Kasus COVID-19 Melonjak, Anabatic Technologies Bakal Revisi Target Pendapatan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) menegaskan akan merevisi target mengingat angka kasus COVID-19 yang melonjak tajam.

Presiden Direktur Anabatic Technologies, Harry Surjanto Hambali menyebut kenaikan kasus yang terjadi melebihi pada awal pandemi COVID-19 pada awal 2020, sehingga analisis yang lebih tajam perlu dilakukan.

"Kita menyadari pandemi ini masih berlangsung, jadi di awal 2021 kami cukup agresif menaruh target, namun saat ini kami sedang mengevaluasi balik target yang sudah di setup di awal. Mengingat setidaknya 2 minggu terakhir ini jumlah pasien covid naik luar biasa sekali, dan ini sudah melewati masa tertinggi di 2020," katanya secara virtual, Jumat (25/6/2021).

Meski demikian, Harry menegaskan bila pihaknya optimistis terjadi pertumbuhan meski tak sebesar yang diharapkan pada awal tahun ini.

"Tapi saya masih optimis kita bisa bertumbuh, walaupun tak signifikan, kita merencanakan pertumbuhan konvensional kurang dari dua digit jadi masih di bawah 10 persen, mengingat kekhawatiran kita akan kasus covid ini," ujarnya.

Data sebaran Covid-19 per 24 Juni 2021 menunjukkan lonjakan kasus baru COVID-19 tembus 20 ribu yakni 20.574. Angka ini menambah akumulasi kasus positif COVID-19 di Indonesia menjadi 2.053.995.Provinsi yang menyumbang kasus terbanyak hari ini adalah DKI Jakarta yakni 7.505 kasus dan kasus sembuhnya 2.438.

Kasus meninggal juga mengalami penambahan yakni 355 sehingga akumulasi pasien COVID-19 yang meninggal hingga 24 Juni 2021 adalah 55.949.

Sementara itu, kasus sembuh hari ini ada 9.201 orang sehingga akumulasi pasien sembuh menjadi 1.826.504.Data tersebut juga menunjukkan penambahan kasus aktif sebanyak 11.018 sehingga total kasus aktif hingga hari ini adalah 171.542. Di sisi lain, jumlah spesimen sebanyak 136.896 dan suspek sebanyak 126.696.

Penjelasan soal Suspensi Saham

Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) pada Senin, 21 Juni 2021 dan Rabu, 23 Juni 2021. Hal ini dilakukan karena peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham ATIC. Peningkatan saham ATIC hingga mendapatkan auto reject atas (ARA) sebesar 25 persen selama 4 sesi terjadi sejak Selasa 15 Juni 2021 hingga Jumat 18 Juni 2021.

Sepanjang tahun berjalan 2021, saham ATIC melonjak 293,04 persen ke posisi Rp 2.260. Saham ATIC berada di level tertinggi Rp 2.260 dan terendah Rp 535. Total frekuensi perdagangan 8.248 kali dengan nilai transaksi Rp 14,1 miliar.

Melihat pergerakan sahamnya, Camelia Suryana Bong, Corporate Secretary Anabatic Technologies menuturkan, bila perseroan tak mengetahui secara pasti alasan kenaikan ini.

"Perseroan tidak memiliki informasi atau fakta penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga efek perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada public dan mempengaruhi peningkatan harga dan aktivitas saham ATIC pada 15 Juni 2021," ujar dia secara virtual, Jumat, 25 Juni 2021.

Camelia juga menegaskan, perseroan tidak mengetahui informasi aktivitas dari pemegang saham tertentu yang melakukan transaksi yang mengakibatkan peningkatan harga dan aktivitas saham ATIC pada 15 Juni 2021.

"Adapun Perseroan akan senantiasa memenuhi setiap ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No. 11/POJK.04/2017," tuturnya.

Hingga saat ini, perseroan menegaskan bila pihaknya belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi, termasuk rencana korporasi yang akan berakibat terhadap pencatatan saham Perseroan di bursa.

"Pemegang saham utama Perseroan pada saat ini masih belum memiliki rencana untuk melakukan perubahan. Akan tetapi dikemudian hari dapat melakukan restrukturisasi sesuai dengan kebutuhan Perseroan, akan dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan dan perundangan yang berlaku," tegas Camelia.

Meski demikian, perseroan mengaku telah mengambil langkah strategis untuk masuk ke area Fintech. Hal ini dilakukan karena perseroan memiliki basis penguasaan IT dan telah berkecimpung dalam dunia perbankan atua financial sejak berdiri pada 2001.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel