Kasus Kematian Ibu Hamil Meningkat di Gunungkidul, Covid-19 Jadi Pemicunya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Gunungkidul Pandemi Covid-19 terus merajalela, setidaknya puluhan jiwa meninggal dunia akibat terpapar virus corona. Begitu juga dengan ibu hamil dan melahirkan menjadi salah satu kelompok rentan terinfeksi virus Covid-19. Tak hanya mengancam nyawa sang ibu, bayi yang dilahirkannya pun berpotensi terpapar Covid-19.

Kepala Dinas Kesejatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Irawati mengungkapkan bahwa angka kematian akibat Covid-19 di Gunungkidul masih tinggi. Terlebih, ada 7 kasus kematian ibu hamil dan melahirkan pada masa pandemi Covid-19 ini.

Keseluruhan kasus tersebut terjadi pada 2021 ini, sedangkan pada tahun sebelumnya yaitu 2020 tidak ditemukan kasus atau nihil kasus. Artinya, peningkatan kasus tersebut sebanding dengan lonjakan kasus harian yang dilaporkan Dinas Kesehatan.

"Sejauh ini tercatat ada 7 kasus kematian, yang mana 1 sampai 2 kasus terkonfirmasi positif," kata Dewi, Kamis (29/7/2021).

Dewi menjelaskan, kematian ibu hamil terjadi tidak hanya karena terpapar Covid-19. Namun, juga faktor penyebab lain seperti penyakit bawaan atau saat proses persalinan (melahirkan).

"Seperti ada pendarahan dan infeksi pada saat sebelum atau sesudah persalinan," ujarnya.

Menurut Dewi, klaster keluarga menjadi pemicu utama kelompok ibu hamil terpapar Covid-19. Sulitnya penerapan protokol kesehatan (prokes) di lingkungan rumah dan keluarga juga jadi penyebab kematian ibu hamil pada masa pandemi.

Ia mengakui kematian ibu hamil baru meningkat pada tahun ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan layanan di fasilitas kesehatan (faskes) yang terbatas, tak jarang para ibu yang akan melahirkan harus masuk dalam antrean.

"Sebelumnya yang bisa menangani persalinan dengan status konfirmasi positif hanya RSUD (Wonosari)," ungkap Dewi.

Sejauh ini, sudah ada 2 puskesmas yang diarahkan untuk menangani persalinan dengan status konfirmasi positif Covid-19. Keduanya adalah Puskesmas Semin I dan Rongkop.

Mekanismenya, bagi ibu dengan konfirmasi positif Covid-19 akan ditangani dengan prosedur khusus. Sedangkan, yang hasilnya negatif akan menjalani prosedur persalinan standar.

"Sebelum proses persalinan akan dites dulu. Ke depan jumlah puskesmas yang menangani persalinan konfirmasi positif akan kami tambah," kata Dewi.

Kelebihan Kapasitas

Di samping itu, penambahan tempat tidur (bed) terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul agar mampu menampung pasien Covid-19 bergejala. Namun, tantangan muncul dengan lonjakan kasus baru yang bisa terjadi setiap hari.

Dewi mengakui bahwa fasilitas penanganan Covid-19 di wilayahnya pernah mengalami kelebihan kapasitas (over capacity). Akibatnya, ada beberapa pasien yang sudah diantar ke Rumah sakit terpaksa dibawa pulang kembali.

"Pernah mengalami itu, jadi pasien yang sudah datang ke rumah sakit (RS) terpaksa pulang atau dirujuk ke puskesmas yang mampu menangani atau dengan skema isolasi mandiri (isoman)" ungkap Dewi.

Selain kondisi over capacity, kendala lain yang dihadapi adalah kondisi tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar. Dewi menyebut salah satu yang terparah terjadi di RSUD Saptosari, di mana nyaris seluruh tenaga "tumbang".

"Mulai dari direktur sampai jajarannya ke bawah itu kemarin sempat terpapar juga," ungkapnya.

Adapun untuk saat ini, Dewi mengklaim tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di Gunungkidul mulai mampu dikendalikan. Meski begitu, dinamika terus terjadi tiap harinya dengan kisaran antara 80 sampai 85 persen.

Saat ini, Gunungkidul sudah memiliki 152 unit bed penanganan Covid-19. Penambahan terutama terus dilakukan di RSUD Wonosari yang menjadi rujukan utama, selain RSUD Saptosari.

"RSUD Saptosari pun kami usahakan untuk tambah (bed) terus," kata Dewi.

Selain RS rujukan, penanganan pasien positif Covid-19 bergejala juga diarahkan ke shelter yang tersedia. Adapun Pemkab Gunungkidul kini tengah menyiapkan Wisma Wanagama di Kalurahan Banaran, Playen sebagai shelter.

Direktur RSUD Wonosari dr Heru Sulistyowati mengatakan total ada 79 unit bed penanganan Covid-19. Sebanyak 4 unit di ICU Covid-19 dan 75 lainnya di bangsal isolasi.

"Rabu (28/07/2021) sampai pukul 15.30 WIB, BOR ICU COVID 100 persen, yang diisolasi 93 persen," kata Heru kemarin.

Proses penambahan bed hingga optimalisasi tenaga medis pun terus dilakukan oleh RSUD Wonosari. Termasuk upaya meningkatkan kemampuan produksi oksigen, yang dibutuhkan pasien bergejala.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel