Kapitra: Marahnya Umat Islam ke Prancis Harus Egaliter, Proporsional

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Muslim di dunia termasuk Indonesia mengecam keras Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai melecehkan Islam. Aksi unjuk rasa sebagai protes terhadap Macron di Tanah Air meluas dengan salah satunya seruan boikot produk Prancis.

Terkait itu, politikus PDIP, Kapitra Ampera mengatakan memang ada tiga hal dalam Islam yang tak boleh diganggu dan dilecehkan. Ia pun menyebut tiga hal yang tak boleh diganggu yakni Allah, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kitab suci Alquran.

"Jika ini diremehkan, dilecehkan maka kita sebagai umat Islam marah, kita tak bisa terima," kata Kapitra dalam acara Kabar Petang tvOne yang dikutip VIVA, Selasa, 3 November 2020.

Namun, ia bilang, marah yang diajarkan Nabi Muhammad harus secara egaliter dan proporsional. Ia menyinggung ada produk Prancis yaitu Code Napoleon yang sebenarnya ada dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia.

Pun, juga dengan produk Prancis lainnya yaitu konsep hak asasi manusia dengan semboyan liberte, egalite, fraternite yang artinya kebebasan, keadilan, dan persaudaraan.

"Ini yang buat kita masih bisa bicara itu adalah produk Prancis. Yang masih kita pakai hari ini, apakah itu mau kita boikot," lanjut Kapitra yang juga advokat.

Kemudian, sektor transportasi udara pesawat terbang, ia mengatakan maskapai Indonesia memakai produk buatan Prancis. Maka itu, menurutnya perlu bersikap proporsional. "Makanya marah umat Islam harus egaliter dan proporsional," ujar Kapitra.

Kapitra mengatakan jangan sampai memboikot berbagai produk Prancis, tapi ternyata RI membutuhkannya dalam sektor ekonomi.

"Jangan sampai kita membutuhkan produk-produk ekonomi itu lalu kita merugikan kita sendiri. Mungkin ada cara lain yang dapat memberikan kesadaran. Saya melihat belakangan ini, Emmanuel Macron sudah mulai ketakutan, mengubah pola pikirnya tentang Islam," tutur Kapitra.

Hubungan Dagang Kecil

Ekonom Indef, Enny Sri Hartati, mengatakan dari data bahwa hubungan RI dengan Prancis masih kategori kecil. Hal ini baik secara ekspor dan impor.

"Jadi, total impor kita dari Prancis itu hanya sekitar 1 persen, juga ekspor kita," ujar Enny dalam wawancara dengan tvOne.

Menurut dia, ekspor RI berupa komoditas. Namun, Prancis bukan negara manufaktur yang mengolah sumber daya sehingga relatif kecil impor dari RI.

"Nah, impor kita kebetulan juga lebih banyak produk-produk lifestyle yang di mana substitusinya banyak kita temui dari suplier-supilier dari luar Prancis," sebut Enny.

Meski demikian, porsi impor Prancis ke RI yang hanya 1 persen tapi punya nilai cukup besar. "Karena lebih dari 9 triliun rupiah. Jadi, sekitar 700 juta euro. Sebelum pandemi itu sekitar 800 juta euro," tutur Enny. (ase)

Baca Juga: Macron Hina Islam, MUI Serukan Umat Muslim Boikot Produk Prancis