Kasus Corona Baru Bermunculan, Kota Jilin di China Lockdown Lagi

Ezra Sihite, Isra Berlian

VIVA – Kota Jilin di China kembali memberlakukan penutupan sekolah, penutupan tempat umum dan pembatasan transportasi serta melarang pertemuan orang dalam jumlah besar. Hal ini dilakukan menyusul dengan temuan klaster Corona baru di kota tersebut yang memicu kekhawatiran akan gelombang baru COVID-19. 

Selasa kemarin ada enam kasus positif yang dilaporkan di kota itu sehingga total ada 21 kasus di sana. Dilaporkan dari 21 kasus itu ada dua pasien tanpa gejala sejak infeksi pertama dalam klaster baru yang dilaporkan pekan lalu. 

“Wabah saat ini sangat serius dam kompleks. Dapat menimbulkan risiko besar dalam penyebarannya. Untuk mencegahnya, kelompok pencegahan dan pengendalian epidemi Jilin telah memutuskan untuk menerapkan langkah pengendalian di perkotaan Jilin termasuk penutupan semua kompleks perumahan dan desa di daerah itu,” dirilis pemerintah Kota Jilin dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari laman SCMP, Kamis 14 Mei 2020.

Dalam pernyataan pemerintah kota bagi masyarakat Kota Jilin, yang ingin meninggalkan kota itu harus memberikan laporan hasil tes negatif untuk asam nukleat yang dilakukan 48 jam sebelum keberangkatan. Selain itu, dalam pernyataan dijelaskan juga sebagai bentuk pencegahan tempat umum seperti kafe internet, teater, pemandian umum telah ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selain itu, dinas pendidikan kota setempat juga mengumumkan semua sekolah akan ditutup dan berbagai aktivitas seperti pelatihan, bimbingan belajar, kompetisi atau ujian telah dilarang dilakukan. Para siswa yang sempat kembali ke sekolah beberapa waktu lalu juga harus kembali melaksanakan kegiatan belajar dari rumah. Pasar pagi yang menjual bahan makanan juga akan ditutup mulai hari ini, Kamis. 

Diberitakan sebelumnya, China telah melaporkan klaster baru COVID-19 di provinsi Heilongjiang, Jilin dan Hubei dalam beberapa pekan terakhir sejak dinyatakan transmisi lokal COVID-19 "secara keseluruhan" terkendali.

Inspektur di Biro Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Komisi Kesehatan Nasional, He Qinghua mengatakan wabah itu memperlihatkan kelemahan dalam infeksi rumah sakit dan kontrol masyarakat, serta langkah-langkah perlindungan pribadi.

“Pekerjaan pencegahan dan pengendalian epidemi negara telah berubah dari tanggap darurat ke kenyataan yang konstan.  Ini tidak berarti bahwa langkah-langkah pencegahan dan kontrol kita bisa santai atau kita bisa istirahat.  Itu tidak dapat diterima, "katanya pada briefing terpisah di Beijing.  

Dia melanjutkan, pencegahan dan pengendalian epidemi masih menjadi prioritas utama dan prasyarat untuk menuju pemulihan kota secara komprehensif dalam tatanan sosial.

Untuk diketahui sebanyak 21 kasus di masyarakat dilaporkan dalam seminggu terakhir. Angka ini termasuk dengan satu kasus di provinsi tetangga Liaoning, terkait dengan seorang wanita berusia 45 tahun yang merupakan pekerja binatu untuk biro keamanan publik di dekat Shulan, sebuah kota kecil di provinsi Jilin.  

Dia dinyatakan positif COVID-19 pada 7 Mei. Hingga saat ini, bagaimana wanita itu tertular COVID-19 masih menjadi misteri karena belum ada kasus lokal yang dilaporkan selama 73 hari. Sebelum wanita itu jatuh sakit, dia diketahui belum bepergian ke luar provinsi atau melakukan kontak dengan siapa pun yang kembali dari luar negeri.

Baca juga: Fenomena Gelombang Laut Bersinar Neon di California Bikin Gempar