Kasus Langka Penyebab Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Dihentikan

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Tim kesehatan administrasi Presiden Joe Biden memberikan keputusan mengejutkan. Mereka menghentikan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson terkait kasus pembekuan darah.

Diketahui, enam wanita di Amerika Serikat telah mengalami pembekuan darah yang sangat langka dan berpotensi mengancam nyawa setelah mendapatkan vaksin virus corona buatan Johnson & Johnson. Masalah yang timbul ini senada dengan yang ada di Eropa terkait dengan vaksin AstraZeneca.

Kekhawatiran peneliti dengan kemungkinan ada kasus pembekuan darah otak lainnya yang tidak mereka ketahui. Pejabat federal yang membuat keputusan untuk hentikan vaksin tersebut mengatakan, tujuan mereka untuk terbuka dan transparan dengan publik serta memastikan penyedia layanan kesehatan agar lebih mengenal efek samping langka yang harus diperlakukan berbeda dari pembekuan darah biasa.

"Kami tahu kami sedang berperang melawan COVID-19, dan kami tahu bahwa COVID-19 adalah musuh yang menghancurkan. Tapi kami juga tahu ketika tindakan medis kami melukai orang, kami tidak memiliki banyak toleransi untuk itu, dan itu cenderung merusak kepercayaan vaksin," ujar direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologi Food and Drug Administration, Peter Marks, dikutip dari laman The Washington.

Tim pemerintah setempat mengatakan, sekitar 1 juta wanita dalam kelompok usia tersebut telah menerima vaksin J&J. Leslie Francis, seorang ahli etika medis di Universitas Utah, mengatakan bahwa risiko khusus dari COVID-19 yang parah untuk kelompok populasi yang berbeda juga harus diperhitungkan dalam keputusan seperti ini.

Vaksin J&J kemungkinkan sedikit meningkatkan risiko pada wanita yang lebih muda. Kelompok itu yang berisiko lebih rendah terkena penyakit dibandingkan bagian lain dari populasi.

"Anda memang harus memikirkan distribusi risiko," kata Francis.