Kartu Prakerja Dinilai Jawab Kebutuhan Pekerjaan Masa Depan

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Upaya Pemerintah dalam memulihakan ekonomi nasional dengan cara meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di Indonesia dinilai tepat saat ini. Hal itu diwujudkan dalam Progrm Kartu Prakerja bagi mereka yang terdampak COVID-19 atau pun angkatan kerja baru.

Ekonom Centre of Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri berpendapat, Kartu Prakerja ke depannya masih sangat layak dilanjutkan. Sebab, tak bisa dipungkir kemampuan angkatan kerja Indonesia itu masih belum maksimal.

“Baik dari sisi softskill, maupun technical skill, itu masih perlu banyak diperbaiki,” ungkap Yose dikutip dari keterangannya, Jumat 16 April 2021.

Baca juga: Menko Airlangga Tegaskan RI Akan Jadi Contoh Pembangunan Berkelanjutan

Yose menjabarkan, Program Kartu Prakerja tidak bisa disamakan dengan bantuan sosial (bansos) lainnya yang diberikan Pemerintah. Program tersebut merupakan salah satu cara peningkatan kompetensi bagi angkatan kerja, meski saat ini dinilai sebagai bansos karena ada kondisi tertentu yaitu pandemi.

Esensinya lanjut Yose, Program Kartu Prakerja bisa membantu Pemerintah untuk memperbaiki keterampilan angkatan kerja dari sisi supply. Upaya ini pada akhirnya juga bisa mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan yang dicanangkan.

Terkait ada pendapat bahwa program Kartu Prakerja lebih baik dihentikan karena hanya berdampak kecil terhadap peningkatan ekonomi. Yose Rizal mengaku punya pendapat lain.

Program ini tegasnya justru harus terus dilanjutkan demi mempersiapkan SDM Indonesia yang siap beradaptasi dengan perubahan zaman. Khususnya, mengakomodir tantangan-tantangan baru di era digital.

“Orang sudah ramai berbicara tentang new job, future of jobs yang membutuhkan skill set baru. Kemudian Pemerintah saat ini sudah punya programnya, kok malah dihentikan? Memangnya kita mau terus-terusan ada di tahun 70-an?,” tegas Yose.

Yose menjelaskan, ke depannya justru unsur bansos dari Kartu Prakerja itu harus perlahan dikikis. Sehingga, peningkatan ketrampilan dan kompetensi kerja yang diperlukan secara lebih optimal.

Evaluasi pun menurutnya penting dilakukan, untuk memastikan evektivitas program itu dan seberapa besar pengaruhnya. Namun, dia menyadari saat ini evaluasi belum bisa dilakukan karena terbatas dengan waktu pelaksanaan program itu sendiri.

“Kita tahu ini baru sekitar 8 bulan berjalan, jadi memang belum bisa juga dilihat. Yang penting itu adalah evaluasinya. Evaluasi yang dilakukan dengan baik, kemudian melihat kelemahannya seperti apa, perbaikannya nanti kita harapkan,” tambahnya.