satu orang tewas dalam operasi penyelamatan tersebut.

Otoritas Terusan Suez (SCA) meminta kompensasi sebesar USD 916 juta (Rp 13 triliun) dari perusahaan kapal Ever Given asal Jepang, Shoei Kisen. Tujuannya untuk membayar biaya operasi penyelamatan dan sejumlah kerugian lainnya.

Namun, perusahaan asuransi Ever Given, UK Club menolak klaim tersebut. SCA akhirnya menurunkan kompensasi sebesar USD 550 juta (Rp 7 triliun). Kapal berhasil dibebaskan pada Rabu lalu.

Melansir dari BBC, rincian kompensasi yang diterima oleh SCA, pemilik kapal, dan perusahaan asuransi tidak diungkapkan. UK Club memberikan apresiasi kepada SCA dan pihak terkait lainnya yang berhasil membuat kapal dapat berlayar kembali.

Yukito Higaki dari perusahaan Imabari Shipbuilding, anak perusahaan Shoei Kisen, mengatakan bahwa perusahaan akan menjadi pelanggan tetap dan setia dari SCA.

Buntut Kemacetan Terusan Suez, Kapal Raksasa Ever Given Diminta Bayar Ganti Rugi Rp 13,1 Triliun

Kapal kargo Ever Given ditemani kapal tunda saat melaju di Terusan Suez, Mesir, Senin (29/3/2021). Pejabat Mesir mengatakan tumpukan kapal yang menunggu untuk transit harus diselesaikan dalam waktu sekitar tiga hari. (Suez Canal Authority via AP)
Kapal kargo Ever Given ditemani kapal tunda saat melaju di Terusan Suez, Mesir, Senin (29/3/2021). Pejabat Mesir mengatakan tumpukan kapal yang menunggu untuk transit harus diselesaikan dalam waktu sekitar tiga hari. (Suez Canal Authority via AP)

Seperti banyak proyeksi analis, kemacetan kapal kargo raksasa Ever Given selama hampir seminggu pada bulan Maret lalu di Terusan Suez bakal berefek panjang. Sebagian besar pelabuhan tampaknya masih menyelesaikan masalah penumpukan kargo karena kemacaten kemarin.

Charlotte Cook, Kepala Analis Perdagangan di VesselsValue, firma penyedia data kapal Inggris, mengatakan bahwa pelabuhan akan tetap padat hingga Mei seperti halnya di tempat lain, harus mengatasi masalah kacaunya jadwal pelayaran.

Meski begitu, insiden kemacetan di Terusan Suez bukan satu-satunya biang keladi dari masalah di industri pelayaran saat ini. Namun juga karena pandemi Covid-19 yang turut memukul manufaktur di banyak pelabuhan.

Kini, karena kondisi mulai normal, volume pengiriman yang meningkat signifikan tentunya membuat pengelola pelabuhan kewalahan.

"Kecuali jika wabah virus Covid-19 dikendalikan sepenuhnya, normalisasi (pengiriman global) sulit dilakukan," kata Takuma Matsuda, seorang profesor di Universitas Takushoku Jepang, seperti dikutip dari Nikkei Asia, Kamis (6/5/2021).

Volume lalu lintas peti kemas dari Asia ke AS menyentuh rekor tertinggi pada bulan Maret. Di saat yang bersamaan, banyak pelabuhan di AS berjuang mengimbangi lonjakan volume kargo karena jumlah tenaga kerjanya yang berkurang signifikan sepanjang pandemi.

Sementara saat kejadian penyumbatan, kapal kargo yang gagal melintas dari pelabuhan AS menuju Asia, kebanyakan kemudian berbalik arah menuju pelabuhan asal, yang kemudian turut memperburuk penumpukan kargo.

Hal serupa juga terjadi dalam distribusi barang ke beberapa negara Eropa. Pasalnya masih ada sekitar 100 kapal yang menunggu untuk memasuki Pelabuhan Rotterdam di Belanda, pelabuhan laut terbesar di Eropa.

A.P. Moller-Maersk, perusahaan pengiriman peti kemas terbesar di dunia yang berbasis di Denmark, menangguhkan pemesanan kargo spot baru pada 31 Maret untuk menghindari kebingungan karena jadwal pengiriman yang jadi kacau. Bahkan hingga sekarang, mereka belum memperluas pemesanan ke volume sebelum kecelakaan.

Saksikan Video Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel