Kasus Meninggal karena COVID-19 di Dunia Lampaui 2,1 Juta, Angka Kematian Manusia Terbesar?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 mencapai angka kematian yang sangat tinggi. Angka kematian total di seluruh dunia hingga 26 Januari 2021 pukul 10.41 menurut laman resmi organisasi kesehatan dunia (WHO) mencapai 2.124.193.

Menurut Pusat Sumber Daya Coronavirus Johns Hopkins. Virus Corona baru telah menyebabkan epidemi global paling mematikan sejak kemunculan HIV/AIDS 40 tahun lalu, dan pandemi pernapasan paling mematikan dalam satu abad.

Melansir Time, sekitar 12 ribu hingga 13 ribu orang telah meninggal karena COVID-19 setiap hari selama seminggu terakhir. Kematian terus meningkat sejak Oktober 2020, ketika sekitar 5.500 orang meninggal setiap hari secara global.

Hal ini juga sejalan dengan cuitan Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM di Twitter peribadinya.

“Saat ini sudah 100 juta kasus COVID-19 di dunia dengan lebih dari 2,1 juta kematian yang merupakan kematian manusia terbesar yang belum pernah terjadi sejak perang dunia,” tulis Zubairi dalam unggahannya dikutip, Selasa (26/1/2021).

Ia berharap, "semoga, vaksin yang menjadi ikhtiar dan disiplin sebagai penentu, membuat Indonesia bebas dari pandemi."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Upaya Global

Jumlah kematian yang mengejutkan akibat COVID-19 meningkatkan urgensi upaya global untuk mendistribusikan vaksin virus Corona.

Di Amerika Serikat dan negara lain, upaya untuk mendistribusikan vaksin terhambat oleh keterbatasan rantai pasokan dan masalah logistik lainnya.

WHO telah berulang kali memperingatkan bahwa diperlukan pendistribusian vaksin secara merata di seluruh negara untuk menghentikan penyebaran pandemi, meskipun 95 persen dari vaksin yang didistribusikan sejauh ini telah dibagikan hanya di 10 negara.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Hans Henri P. Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, Kamis (14/1/2021). Ia menambahkan, mutasi virus yang baru ditemukan, termasuk varian yang awalnya ditemukan di Inggris, mengancam terjadinya peningkatan jumlah kematian.

“Varian Inggris diperkirakan menyebar 70 persen lebih cepat, yang dapat menyebabkan lebih banyak orang yang rentan terinfeksi,” katanya mengutip Time.

Lebih dari 389.000 orang Amerika telah meninggal karena virus tersebut, diikuti oleh Brazil, dengan lebih dari 207.000 kematian, dan India, dengan hampir 152.000.

Upaya mencapai kekebalan kelompok untuk melindungi orang dari COVID-19 melalui vaksinasi masih jauh. Di AS, kurang dari 3 persen populasi yang telah divaksinasi sejauh ini, sementara para ahli memperkirakan bahwa setidaknya 75 persen orang perlu divaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok.

Oleh karena itu, mencegah penambahan angka kematian akibat COVID-19 dengan tinggal di rumah, mengenakan masker, dan menjaga jarak fisik satu sama lain akan membantu.

Infografis Hati-Hati, Ini 5 Gejala Batuk Akibat COVID-19

Infografis Hati-Hati, Ini 5 Gejala Batuk Akibat Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Hati-Hati, Ini 5 Gejala Batuk Akibat Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini: