Kasus All England 2021 Bisa Jadi Sampai ke Pengadilan Internasional

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari memastikan pihaknya takkan membiarkan para pebulutangkis merasa sendirian dalam menghadapi situasi tak enak di All England 2021.

Pebulutangkis Indonesia bisa dibilang dipaksa mundur oleh panitia penyelenggaran All England 2021 dan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Mereka diminta segera melakukan isolasi mandiri seperti yang disampaikan oleh National Health Service (NHS) Inggris.

Alasannya, rombongan Indonesia satu pesawat dengan seorang penumpang anonim yang dinyatakan positif COVID-19. Kabar ini sontak membuat publik Indonesia marah.

Alasannya, para pebulutangkis Indonesia sudah lima hari berada di Inggris. Sejak kedatangan mereka sudah melakukan tes PCR dan hasilnya negatif.

Tapi mengapa ketika hari pertandingan dapat email dari NHS dan BWF langsung meminta mereka mematuhinya. Hal ini berkebalikan dengan yang dialami sejumlah wakil dari Denmark, Thailand, dan India sehari sebelumnya.

Mereka semua masih diberi kesempatan melakukan tes PCR karena sebelumnya sempat positif COVID-19. Managers meeting dan pembukaan All England 2021 juga ditunda sembari menunggu hasil tes mereka.

Okto mengatakan, keputusan BWF untuk menghentikan keikutsertaan wakil Indonesia di All England sudah final. Tapi KOI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta PB PBSI akan berjuang terus menuntut keadilan.

Mereka takkan membiarkan para pebulutangkis menghadapi situasi tak enak ini sendirian. Rasa kecewa yang dialami saja bisa berdampak ke psikologis ke depannya.

"Keputusan sudah final. Tentunya kita sedang memperjuangkan keadilan terhadap apa yang dialami atlet kita. Kami merasakan ini akan jadi satu tekanan tersendiri kepada para atlet, walaupun ini tidak mempengaruhi ranking para atlet kita untuk Olimpiade," kata Okto dalam konferensi pers, kemarin.

"Tapi kita akan berikan effort terbaik agar atlet tahu, bahwa negara, KOI, dan PBSI terus berjuang untuk kepentingan mereka. Memperjuangan hak dan kepentingan atlet dari Indonesia," imbuhnya.

Okto masih menanti kejelasan dari BWF terkait alasan mengapa wakil Indonesia dihentikan keikutsertaannya. Jika nantinya merasa ada yang tak beres, dia membuka kemungkinan melakukan tuntutan melalui Pengadilan Arbritase Olahraga (CAS).

"Tidak tertutup kemungkinan insiden ini akan kami bawa sampai ke CAS," tutur Okto.