Karena Cuaca Tak Biasa, Sapporo Snow Festival 2020 Harus Impor Salju

Liputan6.com, Sapporo - Sapporo Snow Festival atau "Sapporo yuki matsuri" dalam bahasa Jepang, digelar pertama pada 1950 ketika 6 siswa sekolah menengah setempat membangun 6 patung salju di Taman Odori. Pada festival 2020, akan ditampilkan lebih dari 200 patung salju dengan beragam bentuk, seperti patung Star Wars yang menjulang tinggi dan seluncuran salju sepanjang 100 m, patung Mie Cup Ramen raksasa, patung replika istana setinggi 15 m, patung Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF), dan lainnya. 

Namun untuk festival 2020, bahkan setelah perayaan dibuka selama satu pekan sejak 31 Januari di tengah wabah Virus Corona yang mematikan, krisis iklim mengancam mada depan festival yang tiap tahunnya dikunjungi lebih dari 2 juta wisatawan internasional.

Melansir dari CNN, Kamis (13/2/2020), pada 2019, Jepang mencetak rekor untuk tingkat salju yang rendah dengan hujan salju di Sapporo kurang dari setengah rata-rata tahunan.

Titik paling rendah terjadi pada Desember 2019 dengan huljan salju terendah di sepanjang pantai Laut Jepang sejak badan meteorologi mulai mencatat curah hujan salju pada 1961.

Dengan kurangnya salju dan cuaca hangat yang tidak biasa, mengakibatkan beberapa kekecewaan dalam rencana penyelenggara festival salju. Pada 2020, para penyelenggara harus mencari dan menderek salju dari kota-kota lain untuk membuat lebih dari 200 patung salju khas. 

Untuk membuat patung, penyelenggara festival menggunakan sekitar 30.000 ton salju dari Sapporo. Tahun ini, mereka mendereknya dengan truk dari berbagai tempat di luar Sapporo.

Seperti yang disampaikan oleh juru bicara Festival Salju Sapporo Isshin Yamagami, penyelenggara festival berusaha dengan sekuat tenaga karena mereka membutuhkan salju murni tanpa ada unsur kotoran atau kerikil batu untuk kreasi mereka.

Penurunan Angka Pengunjung

Ada Star Wars di Sapporo Snow Festival di Hokkaido, Jepang. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Pada 2019, festival ini menyambut kedatangan 2,7 juta pengunjung internasional. Sementara pada 2020 telah turun menjadi 2,2 juta di tengah kekhawatiran atas wabah Virus Corona yang kian menyebar dan larangan perjalanan pada kelompok wisata China.

Meskipun begitu, Yamagami yakin bahwa angka itu akan naik kembali pada 2021 dan mengatakan festival telah memberikan informasi di situs webnya tentang bagaimana pengunjung dapat mengambil tindakan pencegahan virus dalam kondisi ramai, yang berarti infeksi mudah menyebar. 

"Kami menyarankan pengunjung untuk memakai masker dan menggunakan pembersih tangan, karena kami juga menyediakan pembersih tangan di lokasi," tambahnya.

Panitia memiliki harapan rendah untuk kedatangan pengunjung, namun dengan adanya acara perang bola salju, pameran patung, dan suasana karnaval, membuktikan festival ini menjadi terkenal secara instan hingga sebanyak 50.000 orang datang. 

Minat semakin bertambah setelah festival salju disiarkan di TV pada tahun 1959. Pengunjung datang dari seluruh Jepang untuk melihat patung, perayaan, dan hidangan daerah seperti makanan laut segar dan sake panas yang disajikan di tempat.

Festival ini mendapat pengikut internasional setelah Olimpiade Musim Dingin diadakan di Sapporo pada tahun 1972. Baru-baru ini, Sapporo adalah salah satu kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby.

 

Reporter: Jihan Fairuzzia 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: