Kasus COVID-19 pada Anak Tinggi, Ini Hal Penting yang Harus Dilakukan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Angka kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia sempat menjadi yang paling tinggi di dunia. Penyebabnya adalah selain riwayat komorbid pada anak, kecukupan asupan gizi anak juga turut memengaruhi.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Meta Herdiana Hanindita SpA(K), mengatakan, berdasarkan data per 14 Juli 2021, dari semua kelompok umur, anak-anak menempati 13 persen penderita COVID-19 dan 1,1 persen di antaranya meninggal dunia.

"Yang utama saat ini adalah menjaga imunitas dan daya tahan tubuh anak. Jangan sampai anak menjadi malnutrisi,” ujarnya saat Webinar Nasional yang digelar PP Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) baru-baru ini.

“Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua beranggapan malnutrisi adalah kurang gizi, padahal overweight dan obesitas juga termasuk malnutrisi. Karena itu, kecukupan gizi anak saat ini menjadi penting," tambahnya.

Dijelaskan Meta, pada dasarnya tidak ada perbedaan kebutuhan gizi anak di masa pandemi maupun di luar masa pandemi. Sebab nutrisi di awal kehidupan sangat memengaruhi masa depan anak.

"Hasil penelitian anak-anak yang malnutrisi akan menjadi pekerja kasar, sementara anak dengan cukup gizi akan menjadi pekerja kerah putih. Karena itu, kesalahan asupan gizi pada anak harus diperhatikan sedini mungkin," kata dia.

Meta mencontohkan, anak yang sudah terlanjur mengonsumsi kental manis, harus segera diganti susunya. Karena kandungan susu kental manis, nutrisinya tidak disesuaikan dengan kebutuhan bayi atau anak.

"Jadi harus segera ganti dengan susu yang kandungan protein tinggi, kandungan gula rendah dan memang susu yang dibutuhkan sesuai dengan tahapan perkembangan anak," pungkas dia.

Sebagaimana diketahui, mengonsumsi makanan bergizi sangat penting untuk membangun kekebalan tubuh yang kuat agar terlindung dari infeksi virus, serta memberikan perlindungan ekstra pada anak.

Karena itu, dalam upaya melindungi anak dari paparan virus corona, sekaligus mencegah stunting dan gizi buruk, yang perlu dilakukan adalah memastikan anak mengonsumsi makanan dan minuman yang sesuai dengan kebutuhan gizinya.

Selain itu, yang juga perlu diwaspadai adalah asupan gula garam lemak pada anak agar tidak berlebihan.

Berdasarkan Analisis data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI), 29,7 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 77 juta jiwa sudah mengonsumsi garam, gula, lemak, (GGL) melebihi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana gula (>50 gram/hari), garam (>5 gram/hari), dan lemak (>67 gram/hari).

Ketua VII PP Muslimat NU, Dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan, hal tersebutlah yang memperburuk persoalan kesehatan di Indonesia. Pada usia yang lebih dini, konsumsi gula berlebih pada anak terlihat dengan masih banyak orang tua yang memberikan kental manis pada balitanya sebagai pengganti ASI.

"Padahal produk kental manis mengandung gula lebih dari 50 persen dan merupakan jenis susu yang peruntukan bukan sebagai minuman harian anak, melainkan bahan tambahan makanan dan minuman," ungkap dia.

Menurut Erna, yang dibutuhkan masyarakat adalah edukasi yang berkelanjutan yang diiringi dengan perbaikan kebiasaan, pola asuh dan konsumsi keluarga.

"Oleh karena itu, meski saat ini Indonesia masih menghadapi badai pandemi, namun program-program pencegahan stunting harus tetap diprioritaskan. Bila tidak, kebutuhan nutrisi dan perkembangan anak-anak Indonesia jelas terdampak," imbuh Erna Yulia Soefihara.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel