Kasus COVID-19 hingga Saham Teknologi Jadi Sentimen Pasar Modal

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham global ditutup melemah secara mingguan, seiring dengan saham Amerika Serikat (AS) yang mengalami volatilitas signifikan, dengan indeks S&P 500 yang sempat turun hingga 4 persen pada pertengahan minggu.

Faktor utama pemicu volatilitas datang dari data inflasi AS per April yang secara tahunan mencatatkan kenaikan pesat sebanyak 4,2 persen. Hal itu menyebabkan ada kekhawatiran akan dampak tekanan inflasi terhadap arah kebijakan the Fed ke depan.

Pada pekan ini, investor akan memperhatikan performa saham-saham teknologi, mencoba mencari indikasi terhadap bagaimana pasar menilai dampak dari kenaikan tekanan inflasi di AS. Indeks saham Nasdaq ditutup naik 2,3 persen pada Jumat lalu di tengah fluktuasi pasar.

Hasil asil notula rapat FOMC terbaru akan dirilis pada Rabu, bersama dengan serangkaian pidato oleh pejabat the Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat sepanjang minggu ini.

"Tentunya pasar akan mencari indikasi terhadap setiap perubahan pandangan bank sentral terhadap kenaikan tekanan inflasi baru-baru ini,” seperti dikutip dalam weekly market journal OCBC NISP, Senin (24/5/2021).

Sementara itu, di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,42 persen ke level 5.773,12 pada Jumat, 21 Mei 2021. IHSG sempat melemah ke level 5.742,03, yang merupakan level terendah sejak tiga bulan perdagangan.

Dari sisi data, investor mengantisipasi untuk bertahannya surplus neraca dagang Indonesia untuk April, didukung oleh pertumbuhan ekspor dan impor.

Selain itu, investor juga akan memperhatikan tingkat infeksi virus yang sebabkan COVID-19 domestik dalam beberapa minggu ke depan, khususnya mengingat mobilitas masyarakat yang terlihat meningkat seiring dengan adanya libur panjang di minggu lalu.

Adapun secara teknikal, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto menilai, IHSG mengalami rebound teknis tetapi masih di bawah MA5. Artinya, IHSG belum mengubah arah tren, tetapi masih ada peluang menguat terbatas dengan resistance pada 5.840.

"Hari ini IHSG berpotensi bergerak mixed cenderung melemah dalam range 5.721 sampai dengan 5.840,” ujar WIlliam dalam catatannya.

Penutupan IHSG pada 24 Mei 2021

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu bertahan di zona hijau. IHSG berbalik arah ke zona merah pada Senin, 24 Mei 2021.

Mengutip data RTI, IHSG melemah 0,16 persen ke posisi 5.763,63. Indeks saham LQ45 naik tipis 0,03 persen ke posisi 858,61. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Pada awal pekan ini, IHSG bergerak di kisaran 5.759-5.805. Sebanyak 320 saham melemah sehingga menekan IHSG. 191 saham menguat dan 138 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.100.431 kali dengan volume perdagangan 17,8 miliar saham.

Nilai transaksi harian saham Rp 9 triiun. Investor asing borong saham Rp 388,63 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran Rp 14.341.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham tertekan. Sektor saham IDXBasic melemah 2,62 persen, dan mencatat penurunan terbesar. Diikuti sektor saham IDXTrans susut 2,38 persen dan sektor saham IDXProperty melemah 0,82 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini