Kasus Evergrande di China Tak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Persoalan Evergrande di China atau terjadinya pembahasan fiskal debt limit di Amerika Serikat, memang menjadi faktor yang Pemerintah Indonesia waspadai.

Kendati begitu Ekonom UoB, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan dua isu tersebut sebenarnya hanya memberikan dampak yang temporer atau sementara untuk Indonesia, bahkan bisa disebut tidak ada dampak.

“Saat ini utang Evergrande sangat besar USD 300 miliar atau 2,5 persen dari GDP Tiongkok. Tapi sebagian besar lebih dari 98 persen dalam mata uang lokal mungkin dampaknya akan sangat temporer atau tidak ada (terhadap Indonesia),” kata Enrico dalam Taklimat Media – Tanya BKF “Arah Pemulihan Ekonomi 2021 dan Isu Fiskal Terkini”, Jumat (1/10/2021).

Menurut Enrico, memang persoalan Evergrande ini meningkatkan faktor persepsi risiko, namun untuk dampaknya sangat berbeda jika dibandingkan dengan dampak krisis keuangan global tahun 2008 yang bersifat sistemik.

“Kalau kita lihat credit default swap (CDS) itu hanya naik sedikit dan turun lagi, market setuju bahwa problem ini (evergrande) sangat domesticated. Tapi kita perlu bersiap diri walaupun dampaknya ada. Evergrande lagi-lagi sifatnya sangat domesticated,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menambahkan, bahwa isu Evergrande di China atau terjadinya pembahasan fiskal debt limit di Amerika Serikat dampaknya terhadap Indonesia terbatas.

“Kita melihat resikonya sangat contain, ini bukan pertama kalinya Amerika mengakat isu tentang date limit mereka. Jadi ini justru menarik, kita masih sangat jauh sekali. Menariknya untuk kita dampaknya akan sangat terbatas ke Indonesianya,” ujar Febrio.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Bisa Dihadapi

Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kendati demikian, kedua persoalan itu bisa dihadapi asalkan perekonomian domestik Indonesia bisa terjaga dengan baik. Misalnya Purchasing Managers Index (PMI), dan pengendalian covid-19 bisa terjaga.

“Kita harus semakin yakin bahwa apapun yang terjadi di global yang kita tahu bisa berdampak pada kita itu bisa hadapi kalau perekonomian domestik kita bisa jaga baik, seperti PMI kita jaga baik, mobilitas kita jaga baik, covid membaik dan ini menjadi modal yang menjadi pembeda Indonesia dengan negara lain,” jelasnya.

Seperti yang diketahui, saat ini Amerika Serikat menghadapi tenggat waktu untuk mengatasi plafon utang negara AS yang berada di level USD 28,4 triliun. Oleh karena itu kebijakan penangguhan batas utang debt limit masih menjadi pembahasan, dan pelaku ekonomi global menantikan arah kebijakan Pemerintah AS.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel