Karya foto asal Maluku jadi penampil utama di Biennale Jogja 2021

·Bacaan 2 menit

Karya fotografer muda Erzal Umamit asal Banda Naira, Provinsi Maluku menjadi penampil utama di Eksibisi Biennale Jogja XVI tahun 2021 yang digelar di Museum Nasional Jogja pada 6-14 Oktober mendatang.

"Karya foto saya jadi penampilan utama di pameran seni Biennale Jogja 2021 dan akan ditampilkan dengan karya-karya foto dan seni rupa dari Amerika Serikat, Korea dan lainnya juga," kata Erzal Umamit saat dihubungi dari Ambon, Jumat.

Lebih dikenal dengan Ombak Banda, Erzal Umamit merupakan seorang fotografer yang fokus pada isu-isu sosial dan lingkungan dalam tiap karya foto yang ia dihasilkan.

Mengusung konsep digital imaging, kata Erzal, 10 foto karyanya akan dipajang di Eksebisi Biennale Jogja XVI dalam ukuran 10x90 meter. Foto-foto tersebut mengisahkan dampak kolonialisme dan kerusakan lingkungan akibat pengelolaan pariwisata di kampung halamannya.

Baca juga: Karya dua perupa Indonesia akan tampil di Venice Biennale 2019

Ia juga akan menggunakan instalasi sederhana berupa patung manekin perempuan ditutupi plastik, kemudian diletakkan di tengah-tengah pajangan foto untuk memperkuat tampilan dan kisah dari karyanya tersebut, salah satunya adalah menonjolkan figur perempuan yang berjuang sebagai petani pala untuk menyekolahkan anak-anaknya.

"Karya saya kali ini lebih ke ungkapan keresahan saya dengan apa yang sedang terjadi di kampung saya, monopoli pasar pala, sistem tengkulak dan harganya yang tidak sesuai dan merugikan masyarakat," ucap dia.

Dikatakannya lagi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak mengecewakan pengunjung pameran, ia mempersiapkan pamerannya selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari pengambilan gambar hingga koordinasi untuk pemajangan di museum.

"Tema utama eksibisi Biennale kali ini adalah Equator, untuk pamerannya bertema 'Indonesia with Oceania', jadi konsep dan karya saya juga tidak terlepas dari konsep tema yang diangkat," kata Erzal.

Selain Erzal Umamit, Eksibisi Biennale Jogja XVI 2021 juga melibatkan penyair, penari, dan pelukis dari Kota Ambon untuk video kolaborasi seni dan sastra bertajuk Equator yang disiarkan secara virtual di kanal YouTube Biennale.

Dalam video tersebut, penyair Marthen Reasoa dari Bengkel Sastra Maluku menyanyikan lagu tradisional Maluku berjudul Hena Masa Waya dan membacakan puisi "Cinta Tetaplah Asin", dikolaborasikan dengan tarian kontemporer oleh penari Lise Pattipeiluhu dari Sanggar Bantu Karang dan aksi melukis oleh Lodewyck Hahury.

Penampilan mereka mengangkat cerita reklamasi Teluk Ambon untuk pemukiman dan pembangunan lainnya, dan mengakibatkan intrusi air laut hingga mencapai rumah warga.

Penyair Marthen Reasoa juga dijadwalkan tampil dalam kegiatan seminar di Biennale Jogja XVI untuk mempresentasikan karyanya yang ditampilkan dalam video pendek Equator.

Baca juga: Lewat Venice Architecture Biennale, Bekraf promosikan arsitek Indonesia

Baca juga: Bekraf bangga Andra Matin diundang khusus Venice Architecture Biennale 2018

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel