Kapuas Prima Coal Bidik Kapasitas Produksi Tumbuh hingga 30 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC), emiten yang bergerak di bidang pertambangan bijih besi (Fe) dan Galena bakal fokus meningkatkan kapasitas produksi dan penambangan dari bisnis inti perseroan.

PT Kapuas Prima Coal Tbk optimistis dengan cadangan mineral yang dimiliki, kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan untuk mendukung penjualan ke depan.

Perseroan mengharapkan produksi konsentrat timbal dapat mencapai 17.500 ton pada 2021. Selain itu, perseroan akan memproduksi konsentrat seng mencapai 46.000 ton sesuai dengan kuota ekspor yang dimiliki.

"Tentunya target ini masih dapat berubah apabila peningkatan kapasitas produksi kami berhasil. Kami menargetkan kapasitas produksi dapat meningkat sekitar 20-30 persen pada 2021,” ujar Direktur Utama PT Kapuas Prima Coal Tbk, Harjanto Widjaja seperti dikutip dari keterangan tertulis, Senin (31/5/2021).

Selain itu, perseroan juga akan terus meningkatkan produksi bijih besi untuk menangkap peluang positif dari peningkatan permintaan komoditas tersebut.

"Hal ini sebagai dampak dari perang dagang yang terjadi antara Australia dan China yang turut mengangkat harga komoditas tersebut,” kata dia.

Kinerja 2020

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)

Pandemi COVID-19 yang terjadi selama 2020 turut mempengaruhi kinerja perseroan. Hal ini seiring perseroan alami penurunan penjualan dan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Perseroan kantongi penjualan Rp 608,09 miliar pada 2020. Realisasi penjualan turun 31,29 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 885,11 miliar. Beban pokok penjualan turun 8,9 persen dari Rp 490,23 miliar pada 2019 menjadi Rp 446,34 miliar pada 2020.

Perseroan mencatat laba bruto susut 59,03 persen dari Rp 394,87 miliar pada 2019 menjadi Rp 161,75 miliar pada 2020. Perseroan menekan beban usaha dari Rp 115,58 miliar pada 2019 menjadi Rp 82,37 miliar pada 2020. Laba usaha susut 71,57 persen dari Rp 279,28 miliar pada 2019 menjadi Rp 79,37 miliar pada 2020.

Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 82,67 persen dari Rp 178,60 miliar pada 2019 menjadi Rp 30,95 miliar pada 2020.

Total liabilitas turun 10,43 persen dari Rp 648,34 miliar pada 2019 menjadi Rp 580,68 miliar pada 2020. Total ekuitas melemah 3,6 persen dari Rp 780,95 miliar pada 2019 menjadi Rp 809,76 miliar pada 2020. Total aset turun dari Rp 1,42 triliun pada 2019 menjadi Rp 1,39 triliun pada 2020.

Untuk rincian penjualan, perseroan mencatat kenaikan penjualan untuk komoditas bijih besih mencapai 377,30 persen dari Rp 1,55 miliar pada 2019 menjadi Rp 7,41 miliar pada 2020. Penjualan komoditas tercatat Rp 304,94 miliar, komoditas timbal Rp 127 miliar dan perak Rp 168,75 miliar.

"Kami melihat ada peluang yang positif dari peningkatan harga komoditas pada penghuju 2020, terutama harga bijih besi,” tutur dia.

Oleh karena itu, perseroan mulai menggerakkan armada alat berat dan memulai kembali penambangan skala besar bijih besih pada kuartal IV 2020 untuk persiapan perseroan pada 2021. “Langkah ini dinilai tepat melihat sekarang harga bijih besi sudah melewati USD 200 untuk kadar 62 persen,” kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini