Kasus Hambalang, Adhi Karya Setor Rp 10 Miliar

TEMPO.CO , Jakarta:PT Adhi Karya Tbk telah mengucurkan dana sekitar Rp 8-10 miliar untuk memuluskan jalan mendapatkan proyek pembangunan pusat olahraga nasional di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Pengeluaran ini terjadi sebelum kontrak Kerja Sama Operasi (KSO) diteken pada 10 Desember 2010.

Pengacara Teuku Bagus, mantan Direktur Operasional I Adhi Karya, Haryo Budi Wibowo, mengungkapkan, perusahaan milik negara itu mengeluarkan uang karena ada permintaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui seorang pengusaha. »Kami berikan kepada swasta,” katanya kepada Tempo.

Ia menceritakan, ketika masih dalam proses lelang atau sebelum KSO diteken, ada dua orang dari perusahaan sub-kontraktor Hambalang dan perusahaan konsultan konstruksi datang meminta duit ke Adhi Karya. Karena kedua orang itu mengancam, pegawai Adhi terpaksa memberi uang dari kas bon. »Tapi, saat diperiksa KPK, mereka (kedua orang itu) tidak mengaku pernah menerima duit,” ujar Haryo.

Penelusuran majalah Tempo menunjukkan bahwa uang pelicin yang dikucurkan Adhi Karya dan mitranya, PT Wijaya Karya Tbk, jauh melebihi Rp 10 miliar. Pengeluaran Adhi Karya-Wijaya Karya untuk uang suap ditaksir Rp 80 miliar.

Rinciannya, pengeluaran KSO Adhi-Wika setelah kontrak diteken mencapai Rp 70 miliar. Itu sudah termasuk yang disalurkan lewat Machfud Suroso, Direktur Utama PT Dutasari Citralaras, perusahaan sub-kontraktor. Ketika proyek masih dalam tahap perencanaan pada September 2009, Adhi Karya sudah mengeluarkan Rp 5 miliar.

Uang tersebut diduga disetorkan ke Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam melalui pengusaha Paul Nelwan dan untuk mengganti pengeluaran Machfud Suroso sebesar Rp 3 miliar.

Nama Wafid tercatat lagi dalam pembukuan Adhi Karya. Pada 2010, ia ditulis menerima Rp 1,1 miliar. Enam bulan kemudian, ia ditulis dua kali menerima Rp 2 miliar dari Paul Nelwan dan Poniran, asisten Wafid. Paul menyangkal pernah menjadi perantara uang dari Adhi Karya kepada Wafid.

Wafid Muharam belum dapat ditemui setelah menghuni Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung. Adapun Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Kiswo Darmawan, mengatakan tidak mengetahui perihal uang suap itu karena, pada saat proyek tersebut ditenderkan, dia belum menjabat. »Kejadian itu kan sebelum saya di Adhi Karya,” ujar mantan Direktur Operasi PT Pembangunan Perumahan Tbk ini setelah diperiksa KPK pada Jumat pekan lalu.

Proyek Hambalang dikerjakan oleh Adhi Karya sejak 2010. Proyek itu menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara senilai Rp 2,5 triliun. Dalam proyek ini, Adhi Karya mendapat jatah pekerjaan sebesar 70 persen, dan sisanya dipegang oleh Wijaya Karya.

Dalam dugaan rasuah ini, mantan menteri pemuda dan olahraga Andi Mallarangeng, mantan pejabat pembuat komitmen Deddy Kusdinar, serta Teuku Bagus menjadi tersangka penyalahgunaan wewenang lantaran membiarkan masuknya perusahaan subkontraktor yang memboroskan anggaran. Akibatnya, terjadi kerugian negara hingga ratusan miliar rupiah. Tersangka lainnya adalah mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum. Ia diduga menerima sogokan berupa mobil Toyota Harrier dan Vellfire dari Adhi Karya. Anas membantah menerima gratifikasi itu.

NUR ALFIYAH | EFRI R

Berita Terpopler

Soal Jokowi, Prabowo: Saya yang Bawa Dia dari Solo

Ahok: Pasar Tanah Abang Bukan Punya Emak Mereka

Demi Anak, Perempuan Ini Berenang Sampai Mati

Sutradara Despicable Me Ternyata Anak N.H. Dini

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.