Kapitalisasi Pasar Perusahaan China di AS Anjlok hingga Rp 2.204 Triliun dalam Sepekan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Saham raksasa teknologi China yang diperdagangkan di Amerika Serikat (AS) tengah berjuang untuk mengurangi kerugian mereka. Hal itu terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas upaya China untuk memberlakukan peraturan baru pada perusahaan publiknya selama beberapa tahun ke depan.

Dilansir dari Forbes, Sabtu (21/8/2021), hal itu mengakibatkan anjloknya nilai pasar lebih dari USD 150 miliar atau sekitar Rp 2.161 triliun (kurs Rp 14.408 per USD) atas 10 perusahaan terbesar asal China yang terdaftar di AS selama sepekan.

Pada perdagangan Jumat, 20 Agustus 2021, hingga pukul 14:45 EDT, saham raksasa e-commerce Alibaba turun lebih dari 15 persen di New York Stock Exchange selama seminggu terakhir menjadi USD 157, menurunkan kapitalisasi pasar menjadi USD 424 miliar atau sekitar Rp 6.109 triliun.

Sementara JD.com dan Pinduoduo, membukukan kerugian yang sama mengejutkannya. Masing-masing kehilangan sekitar USD 20 miliar dan USD 10 miliar nilai pasar sepanjang pekan ini, meskipun naik sekitar 2 persen pada hari Jumat.

Saham perusahaan game online NetEase yang terdaftar di AS, pembuat mobil listrik NIO dan perusahaan Internet Baidu masing-masing jatuh 11 persen, 10 persen dan 10 persen dalam sepekan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Imbas Pengetatan

Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Secara keseluruhan, 10 perusahaan China terbesar yang diperdagangkan di Amerika Serikat telah kehilangan sekitar USD 153 miliar atau sekitar Rp 2.204 triliun nilai pasar sejak minggu lalu.

Lebih dari 15 persen dari nilai pasar gabungan mereka sekitar USD 940 miliar. Pekan ini, saham-saham perusahaan China telah jatuh, seiring dengan Presiden Xi Jinping berencana untuk mengatur kekayaan miliarder atau konglomerat setempat.

Presiden Xi Jinping telah memberikan pengumuman yang menawarkan konsep pemerataan kesejahteraan yang di dalamnya mengatur mengenai kebijakan redistribusi kekayaan China.

Indeks Nasdaq Golden Dragon China, yang melacak perdagangan bisnis China di Amerika Serikat, turun 9 persen minggu ini dan telah jatuh 51 persen dari tertinggi sepanjang masa Februari.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel