Kasus Dera Bukan RS Tolak Pasien Miskin, Tapi Soal Kekurangan Peralatan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus meninggalnya Dera, bayi yang meninggal akibat belum mendapatkan pertolongan karena kelainan di kerongkongan bukan semata-mata kesalahan rumah sakit yang menolak pasien dari keluarga miskin, melainkan keterbatasan alat dan perlengkapan.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nova Riyanti Yusuf mengatakan, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pernah menyampaikan bahwa pada tahun 2013 rumah sakit seluruh Indonesia kekurangan lebih dari 80.000 tempat tidur dan 1500 dokter umum, belum lagi peralatan standar kesehatan lainnya.

"Kasus Dera ini hanya seperti puncak gunung es dari permasalahan kurangnya fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Saya melihatnya bukan semata kesalahan RS dalam menolak pasien miskin, karena pada kenyataannya orang yang punya duit pun sering kali ditolak di RS Pemerintah karena memang tempat tidurnya penuh," kata Nova dalam pernyataannya kepada Tribunnews, Selasa(19/2/2013).

Nova mengatakan, kekurangan perlatan tersebut tidak diatasi dengan kesigapan. hal ini akan semakin parah ketika BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada tahun 2014.

Sistem yang seharusnya dibangun saat ini, lanjut Nova selain dengan memperbanyak kapasitas tempat tidur di RS Pemerintah, juga dengan melaksanakan sistem rujukan dengan memperbaiki fasilitas di Puskesmas atau RS Pratama. Perbanyak puskesmas yang bisa melakukan rawat inap.

Sehingga RS tidak penuh dengan pasien yang sebenarnya bisa ditangani di Puskesmas.

Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan kalau sarana dan prasarana fasilitas kesehatan masih jauh kurang dari kebutuhan, bukan tidak mungkin kita akan menghadapi lagi kasus Dera di masa yamg akan datang. Apalagi seperti Dera perlu ditaruh di NiCU (Neonatal Intensive Care Unit) dan jumlah NiCu di seluruh DKI hanya ada 143 buah.

"Dokter di RS juga manusia, saya yakin mereka juga punya hati nurani untuk tidak tega membiarkan pasien tidak dirawat apabila di RS masih tersedia tempat perawatan," katanya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.