Karier Moncer Jenderal TNI Ganteng yang Berumur Panjang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Bagi para generasi era 90an, nama Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno mungkin sudah tidak asing lagi saat didengar. Namun bagi para milenial, tak banyak yang tahu sosok purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat yang pernah jadi orang nomor dua di Republik Indonesia (RI) ini.

Pada tahun 1959, seorang pemuda kelahiran Surabaya berhasil masuk dalam Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), yang saat ini sudah berintegrasi dalam Akademi Militer (Akmil). Pemuda ini lah yang kelah menduduki sejumlah posisi strategis di tubuh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Pemuda itu adalah Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno.

Meroketnya karier Try bersama TNI Angkatan Darat bisa dikatakan dimulai pada 1974, saat ia dipercaya menjadi ajudan Presiden RI ke-2, Jenderal Besar TNI (Purn.) Soeharto.

Setelah empat tahun menjadi ajudan presiden, Try kemudian naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) saat memegang posisi sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XVI/Udayana, yang sekarang bernama Komando Daerah Militer (Kodam) IX/Udayana.

Hanya setahun menjabat sebagai Kasdam XVI/Udayana, Try kemudian dipercaya untuk menjadi Pangdam IV/Sriwijaya, yang sekarang berubah nama menjadi Kodam II/Sriwijaya.

Empat tahun memimpin Kodam IV/Sriwijaya, Try kemudian dipindahkan ke Jakarta. Ya, Try kembali mendapatkan promosi kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal (Mayjen) TNI dengan tugas sebagai Pangdam V/Djayakarta, atau saat ini Kodam Jaya.

Setelah melewati masa kepemimpinan dua tahun di Kodam V?Djayakarta, Try naik pangkat lagi menjadi Letnan Jenderal (Letjen) TNI, dan ditunjuk menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) pada 1985. Saat itu, Try menggantikan Letjen TNI Poniman dan menjadi orang nomor dua di TNI Angkatan Darat setelah Jenderal TNI Rudini.

***

Jabatan Wakasad hanya satu tahun dipegang oleh Try. Sebab pada 1986, Try akhirnya naik jabatan menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) menggantikan possisi Rudini.

Try berhasil mencapai puncak karier pada 1988, saat dipercaya menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sekarang TNI, menggantikan posisi Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani.

Setelah purna tugas sebagai Panglima ABRI dan pensiun dari dunia militer, ternyata kiprah Try belum usai. Sebab, Presiden Soeharto pada akhirnya memberikan kepercayaan kepada Try untuk menjadi Wakil Presiden RI ke-6. Try menjadi orang nomor dua di RI selama kurun waktu 11 Maret 1993 hingga 11 Maret 1998 dan digantikan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie.

Setelah masa jabatannya sebagai Wakil Presiden RI usai, Try tidak lagi aktif di dunia politik. Namun yang lebih mencengangkan, di usianya yang saat ini sudah mencapai 85 tahun, Try masih bugar, ingatannya masih sangat tajam dan punya semangat yang masih membara.

Bagi Try, kesehatan yang dimilikinya saat ini adalah anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Namun demikian, ada definisi sehat yang mendalam bagi seorang pria kelahiran Surabaya, 15 November 1935 ini.

"Kesehatan itu tidak bisa dinilai dengan uang, berapa saja tidak bisa. Sehat ini siapa yang memberi? Kesehatan itu adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia diciptakan hidup dan diberi kesehatan, ada lahirnya ada batinnya, dua dimensi," ujar Try.

Menurutnya, sehat bukan berarti hanya di badan saja atau jasmani. Namun, sehat secara batin juga sangat penting. Oleh sebab itu, dua dimensi sehat menjadi sangat penting baginya.

"Tidak boleh sehat badannya saja, kalau sinting rohaninya tidak bisa. Jadi harus dua-duanya, sehat lahir batin. Karena ini anugerah Tuhan, maka ini harus kita pelihara dengan baik," kata menantu mantan Kasad ke-23, Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu ini.