Kapitalisasi Pasar Tembus USD 103 M, Uniqlo Berhasil Salip Zara dan Inditex

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Nilai kapitalisasi pasar pebisnis ritel Uniqlo menyentuh angka 10,87 triliun yen atau sekitar USD 103 miliar pada akhir perdagangan pekan lalu. Hal itu membuat salah satu merek fashion ternama yang berbasis di Jepang berada di puncak industri pakaian global dalam hal kapitalisasi pasar.

Perusahaan milik miliarder Jepang Tadashi Yanai itu berhasil menyalip induk perusahaan Zara dan Inditex yang memiliki kapitalisasi pasar hanya sekitar USD 99 miliar. Keberhasilan tersebut juga dipicu oleh harga saham pengecer Jepang yang terus meningkat sejak Agustus lalu.

Seperti mengutip Nikkei Asia, Jumat (19/02/2021), sampai November lalu Uniqlo telah berhasil membuka 2.298 toko yang tersebar di seluruh dunia. Sebanyak 60 persen dari total tersebut, berlokasi di Asia. Sisanya, 791 berlokasi di China dan 815 toko berlokasi di negera asal, Jepang.

Lain halnya dengan salah satu pesaingnya, Zara, justru sempat bermasalah di 70 persen toko yang berlokasi di AS dan Eropa karena beberapa kali mengalami lockdown.

Sejak 2016, Fast Retailing sudah menerapkan konsep ritel konsumen digital yang membuat adanya data dalam pembelian online, upaya itu sangat dihargai investornya. Selain itu, Fast Retailing pun telah bermitra dengan Google dan beberapa perusahaan lain untuk terus mengembangkan infrastruktur serta manufaktur yang didukung oleh kecerdasan buatan.

“Kami telah mencapai di posisi peringkat nomor satu dalam retail pakaian,”ujar Ketua sekaligus CEO Fast Retailing Tadashi Yanai.

Terus Tumbuh

Namanya Amancio Ortega, dialah orang yang berada dibelakang suksesnya brand fashion terkenal, Zara, dan inilah kisah hidupnya. (Foto: ekapija.com)
Namanya Amancio Ortega, dialah orang yang berada dibelakang suksesnya brand fashion terkenal, Zara, dan inilah kisah hidupnya. (Foto: ekapija.com)

Pencapaian itu hanya sebatas kapitalisasi pasar. Jika berbicara mengenai pendapatan, Fast Retailing masih tetap berada di posisi ketiga dengan nilai sekitar USD 18,9 miliar pada tahun fiskal sebelumnya.

Sementara beberapa pesaingnya seperti Inditex, memimpin dengan USD 34,1 miliar dan H&M menjadi runner-up dengan USD 22,5 miliar.

Fast Retailing dengan Inditex, keduanya begitu bersaing secara ketat dalam hal penjualan online. Pada fiskal sebelumnya, perusahaan Jepang itu telah meningkatkan sektor digital dari 11,3 persen menjadi 15,6 persen.

Analis Credit Susse Securities dari Jepang bernama Takahiro Kazahaya bahkan megatakan, Fast Retailing kemungkinan berada dalam potensi pertumbuhan jangka menengah dan panjang.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati