Kapolri Jenderal Listyo Sigit: Jangan Panik

Siti Ruqoyah
·Bacaan 1 menit

VIVAKapolri Jenderal Listyo Sigit mengatakan saat ini Polri bersama Tim Densus 88 Antiteror terus melakukan upaya-upaya penangkapan dan pengamanan baik di wilayah Makassar, Jakarta, Mataram, dan Bekasi. Hal ini terkait aksi teror yang terjadi di gereja katedral, Makassar akhir pekan kemarin.

Oleh karena itu, Sigit mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik, karena Kapolisi akan mengusut tuntas peristiwa teror tersebut dan mengejar kelompok-kelompok teroris.

"Saya imbau masyarakat tetap tenang, tidak usah panik, terkait masalah teroris merupakan tugas kami untuk mengusut tuntas," ujar Jenderal Sigit, Senin, 29 Maret 2021.

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi mengatakan, sampai saat ini tim Densus 88 masih mengejar jaringan teroris.

"Yang jelas pihak keamanan seperti Densus 88 itu tidak pernah berhenti. Ketika kita tidur, mereka bangun. Ketika kita diam, mereka bergerak," kata Islah.

Menurut Islah, sebagian masyarakat ada yang antipati menyikapi penangkapan terduga teroris. Penyebabnya antara lain karena masyarakat tidak curiga dengan keseharian orang-orang yang ditangkap.

"Tapi pihak keamanan lebih tahu, intelijennya lebih bergerak," ujarnya.

Islah mengatakan, tujuan teroris adalah menekan pemerintah dan masyarakat. Ketika semua menyerah, mereka berharap, akan lebih mendapat pengakuan dari masyarakat.

"Apapun tujuan teror mereka itu sebenarnya bukan hanya surga, tapi juga ingin menguasai negara ini, menguasai pemerintahan ini," kata dia.

Konsep seperti itu, kata dia, sudah ada sejak awal Islam. Artinya, kata dia, teroris selalu melawan pemerintahan dan akan berhenti sampai mereka berkuasa.

Islah mengatakan sudah tepat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau agar masyarakat tidak takut menyikapi teror bom.

"Ini bukan hanya soal menciptakan kepanikan dan ketakutan, tapi mereka ingin membuat semua orang bertekuk lutut terhadap mereka," ujar Islah.

Baca juga: Moeldoko: Saya Khilaf, Saya Tak Mau Bebani Presiden