Kasus Corona COVID-19 di Brasil Lebih dari 1 Juta, 49 Ribu Orang Meninggal

Liputan6.com, Brasilia - Brasil telah menjadi negara kedua di dunia yang mengkonfirmasi lebih dari satu juta kasus virus corona baru dan penyakit ini terus menyebar di negara Amerika Latin tersebut. Angka terkini menjadikan Negeri Samba membuntuti Amerika Serikat sebagai pemuncak kasus konfirmasi terbanyak di seluruh dunia.

Kementerian kesehatan juga membukukan rekor jumlah kasus baru dalam 24 jam terakhir --lebih dari 54.000, demikian seperti dikutip dari BBC, Sabtu (20/6/2020).

Selain itu, ada lebih dari 1.200 kematian untuk hari keempat berturut-turut, menjadikan total kasus meninggal sebanyak 49.000, menurut catatan Worldometers.

Kurangnya pengujian di Brasil memunculkan dugaan bahwa angka kasus sebenarnya lebih tinggi dan para ahli mengatakan wabah tinggal menunggu beberapa minggu lagi dari puncaknya. Sementara itu, komunitas-komunitas termiskin Brasil dan penduduk asli telah sangat terpukul oleh pandemi vitus corona ini.

Presiden Jair Bolsonaro telah banyak dikritik karena tanggapannya terhadap krisis. Pemimpin sayap kanan itu --yang awalnya menggambarkan penyakit itu sebagai "flu kecil"-- telah berulangkali bentrok dengan gubernur dan walikota negara bagian yang telah menerapkan pembatasan ketat untuk mengekang penyebaran virus itu, menutup kota-kota besar.

Bolsonaro berpendapat bahwa dampak ekonomi dari tindakan itu akan jauh lebih besar daripada virus corona itu sendiri, suatu posisi yang dimiliki oleh banyak orang. Tetapi pendekatan keseluruhannya terhadap krisis telah menyebabkan pengunduran diri dua dokter sebagai menteri kesehatan.

 

Virus Corona di Brasil Jadi Isu Politis

Pemandangan dari udara memperlihatkan pemakaman Vila Formosa di pinggiran Sao Paulo, Brasil, 31 Maret 2020. Jumlah penguburan di pemakaman terbesar di Amerika Latin ini meningkat 30 persen sejak awal pandemi virus corona COVID-19. (Photo by NELSON ALMEIDA /AFP)

Virus corona telah menjadi masalah yang sangat politis di Brasil. Para ahli mengatakan penolakan presiden untuk mengikuti saran ilmiah --termasuk yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti jarak sosial-- sebagian bertanggung jawab atas keparahan krisis.

Pada mulanya, Bolsonaro berulang kali mengatakan risiko yang ditimbulkan oleh virus tersebut telah dibesar-besarkan, dan bahkan bergabung dengan beberapa demonstrasi anti-lockdown yang diselenggarakan oleh para pendukungnya, merusak pesan kementerian kesehatannya sendiri terhadap orang banyak.

Bolsonaro menuduh para gubernur negara bagian menggunakan masalah ini untuk keuntungan politik karena banyak yang telah mengambil tindakan lebih keras menentang pemerintahnya. João Doria, gubernur negara bagian terkaya Brasil, São Paulo dan sekutu yang berubah menjadi saingan, sebelumnya menggambarkan pandangan presiden tentang penanganan penyakit itu sebagai "Bolsonarovirus".

Presiden juga sangat mendukung penggunaan hydroxychloroquine untuk perawatan pasien, obat yang menurut WHO tidak mengurangi angka kematian. Setelah dua menteri kesehatan berhenti, respons pemerintah kini dipimpin oleh seorang jenderal militer yang tidak memiliki pengalaman dalam bidang kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Bolsonaro dan sekutunya telah berbalik melawan media, mengklaim fokus berlebihan pada jumlah korban. Kementerian kesehatan menghapus data tentang virus dari situs web pemerintah awal bulan ini, tetapi dipaksa untuk membalikkan keputusan setelah perintah Mahkamah Agung dan tuduhan mencoba memanipulasi angka-angka.

Di tengah pandemi, Bolsonaro menghadapi krisis politik yang terus meningkat. Dia sedang diselidiki karena diduga berusaha mengganggu polisi karena motif politik, yang dia bantah, sementara Mahkamah Agung melakukan dua penyelidikan terpisah ke sekutunya.

Simak video pilihan berikut: