Kapan Waktu yang Tepat untuk Ganti Handphone Baru?

Merdeka.com - Merdeka.com - Terlalu sering mengganti telepon seluler (ponsel) bisa jadi kebiasaan merugikan. Tidak hanya dari aspek keuangan, tetapi juga dampak buruk pada lingkungan. Padahal, ada pilihan untuk memperbaiki sebelum memutuskan membeli ponsel baru.

Melansir New York Times, ada analogi menarik antara ponsel dengan mobil. Keduanya sama-sama bisa dibeli lewat pembayaran tunai ataupun kredit. Selain itu, baik mobil maupun ponsel juga tidak memiliki perkembangan signifikan dari tahun ke tahun.

Perbedaannya terletak pada cara memperlakukan kedua barang tersebut. Pemilik mobil rutin membawa kendaraannya ke bengkel untuk diservis sesuai kebutuhan. Sementara ponsel, pemilik cenderung mengganti dengan unit yang baru ketika mengalami sedikit masalah pada perangkat.

"Semua orang tahu jika ban pada mobil haus dan kapan perlu menggantinya," kata Kyle Wiens, kepala eksekutif iFixit, sebuah situs yang menerbitkan instruksi untuk memperbaiki barang elektronik, seperti dikutip pada Kamis (10/11).

"Ada delusi beredar bahwa perangkat elektronik tidak harus dirawat layaknya yang kita lakukan dengan mobil," imbuhnya.

Untuk diketahui, rata-rata, orang mengganti mobil setelah delapan tahun. Berbeda dengan ponsel. Rata-rata, orang mengganti ponsel setelah 3,5 tahun. Padahal masa pakai ponsel apabila diperlakukan dengan baik, bisa mencapai enam tahun.

Selain harus merogoh kocek besar, keseringan mengganti ponsel juga berpengaruh bagi lingkungan. Untuk membuat satu buah ponsel butuh setidaknya 70 material, menghabiskan energi dalam jumlah besar. Tidak heran jika menurut para ahli desain industri, negara-negara tempat manufaktur ponsel menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Penelitian Membuktikan

Tahun lalu, Delft University of Technology mengadakan survei terhadap 617 orang di Eropa Barat yang baru saja mengganti ponsel atau perangkat elektronik setara itu. Survei menanyakan berapa lama mereka menggunakan ponsel sebelum menggantinya, serta alasan membeli ponsel baru. Mereka juga ditanya apakah telah mempertimbangkan untuk memperbaikinya terlebih dahulu.

Hasil survei menunjukkan, alasan paling umum responden memutuskan mengganti ponsel karena penurunan kinerja perangkat. Seperti software melambat dan baterai rusak.

Ada juga yang beralasan, membeli ponsel karena hatinya berkata 'sudah waktunya untuk beli baru'. Hanya 30 persen dari total responden mengatakan telah mempertimbangkan untuk memperbaikinya.

Profesor desain di Delft sekaligus penulis Ruth Mugge mengatakan, sebuah kesalahpahaman jika menganggap waktu tiga setengah tahun adalah waktu yang lama untuk ponsel bisa bertahan.

Menurut Mugge, 'doktrin' itu dibentuk oleh lingkungan sekitar. Salah satunya penyedia operator untuk tukar tambah ke ponsel baru melalui kredit. Tekanan sosial juga berpengaruh. Misalnya karena teman mengganti ponsel mereka setiap beberapa tahun.

"Jika Anda menyimpannya untuk waktu yang lama, orang mungkin menganggap Anda agak aneh," kata Mugge.

Sebuah studi oleh Consumer Reports menemukan fakta, orang ingin memperbaiki ponsel mereka ketika rusak. Namun mereka menghadapi hambatan.

Di antara orang-orang yang mengatakan ponsel mereka mulai rusak dalam lima tahun terakhir, 25 persen mencoba memperbaiki. Namun berakhir dengan keputusan mengganti atau membeli baru. Sementara itu, hanya 16 persen yang ponselnya diperbaiki dan tidak diganti. Selebihnya tetap menggunakan ponsel tanpa berusaha memperbaiki atau menggantinya.

Tips

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan saat ini? Sebagai permulaan, Anda dapat memperlakukan ponsel Anda seolah-olah sebuah mobil. Jika ponsel Anda masih berfungsi baik, Anda dapat melakukan perawatan dasar seperti mengganti baterainya.

Ponsel tidak memiliki mekanik untuk mengingatkan dan memberi stiker jadwal penggantian oli selanjutnya. Meski begitu, Anda dapat melakukannya sendiri. Siapkan jadwal penggantian baterai setiap tiga tahun. Sebab biasanya baterai mulai kehilangan efektivitas setelah tahun ketiga, menyebabkan ponsel boros daya.

Anda juga dapat berlatih menahan diri ketika iklan ponsel terbaru muncul di layar televisi atau promosi lewat pesan e-mail. Ini disampaikan oleh Lee Vinsel, penulis 'The Innovation Delusion' sebuah buku tentang bagaimana obsesi terhdapa barang baru membunuh seni pemeliharaan. Termasuk pula latihan menahan keinginan untuk menghakimi orang lain yang tidak memiliki gadget terbaru.

"Pergeseran budaya perlu terjadi. Kita harus berhenti tergoda oleh hype semata. Lebih baik memikirkan gambaran yang lebih besar, termasuk lingkungan," kata Vinsel.

Harus dicatat, pada beberapa situasi tertentu, ponsel tidak praktis jika diperbaiki. Misalnya ketika biaya perbaikan mendekati harga perangkat baru. Maka keputusan mengganti ponsel lebih masuk akal.

Sejumlah kebijakan global mulai digagas untuk mendukung budaya memperbaiki telepon. Tahun lalu, Komisi Perdagangan Federal mengumumkan akan menindak perusahaan yang mencegah konsumen memperbaiki produk mereka. Serta undang-undang negara bagian New York yang diserahkan Juni lalu, mengharuskan perusahaan teknologi membuka akses bagi konsumen ke perbaikan elektronik dan alat diagnostik. Pengesahan aturan sedang menunggu tanda tangan petinggi negara bagian tersebut.

Sebagai hasil dari semua gerakan kebijakan, diharapkan nantinya dukungan dan akses perbaikan ponsel dapat terbuka lebar bagi seluruh masyarakat.

Reporter Magang: Michelle Kurniawan [noe]