Kasus COVID-19 Melonjak, Nadiem Diminta Tunda Sekolah Tatap Muka

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus COVID-19 di Indonesia kembali meningkat. Dari data kasus COVID-19 di Indonesia diketahui 12,6 persen anak-anak di Indonesia diketahui positif COVID-19. Ini berarti sekitar 1 dari 8 kasus Covid-19 di Indonesia sejak awal pandemi merupakan pasien anak-anak.

Dari jumlah tersebut, 2,9 persen terjadi pada anak usia 0-5 tahun. Sedangkan 9,7 persen menimpa anak usia 6-18 tahun. Itu artinya dari dua juta kasus COVID-19 di Indonesia saat ini, ada sekitar 250.000 anak yang terjangkit COVID-19.

Meningkatnya kasus COVID-19 ini membuat Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Menristek) Nadiem Makarim untuk menunda rencana pembelajaran tatap muka yang direncakan pada Juli mendatang.

“Kami meminta Mas Menteri Nadiem menunda pembukaan sekolah dan PTM yang rencananya akan dilaksanakan pada pertengahan Juli 2021. Kami juga meminta pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), agar dapat menahan laju sebaran COVID-19,"kata Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri dalam keterangannya.

P2G juga mendesak para kepala daerah yang masih menyelenggarakan uji coba pembelajaran tatap muka, segera menghentikan uji coba sekolah tatap muka. Bahkan daerah yang positivity rate nya masih di atas 10%, diminta untuk tidak membuka sekolah tatap muka di awal tahun ajaran baru pertengahan Juli 2021 nanti.

"P2G masih mendapatkan laporan dari jaringan P2G daerah, bahwa masih ada daerah yang melakukan uji coba sekolah tatap muka, seperti Kab. Bogor, Kab. Ponorogo, Kab. Pacitan, Kab. Situbondo, Kab. Labuhan Batu Utara, Kota Medan, Kab. Tanah Datar, Kab. Bima, dan lainnya. Walaupun siswa sudah beres Ujian Kenaikan Kelas, tetapi para guru masih masuk," tutur Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim.

Selain itu P2G meminta agar Nadiem menerbitkan aturan mengenai Masa Orientasi Sekolah (MOS) Tahun Ajaran 2021/2022 di masa pandemi COVID-19. Hal ini perlu dilakukan mengingat para siswa akan akan menghadapi awal semester baru di tahun ajaran baru 2021/2022 pada Juli besok.

“Oleh sebab itu, kami mendesak agar Kemdikbudristek segera menyiapkan pedoman MPLS/MOS di masa pandemik bagi sekolah. Sebab para siswa baru akan segera masuk, sekitar 2 minggu ke depan,” kata Iman.

Pedoman Pelaksanaan MPLS/MOS di Masa Pandemi ini penting segar dibuat, agar sekolah dapat menyiapkan konten MPLS/MOS yang bermakna, aman, tetap kreatif, dan menggembirakan bagi siswa baru.

“Tentu skema MPLS/MOS mesti diselenggarakan secara daring. P2G mengingatkan juga jangan sampai ada sekolah yang memaksakan siswanya masuk mengikuti MPLS/MOS nanti. Meskipun hanya 3 hari dan jumlah anaknya dibatasi. Jika dilakukan tentu sangat berisiko bagi nyawa dan kesehatan siswa, guru, dan keluarganya,” kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel