Kasus COVID-19 di Jateng Turun 73,5 Persen Selama Tiga Bulan

Syahrul Ansyari, antv/tvOne
·Bacaan 2 menit

VIVA - Grafik kasus pandemi COVID-19 di Jawa Tengah pekan ini mulai melandai. Selama empat minggu terakhir, Jateng terbebas dari zona merah karena tidak ada satupun kabupaten/kota di Jateng yang masuk kategori resiko tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo, mengatakan penurunan kasus COVID-19 di Jateng memang sangat drastis. Dibanding puncak kasus konfirmasi pada awal Desember 2020, sudah menurun sebesar 73,5 persen pada minggu ini.

"Tren kasus meninggal juga menurun drastis dari puncak Januari lalu, turun sebesar 77,9 persen sampai saat ini," kata Yulianto pada rapat penanganan COVID-19 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin, 8 Maret 2021.

Baca juga: Jateng Dua Pekan Tanpa Zona Merah COVID-19, Ganjar Ingatkan Hati-hati

Ia menambahkan, tren penambahan kasus baru, lanjut Yulianto, juga terus menurun tiap minggunya. Sementara tingkat angka kesembuhan atau recovery rate (RR) di Jateng sudah mencapai 90,01 persen hingga 7 Maret 2021.

"Tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di Jateng juga terus menurun. Tempat tidur isolasi total 8555 hanya terpakai 2668. Sementara ICU dari total 1091, saat ini hanya terpakai 321. Hal itu juga terjadi di tempat isolasi terpusat di Donohudan yang kapasitasnya 872 saat ini hanya berisi 22 orang, serta BPSDM dengan kapasitas 266 tempat tidur, saat ini hanya terisi 18 orang," katanya.

Menanggapi laporan ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan semua tidak boleh lengah dan tracing serta testing harus terus digenjot.

"Saya minta jangan lengah. Sebab saya masih berkeliling dan menemukan ada beberapa tempat kerumunan seperti Car Free Day (CFD) dan sebagainya," kata Ganjar usai memimpin rapat penanganan COVID-19 tersebut.

Ia meminta kabupaten/kota melakukan pengetatan. Kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian seperti CFD, kalau memang diizinkan harus dibatasi dengan cara diberi jarak.

"Testing dan tracing harus digenjot dan makin banyak lagi, karena rata-rata fasilitas semua daerah sudah punya. Tinggal nanti kalau butuh reagen, kami siap bantu," katanya.

Dari sisi data epidemologis, Ganjar menunjukkan gambar grafik yang terus menurun di Jawa Tengah. Mulai dari kondisi awal, dari 2020 sampai sekarang kondisinya terus melandai.

"Kalau dilihat grafiknya, kasus yang meninggal puncaknya ternyata di November 2020 dan kasus aktif puncaknya di awal-awal Desember. Setelah itu terus turun sangat drastis sampai saat ini," katanya.

Data terakhir lanjut Ganjar, kasus aktif di Jawa Tengah saat ini sebanyak 6.038 atau turun 10,49 persen dari minggu sebelumnya. Kasus dirawat ada 3.440 dan isolasi sebanyak 2.598 orang, turun 15,97 persen dari minggu sebelumnya.

Laporan: Teguh Joko Sutrisno/ tvOne.