Kasus Korupsi Dana Hibah Pilkada, Tiga Staf Bawaslu Ogan Ilir Dipenjara

Merdeka.com - Merdeka.com - Tiga staf Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Ogan Ilir, Sumatera Selatan, ditetapkan tersangka dan ditahan karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dana hibah. Total kerugian negara akibat perbuatan mereka sebesar Rp7,4 miliar.

Ketiga tersangka adalah Koordinator Sekretariat Bawaslu Ogan Ilir, yakni AC dan HM, serta seorang staf operator bidang keuangan inisial RM. Mereka diduga melakukan korupsi dengan modus penginputan kegiatan Bawaslu secara fiktif.

Kasi penkum Kejaksaan Tinggi Sumsel, Mohd Radyan mengungkapkan, kasus ini diproses oleh Kejaksaan Negeri Ogan Ilir sejak beberapa bulan lalu. Setelah memeriksa puluhan saksi dan ditemukan alat bukti cukup, ketiganya ditetapkan tersangka.

"Kejari Ogan Ilir menetapkan tiga tersangka dugaan tipikor dana hibah dari APBD 2019-2020. Modusnya membuat laporan palsu dalam penggunaan dana hibah," katanya di Palembang, Kamis (3/11).

Dia menjelaskan, Bawaslu Ogan Ilir mendapatkan dana hibah senilai Rp19,3 miliar dari pemerintah setempat untuk 2019-2020. Dari hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumsel ditemukan ada sejumlah kerugian negara sebesar Rp7,4 miliar.

"Kami sudah menyita dokumen penting, sedikitnya ada lima ribu dokumen," ujarnya.

Dalam kasus ini, ketiga tersangka dijerat Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-undang tentang tindak pidana korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat ke 1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP. Di dalam pasal itu disebutkan hukuman maksimal 20 tahun penjara.

"Kami masih lakukan pengembangan, tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain," tutupnya. [fik]