Kasus COVID-19 di Jakarta Melonjak, Anies Paparkan Langkah Penanganan

·Bacaan 1 menit

VIVA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengemukakan, kasus COVID-19 di Jakarta mengalami kenaikan secara sangat signifikan dalam dua minggu terakhir ini.

Tahun lalu, kata Anies, kasus COVID-19 mencapai puncaknya pada Februari dengan kenaikan bertahap pelan-pelan, sementara sekarang eksponensial. Misalnya, lanjut Anies, awal total 10 kasus, lalu 1.000 kasus, lompat 1.500, lalu 2.000 kemudian 3.000 bahkan sekarang 5.000 kasus baru.

"Ini diduga ada dua faktor satu adalah varian baru, proses penularan cepat. Kedua adalah kembalinya arus mudik ketika mulai 1 Juni kita selesai menutup perbatasan dari pengetatan. Nah ini kemudian yang sekarang sedang kita alami," ujar Anies dalam wawacara dengan tvOne di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, Selasa, 22 Juni 2021.

Untuk penanganan dalam jangka pendek, menurut Anies, yaitu menangani mereka yang terpapar. Jakarta saat ini memiliki lebih dari 30 ribu kasus aktif.

Penanganan yang paling mendasar, menurut Anies, pertama menyiapkan tempat isolasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tambahan tempat isolasi yaitu rumah susun (rusun) yang belum terpakai.

Kedua, meningkatkan kapasitas rumah sakit untuk pasien yang berat atau kritis. Ketiga, pengetatan. Anies meminta kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas yang bukan merupakan kebutuhan pokok dan tidak mendesak.

"Jadi, jangka pendek adalah penanganan mereka yang terpapar, jangka menengah bersama-sama mengurangi aktivitas yang bukan mendesak," ujarnya.

Anies mengingatkan, "Ini bukan angka statistik saja ketika ada 5.000 kasus baru, 5.000 itu 5.000 orang. Punya keluarga, saudara, anak, ayah. Mereka-mereka itu ketika positif merasakan seluruh keluarganya ketegangan apalagi kalau orang tua ada komorbid."

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel