Kartini BRI: Jadi Agen BRILink, Karimah Ajak Masyarakat di Bangkalan Gemar Menabung

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Niat tulus berbuah kebaikan. Bisa menggambarkan usaha Karimah, perempuan asal Desa Longkek, Bangkalan, Surabaya yang menjadi Agen BRILink.

Perempuan berusia 31 tahun ini, awalnya hanya pemilik toko sembako. Kemudian tawaran datang kepadanya menjadi agen BRILink, milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

“Waktu itu saya menjadi agen BRILink pada tahun 2015. Sebelum jadi agen BRILInk memang saya menjadi agen sembako. Ketika ditawari menjadi Agen BRILink sama pihak BRI itu mungkin mereka melihat saya adalah pebisnis sembako akhirnya ditawarin jadi agen,” kata Karimah kepada Liputan6.com, Jumat (23/4/2021).

Terjun langsung di dunia perbankan sejatinya bukan perkara mudah bagi Karimah. Namun dia yakin bisa menjalaninya.

Karimah sudah menjadi bagian dari Bank BRI selama 6 tahun. Perempuan berusia 31 tahun ini memang bercita-cita mengubah kebiasaan masyarakat desa agar terbiasa bertransaksi di bank melalui Agen Brilink.

“Intinya bagaimana kita melayani dengan baik agar mereka-mereka itu terbiasa dengan BRILink, kalau dulu kan mereka harus ke bank kalau mau ambil uang. Jika ke bank minusnya ngantri, kalau di agen BRILink tanpa mengantri prosesnya cepat, dan tidak jauh,” ujar dia.

Pada 2015, di desa Karimah belum banyak agen BRILink. Dia satu-satunya yang menjadi agen BRILink. Tak heran, banyak warga desa merupakan nasabah setianya.

Perkembangan mulai terjadi. Agen BRILink di desa Karimah mulai bertambah. “Dulu itukan masih jarang agen BRILink, meskipun sudah banyak agen BRILink tapi saya banyak langganan jadi Alhamdulillah. Penghasilannya antara Rp 10 juta, kadang-kadang sampai Rp 15 juta,” katanya.

Ajak Warga Gemar Menabung

Karimah giat mengajak masyarakat sekitar untuk menabung dan menjadi nasabah BRI. Salah satunya lewat produk Teman Simpedes.

Terus menerus mengedukasi masyarakat agar menjadikan menabung sebagai budaya atau kewajiban bukan hanya sekedar menyisakan uang yang tersisa.

“Kita selaku agen BRILink bagaimana agar nasabah-nasabah itu supaya nabung di bank BRI. Dengan banyaknya nasabah baru BRI maka secara langsung agen BRILink juga bertambah nasabahnya,” jelas dia.

Misi Karimah tidak lain adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak menyimpan uang langsung di rumah. Tetapi menyimpan uang di ATM supaya terhindar dari pencurian dan dimakan rayap.

“Bahkan saya sempat ada nasabah yang uang tabungannya dimakan rayap hampir Rp 10 juta, makanya saya sarankan supaya disimpan di tabungan BRI Simpedes, itu pengalaman lucu,” imbuhnya.

Lebih lanjut Karimah bercerita, selama menjadi agen BRILink ia tidak mendapatkan kesulitan. Meskipun kini banyak agen-agen BRILink di desanya, ia justru senang sehingga kesadaran masyarakat semakin meningkat dengan keberadaan agen BRILink.

Alhamdulillah selama saya menjadi agen BRILink tidak ada kesulitan, karena selama pandemi ini jalan semua usaha saya,” imbuh dia.

Pengalaman Suka Duka

Agen BRILInk Karimah, di Desa Longkek, Bangkalan, Madura. Istimewa
Agen BRILInk Karimah, di Desa Longkek, Bangkalan, Madura. Istimewa

Disamping menjadi agen BRILink, Karimah juga bercerita, selama pandemi covid-19 usaha sembakonya sempat terdampak pandemi.

Penjualan turun hingga 30 persen, namun ia tidak risau lantaran Karimah dan sang suami selalu memiliki strategi untuk tetap bertahan.

“Meskipun ada penurunan tapi kita lakukan promosi via online baik itu di facebook, di whatsapp story, intinya kita harus menawarkan harga itu semaksimal mungkin agar harga itu bersaing ketat dengan toko-toko yang lain. Insyaallah masyarakat setempat akan menilai mana yang lebih ekonomis,” ungkap Karimah.

Tidak jauh beda dengan omset menjadi agen BRILink, omset sembako juga mencapai Rp 10 juta per hari. Ke depannya, Karimah dan suami berencana akan membuka 2 toko sembako lain di wilayah Bangkalan yang bekerjasama dengan teman.

“Kalau omset dari sembako 1 hari bisa mencapai Rp 10 juta. Saat ini baru 1 toko, namun rencana akan buka 2 toko lagi di jalan raya sekitar bekerjasama dengan teman nantinya. Perkiraannya akan dibuka 2 toko sembako lagi,” jelas dia.

Hingga kini Karimah memiliki 2 pekerja di toko sembako. Biasanya pekerja-pekerja tersebut digaji sebesar Rp 1 juta, di luar kebutuhan makan dan tempat tinggal.

Ada cerita sedih, ketika Karimah dan suami pertama kali membuka usaha sembako, mereka sempat kena tipu oleh sales yang mengaku menjual barang-barang elektronik seperti kulkas.

Namun, setelah dilakukan pembayaran, hingga kini barang yang dipesan tak kunjung datang. “Hingga sekarang barangnya tidak datang-datang. itulah resikonya, tapi Alhamdulillah ketika kita nikmati dan diniatkan ibadah Alhamdulillah usaha saya terus maju,” ungkap Karimah.

Raih Penghargaan

Keuletan Karimah juga diganjar penghargaan. Dia meraih piagam sebagai “The Best Agen BRILink” yang memperoleh transaksi terbanyak di kabupaten Bangkalan.

Sambil mengatakan lupa dengan nilainya, kala itu Karimah tercatat merupakan agen BRILink yang memperoleh transaksi terbanyak.

Tentu Karimah sangat bangga dengan pencapaian tersebut. Dirinya semakin bersemangat untuk mengajak masyarakat sekitar untuk beralih ke BRILink.

“Kalau dikalkulasi saat dulu sebelum banyak agen-agen BRILink, sekarangkan sudah banyak agen BRILink. Tapi Alhamdulillah saya masih bertahan jadi agen BRILink dan melakukan transaksi-transaksi, saya dulu pernah memperoleh piagam The Best Transaksi BRILink terbanyak se kabupaten Bangkalan,” ungkap dia.

Dengan menjadi agen BRILink tentunya Karimah sangat terbantu. Selain ada penghasilan tambahan, dia bisa membantu warga sekitar.

Karimah merupakan Ketua Paguyuban Agen BRILink di Kabupaten Bangkalan. Dikenal selalu sabar dan telaten ikut membimbing dan memberi solusi terhadap permasalahan yang terjadi di agen operasional agen BRILink.

“Kalau pelatihan itu jarang, karena saya termasuk agen BRILink senior. Kalau sekarang hanya komunikasi lewat WhatsApp dengan pihak BRI kalau ada apa-apa,” ungkap perempuan asal Surabaya itu.

Karimah berpesan kepada agen-agen BRILink di seluruh Nusantara agar menjunjung tinggi kejujuran dan melayani nasabah dengan baik.

“Marilah kita melayani masyarakat dengan baik, penting kita harus jujur dalam bertransaksi keuangan karena banyak resikonya ketika kita salah transfer itu akan sangat fatal. Harus perhatikan angka, dan juga hati-hati atas penipuan-penipuan,” pungkasnya.(*)