Kapitalisasi Pasar Alphabet Tembus 1 Triliun Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Induk usaha Google, Alphabet, berhasil mencapai kapitalisasi pasar USD 1 triliun atau sekitar Rp 13.645 triliun. Hal ini membuat Alphabet menjadi perusahaan ke empat dengan pencapaian tersebut.

Dilansir CNBC, Jumat (17/1/2020), Apple menjadi perusahaan pertama yang mencapai kapitalisasi pasar sebesar itu. Kemudian, Microsoft dan Amazon mengikuti.

Apple dan Microsoft masih bernilai lebih dari UD 1 triliun, sedangkan Amazon mengalami penurunan.

Sejumlah analis dilaporkan yakin dengan kemampuan sang CEO baru, Sundar Pichai, yang memiliki peran penting dalam pencapaian perusahaan. Secara mengejutkan pada Desember 2019, pendiri Alphabet mengumumkan pengunduran diri sebagai CEO bersama dengan sang presiden, Sergey Brin.

Pichai saat ini merupakan CEO Alphabet dan Google. Google menaungi bisnis inti Alphabet, termasuk mesin pencarian, iklan, YouTube, dan Android.

Semua bisnis tersebut memberikan kontribusi besar untuk pendapatan dan keuntungan perusahaan secara keseluruhan.

Alphabet akan menyampaikan laporan finansial kuartal IV dan tahun fiskal 2019 pada 3 Februari 2020.

Google Akhiri Dukungan untuk Deretan Aplikasi Chrome Mulai Juni 2020

Kantor pusat Google di Mountain View. Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza

Lebih lanjut, Google mengumumkan jadwal penghentian dukungan untuk aplikasi-aplikasi Chrome di semua platform. Dukungan untuk aplikasi-aplikasi Chrome akan berakhir mulai Juni 2020.

Dilansir dari The Verge, aplikasi Chrome merupakan aplikasi berbasis web yang bisa dipasang di Chrome. Tampilan dan fungsinya mirip seperti aplikasi yang ada di desktop.

Beberapa aplikasi Chrome yang sudah dipasang kemungkinan akan dialihkan ke web seperti kebanyakan aplikasi-aplikasi Google lainnya. Ekstensi Chrome yang berbeda dari aplikasi Chrome, akan tetap berfungsi dengan baik.

Rencana Sejak 2016

Google Chrome. Dok: bgr.com

Google pertama kali mengumumkan rencana penghentian dukungan untuk aplikasi-aplikasi Chrome di Windows, macOS, dan Linux, pada 2016.

Hal ini disebabkan hanya sekira satu persen pengguna platform itu yang aktif menggunakan layanan-layanan tersebut.

Terkait dengan keputusan Google, pengguna Windows, macOS, dan Linux harus bersiap karena dalam waktu dekat tidak akan lagi bisa menggunakan aplikasi-aplikasi Chrome.

(Din/Isk)